Komunitas Basis : Langkah Menatap Masa Depan Sungguh & Tangguh

tepat-pilih-asuransi-jiwa-untuk-dana-pendidikan-masa-depan-anak-cerah-dan-ceria_20151116_000232 Setelah setahun kita memfokuskan diri pada gerak pastoral tahun keluarga yang bersekutu dalam Komunitas Basis Gerejani, kini saatnya kita melihat kembali langkah dalam sebuah permenungan akhir tahun.  Apakah Komunitas Basis entah di Paroki, lingkungan, wilayah, komunitas-komunitas serta keluarga-keluarga makin mantap memberikan gerak langkah dalam menatap masa depan yang sungguh tangguh atau tidak. Khususunya bagi keluarga sebagai bagian unit terkecil dalam kehidupan sosial?

 

Pada dokumen dasarnya, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Katolik, Konsili (pertemuan) yang biasanya diselenggarakan untuk mengambil keputusan menyangkut masalah doktrin, administrasi atau aplikasi menyebut keluarga sebagai “Gereja setempat”. Ini berarti bahwa keluarga mempunyai “pemberian khusus di antara hamba Tuhan”. Melalui Gereja, rahmat yang besar datang kepada pribadi-pribadi dalam persekutuan. Idealnya, suami dan istri mengambil bagian dari kesatuan itu dan membuahkan cinta kasih yang hidup dalam Kristus. Orang tua harus mengajar dan menyampaikan pesannya kepada anak-anak mereka. Dalam hal ini keluarga mengisi peraturan yang spesifik dan unik dalam pekerjaan yang sulit dalam membawa persatuan di dunia.

 

Di era modernisasi dan kecanggihan teknologi, masihkah keluarga Katolik menjadi tempat yang menyejukkan? Keluarga Katolik adalah pewarta injil dan pengajar agama yang pertama dan utama. Pendidikan iman, sukacita, kemurnian dan keutamaan-keutamaan Kristiani lainnya, serta pendidikan seksual yang sehat harus dimulai dari dalam keluarga. Cakrawala pandangan keluarga Katolik tidak boleh sempit dan terbatas hanya pada lingkungannya sendiri. Seluruh keluarga Katolik harus saling memperhatikan. Keunggulan dan keutamaan haruslah menjadi cita-cita bersama sehingga kini tugas keluarga-keluarga masa mendatang adalah memberikan kesaksian tentang nilai-nilai kristiani yang baik, benar dan tepat. Jika setiap keluarga ikut memajukan kesejahteraan lahir batin dan keadilan sosial serta siap sedia membantu orang miskin dan tertindas, niscaya sukacita akan menyertai bahkan mengiringi setiap langkah perkembangan dunia yang lebih hidup.

 

Sebentar lagi kita akan mengakhiri tahun 2017 dan Gereja Katolik menatap tahun 2018 dengan mengusung tema Keluarga saling Berbagi (Peran dan Keterlibatan Keluarga dalam Masyarakat), namun baiklah jika kita melihat sejenak, bagaimana tema 2017 tentang Keluarga Bersekutu dalam Komunitas Basis Gerejani menyentuh siapapun keluarga-keluarga yang merindukan adanya waktu bersama. Diyakini bahwa hidup berkeluarga sebagai panggilan atas titah Tuhan seperti dalam Kitab Kejadian adalah begitu luhur. Diawal penciptaannya, Tuhan menciptakan manusia sebagai pria dan wanita menurut citra dirinya dan berfirman kepada mereka, “beranak cuculah dan bertambah banyak penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segalah binatang yang merayap di bumi (Kej : 1 : 26-29)”. Tuhan menciptakan manusia, pria dan wanita sebagai patner yang berarti pria dan wanita itu memang berbeda secara biologis maupun psikologis, namun dengan perbedaan itu bisa saling melengkapi dan membutuhkan satu sama lain. Keduanya sama derajatnya. Inilah persekutuan komunitas basis yang semestinya menjadi gerak keluarga-keluarga Katolik. Oleh karena itu, hidup berkeluarga merupakan sebuah panggilan, maka Gereja Katolik turut mengambil bagian dalam membina keluarga-keluarga menuju kemandirian mencapai kesejahteraan lahir dan batin.

