Gaduhnya Kehidupan Orang Muda ?

Pope_Francis_at_WYD_in_Poland_2016_Credit_Marcin_Kadziolka_Shutterstock_CNA

Itulah judul yang dipesan redaktur Summa untuk tulisan kami. Susah juga memahami maksudnya. Tampaknya diandaikan saja bahwa ada kegaduhan (keributan!?) di antara orang muda. Padahal di zaman now, bukankah Jokowi sering kali minta agar “Jangan ada kegaduhan di antara kita,” dan tapi di pihak lain kaum muda sendiri berkata Jokowi jangan membungkam kami.”  Tapi sudahlah, itu konteksnya lain.

Kalau “kegaduhan” itu metafor, kiasan, penanda adanya gerak/dinamika di kalangan orang muda, maka kegaduhan itu justru sesuatu hal yang sudah seharusnya ada; perlu menjadi ciri orang muda. Kegaduhan di situ wajar, menunjukkan adanya denyut kehidupan. Sebaliknya, kalau tidak ada gerak, tak ada dinamika di kalangan mereka, dunia jadi sepi, lesu, masa depan pun suram bagi dunia kini dan bagi Gereja di masa depan. Tapi, tentu dengan catatan: ‘kegaduhan’ (gerak/dinamika) yang dimaksud bukanlah yang sembarang, melainkan yang terarah kepada hal yang positif konstruktif demi pengembangan pribadi yang makin dewasa.

 

Sekarang, kita lihat: Siapa orang muda itu? Ilmuwan, apalagi awam, dari dulu sampai sekarang, mendapati kesulitan menentukan batas yang jelas siapa orang muda itu. Namun, tanpa merujuk pada arti dan teori rumit beraneka tapi saling mengisi [antropologis, psikologis, sosiologis dst], dapat ditegaskan: Orang muda itu, ibaratnya: buah pentil bukan, buah matang juga belum. Jelas, kan? Mereka itu bayi/kanak bukan, tapi dewasa juga belum. Mereka itu sedang dalam masa transisi (peralihan) dari muda ke alam dewasa, dari sikap bergantung ke sikap tidak bergantung kepada orangtua.

Kira-kira berapa umurnya? Di Abad Pertengahan, anak berumur 13 tahun saja dianggap sudah dewasa. Artinya, mereka harus sudah mulai terpisah dari orangtua, belajar mandiri. Sedangkan, Perserikatan Bangsa-bangsa [PBB] menentukan, orang muda adalah mereka yang berumur antara 15 s.d. 24 tahun. Di kalangan Katolik sendiri, ada wacana, bahwa orang muda itu berumur antara 13 s.d. 35 tahun. Itulah umur mulai dari siswa SLTP, SLTA, PERTI. Itulah umur untuk studi, yang jadi tanggungjawabnya utama, untuk menyiapkan diri ke dunia kerja dan rumah tangga.

Bagaimana ciri-ciri orang muda? Umumnya mereka adalah orang yang senang dan terdorong menjalin relasi, ingin disayang dan menyayangi, ingin diakui/diterima seadanya baik oleh orangtua, teman, ataupun pasangan. Tapi dalam mengusahakan itu, karena masih sedang belajar mengendalikan diri, pendirian dan emosi [gerak perasaan] belum stabil, perasaanya dapat cepat berubah saat melihat apa yang tak sesuai harapan, jadi: marah, melawan, kejam, kecewa, ataupun merasa tak berguna. Melawan konvensi: * Kalau sewaktu SD anak manis tertib mengenakan topi dengan pet terarah ke depan, di saat remaja ia berontak: topinya dikenakannya dengan pet terarah ke belakang. Di situ ia merasa bangga, gagah, mandiri. ** Menurut ajaran resmi Perintah Allah itu ada 10, tapi kata orang muda ada 11. Kreatif toh? Ya, tapi ……

Dengan gejolak perasaannya yang sering cepat turun naik (emosi), belum ajeg, (labil): senang-sedih, ceria-putusasa, happy-kecewa, lesu-semangat, begitulah orang muda, remaja khususnya, berusaha membangun relasi demi pembangunan citra diri hingga hidup dirasa berarti. Dalam kondisi seperti itulah, maka maklum, kalau orang muda menyambut antusiastik produk teknologi (komunikasi dan transportasi). Lihat: diri merasa bearti bila meneteng gawai (gadget) dan mengangkangi sepeda motor. [Pernah ada berita, seorang remaja tega membunuh nenek yang tinggal bersamanya, hanya karena kecewa neneknya tidak bersedia membelikannya sepeda-motor].

