Wajah Maria, Wajah Sang CINTA

PGP_8148

Dalam sebuah tayangan iklan dimasa lalu terucap bahwa “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya …”. Oleh karenanya begitu pentingnya kesan pertama dalam berbagai peristiwa sehingga ada banyak iklan yang menekankan pentingnya tampil sempurna untuk mendapatkan kesan pertama yang baik. Sadar atau tidak, begitulah kita, manusia jaman sekarang yang hidup di dunia ini. Kita cenderung menilai seseorang terlalu cepat, baik lewat penampilan luar, mewah tidaknya pakaian yang dikenakan, pekerjaan dan sebagainya.

 

Dalam kalangan ke-Katolikan kita, bisakah kitapun mewujudnyatakan bahwa kesan pertama begitu menggoda selanjutnya bagaimanakah ketahanan iman kita. Dalam perjalanan sejarah Gereja sepanjang abad ini begitu banyak orang-orang kudus yang telah dijadikan perantara doa kita kepada Tuhan, salah satunya adalah Bunda Maria. Setiap kali kita datang, masuk dalam ruang dan berdoa kepada Bunda Maria yang berdiri atau dalam berbagai posisi, tentulah kita sejenak  memperhatikan wajah Bunda Maria. Kesan pertama dan selalu dalam ingatan begitu menyejukkan. Tapi ingatlah, kita tidak menyembah berhala, tapi kita menghormati dan menghargai sebagai gambaran sosok agar konsentrasi kita bisa terarah dan tertuju pada Sang Bunda. Bisa jadi, tatapan siapapun kepada Bunda Maria tertarik pada wajahnya. Wajahnya adalah daya pendorong khusus agar kita bisa mudah mengarahkan pikiran dan kitapun bisa dan mampu berdoa dengan baik. Sekali lagi, lihatlah bahwa wajah sang Bunda penuh dengan wajah cinta. Kekhususan kita dalam memandang Bunda Maria juga menambah kerinduan tersendiri bagi siapapun yang mengharapkan adanya kesejukkan diri. Bunda Maria yang syarat dengan ketulusan, keiklasan dan kerendahan hati menjadikan dia seorang wanita yang mengagumkan.

 

Daya Pancar wajah Ilahi

Wajah adalah cerminan diri, ekspresi situasi hati yang dialami saat itu. Sepanjang sejarah wajah Maria adalah wajah yang penuh kekaguman yang penuh dengan daya pikat mistis religious. Wajahnya mencerminkan pancaran yang luar biasa, penuh kerahasiaan dan mengandung pancaran ilahi yang dalam. Tentulah hal ini sangat dipengaruhi oleh keadaan diri Maria dalam menjalani hidupnya yang dengan penuh suka dan duka. Hati Bunda yang amat lemah-lembut ini sepenuhnya adalah cinta dan belas kasihan; ia hanya menginginkan pantulan apa yang dialaminya secara jujur dan terbuka.

 

Keterbukaan dan kedalamam cerminan Maria inilah yang selanjutnya membuat siapapun akan kagum pada identitasnya. Siapapun datang, sambil memohon dan mengagumi kedalaman hidup rohaninya pasti Bunda Maria akan turut menyertai. Wajah Maria tak akan mampu menipu siapapun yang berharap padanya.

Pernah ada salah seorang bekerja sebagai juru parkir, dan dia mati-matian menyembunyikan identitasnya kepada kekasihnya. Pada suatu kali, kekasihnya kebetulan lewat dan melihat wajah kekasihnya sedang mengatur parkir lengkap dengan seragamnya, dan dia pun panik. “Orang tua mana yang mau punya menantu satpam sekaligus tukang parkir?” begitu katanya sambil tersenyum miris. Wajah kekasih sungguh tak mencerminkan kenyataan dirinya dan siapapun tak pernah terbayangkan mau menampilkan wajah sesungguhnya kecuali terpaksa karena situasi dan keadaan dirinya.