 

Kini baiklah kalau kita sendiri dalam sebuah paroki juga melihat situasi dan kondisi keluarga-keluarga yang ada dalam lingkungan dan wilayah kita masing-masing. Paroki St. Laurentius berkembang dengan areal perumahan yang makin mengarah ke barat dan utara, mungkin juga umat-umat yang tinggal di apartement belum terjangkau secara data. Ini sebuah tantangan tersendiri.

 

Permasalahan yang dihadapi oleh keluarga-keluarga makin bervariatif, dari hal ekonomi, perubahan perilaku, status, latar belakang, tak sesuai dengan indahnya harapan perkawinan, mudahnya untuk lebih baik memilih dan mengatakan pisah tapi secepat kilat bisa mengalihkan perhatian pada rasa sayang pada yang lain. Keluarga-keluarga makin memilih mana suka dibandingkan menumbuhkan kewajiban sebagai sebuah keharusan sosial dari hidup berkeluarga. Anak-anak tidak mengenal tetangga, hanya mengenal lingkungan sekolah dan tidak ada waktu untuk bersatu dengan lingkungan gereja.

 

Kini, tengoklah ke dalam pribadi, komunitas, keluarga-keluarga kita. Sejauh manakah mampu mempersiapkan diri untuk menatap masa depan yang sungguh dan tangguh. Ketangguhan dan kesungguhan sangat bergantung dari kualitas hidup kita. Dari pengalaman, ada beberapa tantangan yang lebih menjadi sarana permenungan kita, terlebih dalam situasi jaman sekarang ini yang harus lebih diperhatikan. Paling tidak ada lima tantangan yang harus disingkapi.

 

1. Persaingan. Sadar atau tidak, persaingan ada dan tumbuh dalam diri kita sejak kita kecil dan membayangi hidup kita. Dari perebutan kasih sayang, hingga pada persoalan di dunia bisnis, di kantor, di jalanan termasuk di dunia hiburan. Banyak keluarga muda tidak siap untuk menjadi orangtua bagi anak-anak mereka, sehingga mereka berlaku tidak adil terhadap anaknya. Anak-anak jadi terbiasa berlaku pura-pura demi memperebutkan perhatian orangtuanya. Persaingan muncul tidak pandang bulu. Pertanyaannya, apa buruknya dari sebuah persaingan? Persaingan yang sehat tentu membawa hasil yang baik. Tetapi sebaliknya jika persaingan itu didominasi oleh ambisi dan ketinggian hati, maka persaingan akan membawa seseorang pada tindakan kejam, sarkastis dan akhirnya menimbulkan banyak korban. Padahal peneladanan Kristus berbeda sama sekali dengan hal tersebut. Apa perbedaan teladan Kristus dengan maraknya persaingan yang ada di zaman ini?

 

2. Harga Diri. Persoalan keluarga harus dicermati secara serius karena harga diri menjadi penyebabnya. Sayangnya, dunia ini pun menghargai seseorang dengan hal-hal lahiriah. Rupanya, materi ikut berbicara, memberi andil bagi keputusan berharga atau tidaknya seseorang. Semoga dan jangan sampai itu terjadi juga di Gereja atau rumah kita. Inilah tantangan keluarga Kristiani abad kinidi, di mana keutuhan keluarga perlu diupayakan melalui sikap saling menghargai dan bukan karena masing-masing anggota keluarga menonjolkan harga dirinya masing-masing. Ingat relasi kita dengan Tuhan dan relasi kita dengan anggota keluarga sangatlah penting. Tuhan mengharapkan agar sesama anggota keluarga saling menolong dan melengkapi satu dengan lainnya. Istilah menolong mengandung makna kesediaan untuk merendahkan hati, turun menyodorkan tangan bagi mereka yang lemah. Yang lemah diangkat oleh yang kuat. Itu berarti ada upaya turun ke bawah seperti Yesus yang kuat dan berkuasa turun menjadi seorang manusia dan mengambil rupa seorang budak/hamba. Ia menjadi sama seperti kita yang penuh dengan kelemahan. Inilah teladan kerendahan hati demi mengangkat keberhargaan seseorang. Kita yang lemah dan berdosa, diangkatNya menjadi anakNya, menjadi serupa seperti Kristus. Pengangkatan harga diri kita yang dilakukan oleh Kristus inilah yang membuat Sang Bapa sedia menerima kita.

