Hidup di Antara, atau di Dalam Fakta dan Kata

Exposing-a-Hypocrite-When-No-One-Else-Sees-ItKadang-kadang kita terkejut ketika mendengar bahwa tokoh Gereja atau masyarakat ternyata tidak sebaik seperti yang kita duga dan harapkan. Wejangan-wejangan mereka selalu berbobot. Mereka sering berziarah, selalu duduk di baris depan di  tempat ibadat. Mereka mungkin dekat pada pimpinan Gereja atau pemerintahan. Tetapi….sekarang mereka diperiksa oleh KPK. Ya…..… ternyata mereka itu orang yang bermuka dua.

Pada zaman Yesus, masalah yang sama sudah ada. Justru para tokoh agama Yahudi, para Farisi, yang menjalani kehidupan ganda. Mereka dimarahi dan dicela oleh Yesus. Pada waktu itu Yesus berkata, “Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya (Mat 23: 3). Orang-orang yang kelihatannya baik ternyata munafik, gadungan dan palsu, selalu memakai kedok, mereka berpura-pura. Itulah tentang “mereka”.

Di sisi lain, salah satu beban berat dalam hidup kita adalah gambaran yang dimiliki orang lain terhadap diri kita. Kalau tidak hati-hati, kita dapat “diperbudak” harapan-harapan itu. Misalnya, orang lain memandang kita sebagai “orang saleh”, “orang suci”. Mungkin karena dalam pertemuan lingkungan kita dapat memberi sharing yang mengesankan; atau kita mudah bicara tentang kehadiran Allah, atau karena kita aktif di pelayanan gereja, dan sebagainya. Kita seolah “dipaksakan” atau mau tidak mau hidup seperti gambaran itu. Misalnya selalu harus memimpin doa, selalu mesti memberi renungan, selalu mesti siap melayani berbagai kebutuhan di paroki.

Meskipun kita melakukan banyak hal yang terpuji, yang indah, tetapi orang lain belum tentu tahu hati kita. Mereka tidak tahu cara hidup kita di rumah atau di tempat kerja.  Apakah hidup kita sudah sesuai dengan kata-kata indah dalam renungan yang kita sampaikan, ataukah sesuai dengan  pelayanan-pelayanan yang kita lakukan di paroki kita?

Setiap pastor pun bisa stress karena hal itu. Pastor, karena panggilannya (profesinya) selalu  mesti memberi renungan, berkhotbah, memimpin doa. Padahal ia sendiri tahu bahwa hidupnya tidak senantiasa sesuai dengan apa yang ia wartakan, atau dengan apa yang ia ucapkan dalam doa, amanat dan ajarannya. Gejala kemunafikan selalu  bisa membayang-bayanginya. Begitu pula dengan para pendidik, orang tua, guru-guru, polisi, hakim, tokoh Gereja dan masyarakat, siapapun dapat hidup bermuka dua, tidak jujur dan berkedok.

Baru saja saya mendengar cerita dari seorang anak, “Saya sering dimarahi papa karena selalu menggunakan HP-ku, juga ketika makan bersama. Tetapi papa dan mama juga selalu memakai HP-nya ketika mereka berdua makan. Atau kalau makan di restoran dan sudah memilih mejanya, mereka langsung  memakai HP lagi. Lalu mengapa aku dimarahi ketika berbuat hal yang sama? Tidak jujur, tidak fair!”

Harapan-harapan orang lain dapat membuat kita tergoda hidup tidak sesuai jati diri kita sendiri. Dengan singkat dan tegas: kata-kata kita bisa saja muluk-muluk, tetapi perbuatan kita (di dalam lingkungan hidup pribadi kita, di luar pandangan orang banyak) bisa saja jelek dan berbeda dengan kata-kata itu. Kita sering mengatakan atau melakukan hal yang sebetulnya berlawanan dari apa yang kita katakan. Kita menjadi “orang Farisi”.

Bagi kita orang Kristen, Kristus ada di dalam pusat diri kita. Dan Dia adalah Roh Kebenaran yang membebaskan. (Terdapat banyak contoh dalam Injil, bagaimana pertemuan dengan Kristus membebaskan orang  dan mereka bertemu kembali  dengan jati diri mereka, lepas dari segala kemunafikan dan kepura-puraan, lepas dari keterasingan mereka). Kalau kita berusaha untuk mendekati Dia dalam meditasi dan doa, dalam membaca dan merenungkan firman-Nya, maka kita pun bisa lepas dari keharusan dan paksaan untuk menjadi sesuai dengan gambaran orang lain tentang diri kita. Kita tik usah “bermain sandiwara” lagi, kita dapat menerima diri kita apa adanya tanpa semua hiasan yang dibuat-buat agar dianggap hebat oleh orang lain. Kita mau “hebat” di hadapan Kristus. Kita mau hidup jujur, sambil menyadari kebaikan maupun kekurangan kita.

Semoga dengan demikian “fakta-fakta”, yaitu perbuatan-perbuatan nyata dalam hidup kita memang merupakan cermin dari kata-kata baik kita dan tidak ada jurang lagi antara kata dan fakta,  melainkan saling melengkapi dan menjadi satu kesatuan yang indah dan menarik. Seperti halnya dalam hidup Yesus Kristus. Salam persaudaraan.

 

oleh :

Pst. Fons Bogaartz, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*