Masa paskah adalah saat khusus dimana siapapun akan mendengarkan kisah kebaikan Yesus demi menebus dosa-dosa manusia dan dunia. Yesus dengan muka penuh ketulusan pun harus menanggung ini demi kebahagiaan kita putra putriNya. Kedatangan Yesus adalah untuk menebus sekaligus mengangkat umat manusia dari status hamba menjadi anak.

 

Berdoa butuh konsentrasi diri

Kini tugas kita sebagai pengikut Yesus Kristus adalah mengingat wajah belaskasih Yesus dan juga pasti derita wajah ibundaNya Maria. Apa yang bisa kita renungkan?.Pertama-tama tentu tatapan mata kita akan secara otomatis tertuju pada cerminan wajah nya terlebih dulu. Selanjutnya  sebelum kita berdoa biasakanlah  memperhatikan wajah Bunda Maria. Pancaran tatapan merupakan daya pendorong khusus agar kita bisa konsentrasi dan berdoa dengan baik. Usahakanlah kita menemukan titik kedamaian diri terlebih sambil mencermati wajah sang Bunda yang penuh dengan wajah cinta. Kekhususan kita dalam memandang Bunda Maria akan menambah kerinduan tersendiri bagi siapapun yang mengharapkan adanya kesejukkan diri. Sesungguhnya Bunda Maria syarat dengan ketulusan, keiklasan dan kerendahan hati yang menjadikan dia seorang wanita yang mengagumkan.

 

Kekhikmatan suasana hati setelah mencermati pancaran dari wajahnya akan membawa kita pada penghayatan hati Bunda yang amat lemah-lembut. Hati Bunda Maria itu sepenuhnya hati cinta dan belas kasihan; ia hanya menginginkan kita bahagia. Kini untuk dapat menikmati setiap kali kita datang dan berdoa pada Bunda Maria hanyalah datang kepadanya agar ia mendengar kita. Putra memiliki keadilan-Nya, tetapi Bunda tak memiliki apa-apa kecuali kasih sayangnya. Tuhan begitu mengasihi kita sehingga Ia rela wafat bagi kita; tetapi dalam hati Kristus ada keadilan-Nya, yang adalah atribut Allah; dalam hati Santa Perawan Tersuci, tak ada yang lain selain belas kasihan. Putranya siap menghukum mereka yang berdosa, Maria menengahi, ia menahan pedang keadilan, memohon dengan sangat pengampunan bagi pendosa yang malang. “Ibu,” demikian Kristus berkata kepada Bunda-Nya, “Aku tak dapat menolak apa pun permohonanmu. Bahkan jika neraka bertobat, engkau akan beroleh pengampunan baginya.”

 

Wajah Maria, wajah Sang Cinta semakin tergambarkan pada hati Santa Perawan Maria Tersuci, sebagai karya tangan-Nya yang paling agung; sama seperti kita selalu senang akan karya kita sendiri, terlebih apabila hasilnya sungguh baik. Putra bersukacita atas hati Bunda-Nya, sumber darimana Ia mendapatkan Darah-Nya yang telah menebus kita. Roh Kudus bersukacita atas Bait-Nya. Para nabi mewartakan kemuliaan Maria sebelum kelahirannya; mereka memperbandingkannya dengan matahari. Sungguh, kehadiran Santa Perawan dapat diperbandingkan dengan seberkas sinar matahari yang cemerlang di pagi yang berkabut.

