KEBANGKITAN: Menghidupkan Kembali Panggilan Kristiani

pusty_grob

Dalam buku “Kehidupan layak Dihidupi”, Mgr. Fulton J. Sheen melontarkan pertanyaan,”Bagaimana kita mengetahui adanya kebangkitan? Hanya karena  Gereja ada di sana” Siapa yang dimaksud dengan Gereja? Gereja itu adalah para Rasul. Para Rasul menjadi saksi kebangkitan Yesus. Rasul Thomas, seorang peragu,  termasuk di dalamnya. Sekalipun Thomas peragu, ia percaya. Thomas percaya atas nama semua orang yang tak melihat, tetapi ia menerima kesaksian dari orang-orang yang dianugerahi untuk mengalami peristiwa kebangkitan itu. Para rasul yang menyaksikan/mengalami/mempercayai peristiwa kebangkitan itu kemudian berpartispasi mewartakan Kabar Sukacita itu kepada semua bangsa, ke segala penjuru dunia.

Yesus Sang Utusan: membawa kabar sukacita

Kehadiran Yesus di tengah dunia dan dalam kehidupan manusia tidak terjadi begitu saja atau secara tiba-tiba. Kehadirannya sudah dinubuatkan oleh para Nabi. Para Nabi adalah orang yang diberi anugerah oleh Allah untuk menyampaikan kehendaknya kepada manusia. Oleh sebab itu, warta para Nabi adalah kebenaran yang berasal dari Allah sendiri. Para Nabi bukanlah peramal ata para normal yang mengira-ngira atau menerka-nerka. Ucapan para nabi adalah kepastian, bukan ramalan. Utusan Allah tidak mewartakan sesuatu yang tak pasti. Inkarnasi Allah melalui Yesus Kristus adalah kepastian yang telah diwartakan beratus-ratus tahun sebelumnya oleh para Nabi. banyak orang bericara atas nama Allah, tetapi belum tentu berbicara dalam Allah. Banyak orang menyatakan diri sebagai utusan Allah, tetapi hal itu tidak lantas jadi kebenaran.

Mgr. Fulton J. Sheen mengatakan ada tiga “ujian” untuk mengukur apakah seseorang itu sungguh datang dari Allah atau bukan. Pertama, siapapun yang datang dari Allah harus didahului pemberitahuan tentangnya. Kedua, Allah akan memberikan kepadanya kekuasaan tertentu untuk melakukan pelbagai hal yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Ketiga, ajaran yang dibawa tidak boleh bertentangan dengan akal budi/akal sehat manusia.

Bila kita menjumpai atau menemukan orang yang menyatakan dirinya sebagai utusan Allah, maka tiga kategori di atas dapat kita gunakan sebagai alat pengukur. Bila kategori diatas kita sematkan pada Yesus, iman kita makin dikuatkan bahwa Yesus adalah Allah yang tinggal diantara kita. Kehadiranhya telah dinubuatkan sebelumnya. Yesus berkuasa mengampuni dosa-dosa kita. Yesus berbicara dan bertindak yang sama sekali tidak berlawanan  dengan akal sehat. Allah pencipta alam semesta itu menghampiri ciptaannya dengan tujuan supaya kemuliaan ciptaan tetap terjaga: yang rusak diperbaiki, yang sakit disembuhkan, yang lumpuh bisa berjalan, yang buta bisa melihat, yang berdosa diampuni, yang hilang dicari, yang lapar dan haus diberi makan dan minum, yang bodoh diajari, dll. Inilah sikap “normal” seorang pencipta pada ciptaannya sendiri. Seperti seorang ayah dalam memperlakukan anak-anaknya.

Sang Utusan datang bukan untuk membuat sensus dan pemisahan: yang baik dan buruk dipisahkan lalu dipilih. Tetapi yang dilakukan adalah yang tidak baik, karena berbagai alasan, dibuatnya menjadi baik. Seorang bapak yang baik adalah mensyukuri anak-anaknya yang baik dan menuntun anak-anaknya yang tidak baik supaya kembali menjadi baik. Inilah kerahiman, inilah belaskasih. Allah yang kita imani adalah Allah yang rahim, berbelaskasih. Allah yang terlihat dan terjamah dalam diri Yesus Kristus.

 

Karya Yesus: dipuja dan dihujat

Yesus memberitahukan visi dan misiNya dengan perbuatan dan pengajaran. Pertama-tama Yesus memanggil para murid (Mat 4: 18-22). Yesus melibatkan manusia sebagai rekan untuk membangun Kerajaan Allah. Setelah memanggil para murid, Yesus Yesus mengajak mereka berkeliling di Galilea untuk memberitahukan apa yang harus dikerjakan. Ia mengajar di rumah-rumah ibadat dan mewartakan Injil Kerajaan Allah: Yesus melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Yesus datang untuk membebaskan manusia dari belenggu penderitaan dan dosa dan kuasa dosa (Mat 4: 23-25). Inilah misi Yesus. Inilah tujuan para murid dipanggil. Kabar sukacita itu adalah pembebasan manusia dari penderitaan karena berbagai sebab.

Namun para murid dipanggil bukan untu menjadi “buruh”. Mereka bukan bayaran. Maka Yesus mengajarkan soal sikap yang musti dimiliki para murid (Sabda Bahagaia, Mat 5:1-12). Para Murid musti punya sikap rendah hati, tobat, percaya, cinta kebenaran, murah hati, tulus, cinta damai, rela berkorban, mengabdi tanpa pamrih dan tanpa takut ancaman, bersukacita karena ikut mewartakan kabar gembira.