Pindah tempat tinggal dapat menambah masalah, khususnya bagi orang muda kampung yang kemudian kerja/studi di kota besar. Dalam kondisi emosi dan pendirian masih labil, nilai/pola perilaku dari budaya tradisi dulu pada saat tinggal di kota gampang jadi longgar, bahkan ditinggalkan. Sementara itu di kota sendiri mereka belum berakar pada budaya halus (sophisticated). Kalau begitu itu, mereka menjadi bagian masyarakat terapung [floating mass], hal yang tidak diharapkan. Cirinya? Mereka mudah ‘kepincut’ oleh budaya massa/kasar dari masyarakat hedonistic/konsumer-istik di kota, yang hanya menawarkan saluran pemuasan sesaat naluri paling dasar ma-nusia, yakni: glamour, sex, violence. [Gilang-gemilang, sex, kekerasan]. Mereka, disesalkan, dapat menjadi mangsa empuk pemodal kuat yang mengeduk keuntungan dari kondisi masyarakat terapung yang mudah tergiur itu, lewat iklan mereka. Jelas, kondisi begitu tidak subur untuk pembinaan diri yang mendewasakan. Tapi ada harapan ……

Orang muda punya potensi besar untuk maju: Karena budaya studi-nya, mereka makin mampu berpikir kritis keadaan, makin tepat menilai, menimbang baik buruk; perhatiannya akan masalah-masalah sosial, kepekaannya akan yang benar dan adil, idealism dan potensinya untuk bersikap jujur dan tulus, rasa tanggung-jawabnya untuk menjaga diri, minatnya pada seni (sastra, musik), dan organisasi, … itu semua menjadi penanda adanya hasrat besar untuk menumbuhkan budaya halus, yakni adat orang beradab, yang dapat menyiapkan mereka untuk sungguh dewasa, bertanggung-jawab dan mandiri.

Nyatanya label orang muda, di kita juga, adalah orang Kristiani/Katolik. Itulah ciri lain (formal) yang melekat. Apakah nilai-nilai Kristiani yang mereka kenali sejak awal ini sungguh dihayati. Kalau konsekwen, harusnya nilai-nilai itu mengawal proses menuju ke kedewasaan. Tidak cukup mereka menjadi pribadi dewasa (insani) emosi, mental, sosialnya saja. Pembinaan watak yang diresapi nilai-nilai Kristiani, sebagai konsekwensi dari semangat Baptisan yang diterima, yang memberi mereka status sebagai murid Kristus, pasti menyuburkan budaya halusnya makin menjadi insan dewasa dan Kristiani.

Dalam lagunya, seorang Pastor (Alm.) melukiskan sosok orang muda: “Aku muda riang-gembira, penuh harap serta cinta.” ‘Kegaduhan’/dinamika hidupnya, semoga terwujud dalam keriangan, meski jelas itu disaput gejolak rasa antara harapan dan kekecewaan dalam meraih hidup yang dicita-citakan. Dalam kemudaannya mereka sedang mencari-cari apa yang berarti dalam hidup. Sering mereka menemui hambatan dalam diri ataupun lingkungan. Dialami kegalauan dan kegagalan dan perjuangan berat menahan dorongan (pemuasan hasrat sesaat), tapi di pihak lain besar keinginannya meraih hidup yang luhur dan berarti. Diharapkan mereka tangguh menepisnya, dengan berusaha setia dan tekun menumbuhkan potensi kreatif diri dan menemukan ranah subur untuk menumbuhkan budaya halus/luhur/religius.

Selain di kampus dan di rumah, segala sarana/kegiatan rohani di sekitar Gereja (Misa, Pengakuan, Ibadat-ibadat, kelompok doa/koor, organisasi sosial-karitatif, tempat dan sarana, Seksi-seksi dalam DPP, dll) dapat menjadi wahana yang membantu orang muda tumbuh sehat dengan diresapkannya nilai-nilai Kristiani, khususnya nilai-nilai: iman, harapan, dan kasih. Identitasnya yang tegas sebagai pengikut Kristus itu bila dicapai, tidak akan membuat orang muda layu sebelum matang, sebaliknya akan menghasilkan pribadi dewasa yang tangguh dalam mengarungi aneka pasang-surut gelombang kehidupan. Semoga! ***

 

Bandung, Prapaskah 2018

[ Th. Maman-Suharman, OSC ]


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*