 

Percayalah akan kisah hidupnya dan menjadi sebuah penghayatan perjalanan iman yang sejati dalam Gereja bahwa sebelum kedatangan Maria, murka Allah menggelantung di atas kepala kita bagaikan sebilah pedang yang siap menebas kita. Segera setelah kehadiran Santa Perawan di dunia, murka-Nya reda…. Maria tidak tahu bahwa ia akan menjadi Bunda Allah. Ketika masih kanak-kanak, ia biasa berkata, “Bilakah aku memandang ciptaan agung yang akan menjadi Bunda Allah?” Santa Perawan dihadapkan kepada kita dua kali: dalam Inkarnasi dan di kaki salib; dengan demikian ia Bunda kita dua kali lipat. Santa Perawan seringkali diperbandingkan dengan seorang ibu, namun demikian ia tetap jauh lebih mengagumkan daripada seorang ibu terbaik sekalipun; sebab ibu terbaik kadang-kadang menghukum anaknya apabila anaknya itu mengecewakan hatinya, dan bahkan menghajarnya: ia pikir ia melakukan hal yang tepat. Tetapi, Santa Perawan tidak melakukan itu semua; ia begitu lembut hati hingga ia memperlakukan kita dengan penuh kasih sayang dan tak pernah sekali pun menghukum kita.

 

Pancaran kharisma diri

Oleh karenanya, doa yang sering kita ucapkan yaitu Salam Maria atau Ave Maria adalah doa yang tak pernah membosankan. Devosi kepada Perawan Tersuci begitu nikmat, begitu manis dan begitu menyegarkan jiwa. Apabila kita membicarakan masalah-masalah duniawi atau politik, kita akan merasa bosan; tetapi apabila kita membicarakan Perawan Tersuci, kita akan selalu bersemangat. Terlebih usahakanlah kita pun tetap menatap wajahnya sebagai wajah sang Cinta. Dengan demikian semua orang kudus memiliki devosi yang mendalam kepada Bunda Maria; tak ada rahmat datang dari surga tanpa melalui tangan-tangannya. Kita tak akan dapat masuk ke dalam rumah tanpa berbicara kepada penjaga pintunya; nah, Perawan Tersuci adalah penjaga pintu Surgawi.

 

Secara sederhana mungkin kitapun mengalami apabila kita hendak menyampaikan sesuatu kepada seorang tokoh yang kita hormati, kita menyampaikannya melalui orang yang dekat dengannya, agar pemberian kita itu berkenan padanya. Demikian juga doa-doa kita akan memperolehkan manfaat yang berbeda apabila disampaikan melalui Bunda Maria, sebab ia adalah satu-satunya makhluk yang tidak pernah menghina Allah. Perawan Tersuci seorang saja yang memenuhi perintah pertama – mengagungkan Tuhan saja dan mengasihi-Nya dengan sempurna. Ia melakukannya dengan sempurna tanpa cela.

 

Segala yang diminta Putra dari Bapa diberikan kepada-Nya. Segala yang diminta Bunda dari Putra, demikian juga, diberikan kepadanya. Jika kita menggenggam sesuatu yang harum, maka tangan kita akan mengharumkan apa saja yang disentuhnya: biarlah doa-doa kita melewati tangan-tangan Perawan Tersuci; ia akan mengharumkan doa-doa kita. Inilah kekhasan kita disaat kita selalu berdoa khususnya pada Bunda Maria. Yakinlah doa-doa kita akan membuahkan berkat. Namun tetap mengingat bahwa kehendak Tuhan lah yang menjadi kerinduan kita dan bukannya kehedak kita semata. Sama seperti pengalaman Bunda Maria sendiri, awalnya Maria pun, kendati tidak memahami semua peristiwa ini, namun ia segera melakukan tugas penyertaannya dalam karya keselamatan Allah. Semoga dengan selalu memandang wajah Maria sebagai wajah sang Cinta, kitapun senantiasa diajak untuk meneladani Maria sebagai perantara, sekaligus model kehidupan kita yang sedang kita jalani dan perjuangkan ini. Selamat berdoa, selamat berdevosi kepada Bunda Maria dan selamat menjadi saluran rahmat bagi siapapun. Tuhan memberkati.

 

oleh,

Pst. S. Budi Saptono,OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*