Sikap-sikap ini sungguh diteladankan oleh Yesus dalam karyaNya. Apa reaksi orang banyak? Yang terbebaskan bersikap memuja, yang terusik bersikap menghujat. Kabar Gembira tidak selalu mendapatkan sambutan yang yang baik, tetapi juga punya resiko dibenci. Kabar gembira sering disambut dengan dua ekspressi: memuja dan menghujat.

Sabda Bahagia, sikap dasar yang musti dimiliki para murid, akan menjadi kekuatan bagi mereka supaya tidak menyerah atau putus asa dalam karya kerasulan. Penderitaan yang diterima karena ambil bagaian dalam karya pewartaan kabar gembira adalah rahmat, adalah keuntungan.

 

Yesus: menderita, wafat dan bangkit

Sepak terjang kerasulan kabar gembira Yesus mencapai klimaks dalam penderitaan, wafat dan kebangkitanNya. Mengapa warta pembebasan justeru disambut dengan kemarahan, kedengkian, bahkan kekejaman oleh sebagian manusia? Normalnya disyukuri. Tak ada mansuia yang mau terpasung dalam penderitaan. Namun inilah warna-warni hidup manusia. Manusia, dengan akal budi dan kebebasan yang dimilikinya, memiliki kebebasan untuk merespon segala hal yang dia temui dalam hidupnya. Manusia: bebas menerima, bebas menolak; bebas untuk berterimaksih, bebas untuk mendiamkan; bebas untuk menysukuri, bebas untuk memaki.

Kebebasan yang dianugerahkan kepada manusia, tidak selalu digunakan untuk hal yang baik. Bahkan kebebasan seringkali digunakan hanya untuk memenuhi nafsu kuasa. Segala hal yang merintangi keinginan akan kuasa tersebut dibumihanguskan tanpa pertimbangan cintakasih dan rasa hormat serta syukur akan sang Pencipta. Yesus menjadi korban kebebasan manusia. Yesus menjadi korban nafsu kuasa manusia.

Ketika Yesus ditangkap dengar berbagai tuduhan, Yesus dihadapkan pada pengadilan. Yesus diadili dihadapan empat hakim: Hanas dan Kayafas, Pilatus dan Herodes. Hanas dan Kayafas adalah hakim agama Yahudi. Pilatus dan Herodes adalah hakim sipil penjajah romawi. Pilatus adalah seorang romawi dan orang kafir. Herodes adalah seorang Edomit ( turunan Esau yang menukar hak anak sulung dengan sup merah).

Apa pesannya bila Yesus diadali oleh hakim agama Yahudi dan Hakim Sipil? Penderitaan yang terjadi dalam orang-orang yang diselamatkan oleh Yesus tak terlepas dari andil dari hakim agama dan hakim sipil. Disamping itu, kehadiran Yesus membuat para imam Yahudi merasa terancam: kehilangan umat berarti kehilangan materi. Hakim sipil (penjajah romawi) juga merasakan terancam: kehilangan rakyat berati kehilangan kuasa, kehilangan budak, kehilangan pajak. Maka kita bisa mengerti mengapa mereka begitu bernafsu untuk membunuh Yesus. Yesus adalah ancaman untuk para pemburu kuasa dan materi, para pemeras, para penindas.

Resiko teraniaya dan terbunuh diterima oleh Yesus tanpa perlawanan. Sebab Ia adalah Allah: Manusia sering menghujat Allah karena keinginannya tak terpenuhi, namun Allah tak pernah menghujat ciptaanNya sendiri seperti apapun keburukannya.

Allah tak bisa dikalahkan oleh kehebatan ciptaanNya. Sekalipun Allah menjadi “korban” kehebatan ciptaanNya, Allah tetap menang: Yesus memang disalibkan, wafat dan dimakamkan tetapi Yesus bangkit dari kematian. Kejahatan, kebusukan, kebobroakan manusia tak pernah bisa mengalahkan Allah. Yesus, Allah yang berinkarnasi bangkit dari kematian. Allah tak berhenti menyelamatkan oleh kejahatan manusia. Ia tetap hadir dan bekerja. Melalui pencurahan Roh Kudus, para Rasul melanjutkan karya kabar gembira. Gereja meneruskannya. Seluruh umat yang percaya melanjutkan karya kabar kegembira tersebut.

Thomas menjadi salah satu tokoh menarik dalam peristiwa kebangkitan. Ia awalnya ragu-ragu akan kebangkitan Yesus. Tetapi kemudian percaya mengikuti kepercayaan para rasul lainnya. Thomas tak sekedar berubah dari peragu menjadi percaya, Thomas kemudian aktif, berpartisipasi dalam pewartaan. Sebagaimana Sang Guru menjadi martir, rasul lainnya menjadi martir. Thomas pun menjadi martir. Pertanyaannya adalah “apakah kita juga masih mau menjadi martir dalam pewartaan kabar gembira dijaman ini?” Bila kita tak mau menjadi martir, dengan berbagai alasan dan pembelaan diri, paling tidak kita diajak untuk jangan menjadi pembawa kabar dukacita bagi sesama. Mari kita “ber-paskah”, menyeberang dari kegelapan tingkah laku kita. Menyeberang menjadi pribadi “garam dan terang”: garam memberi rasa yang enak, terang itu menerangi yang membuat semua tampak. Lawan dari terang adalah gelap. Apakah aku pembawa kegelapan?

Selamat mensyukuri Paskah.

 oleh :

Pst. Sangker Sihotang, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*