 

3.Menyangkut Egoisme. Dan Egoisme ini yang harus mendapat perhatian karena merupakan tantangan terberat zaman ini. Mengapa?. Bagi seseorang hal ini membuat kehilangan penghargaan terhadap orang lain. Egoisme membuat orang lain sebagai alat atau objek untuk memenuhi kepentingan pribadi. Egoisme membuat seseorang tidak peka atau buta terhadap kebutuhan orang lain. Dalam sebuah keluarga, cobalah bertanya, apakah selaku orangtua, papah-mamah, telah menjadikan anak-anak atau pasangan anda  sebagai objek? Kita diminta dalam tahun fokus pastoral ini merefleksi ulang, apakah kita telah menjadi seorang anggota keluarga yang memperhatikan kebutuhan anggota keluarga yang lain? Jangan sampai kita buta, sebab di situlah keluarga kita sedang terancam keruntuhan dan kerusakan.

 

4.Pola hidup seseorang yang memegang kesetiaan. Kesetiaan kepada Tuhan merupakan tantangan terpopuler masa kini. Ayo ingatlah bahwa ketidaksetiaan pada sesama itu dimulai dari ketidaksetiaan kita untuk mendengar dan melakukan Sabda Tuhan. Ketidaksetiaan menjalani apa yang Tuhan kehendaki membuat kita semakin tidak peka akan tugas yang Tuhan berikan pada kita sebagai utusanNya. Media sosial adalah tantangan paling besar. Saat sapaan dan saling berkomunikasi timbal balik, saling berkirim kata sapaan dengan media sosial kini makin marak. Kata-kata manis yang membuat seseorang tersenyum sendirian, perhatian yang hanya singkat tetapi penuh makna jika tidak diantisipasi akan menghancurkan dinding pemisah antar yang sudah terikat dengan para penggodanya. Tidak heran anak-anak juga belajar untuk tidak setia. Mulai dari fleksibilitas orangtua dalam menggajak pergi bersama ke gereja atau disaat orangtua mengantar anak-anak mereka ke Sekolah Bina Iman. Mari kita refleksikan ulang, apakah sekarang ini kitapun sudah dengan setia menjalani peran dan tanggungjawab yang semestinya. Apakah dalam keluarga juga sering menghadirkan suara Sabda Tuhan dengan setia? Sudahkah kita dengan setia berterimakasih pada Dia yang telah memberkati kita? Atau sudahkah kita dengan setia mengajarkan cinta Tuhan pada anak kita secara berulang-ulang?

 

5. perhatian. Perhatian terhadap yang terkecil. Prinsip kekatolikan mengatakan bahwa Yesus datang ke dunia dan untuk itulah Dia mengutus kita. Agar yang lemah menjadi kuat, yang kecil diperhatikan, yang miskin berkata kukaya. Dia datang melalui kita, untuk menguatkan orang lain, memperhatikan orang lain, menghibur yang berduka. Siapa yang paling kecil dalam keluarga kita? Perhatikanlah dia dan ajaklah dia memperhatikan mereka yang juga kecil dan membutuhkan perhatian.

 

Oleh karenanya, waktu tinggal beberapa saat lagi kita tinggalkan dan hanya beberapa langkah saja menyongsong tahun baru. Kalau situasi keluarga yang kurang mendukung hidup seorang anak, maka orangtua mesti mawas diri. Orangtua mesti mulai mencari cara-cara yang terbaik untuk memperbaiki kondisi keluarga. Orangtua mesti mulai membangun suatu kehidupan yang lebih harmonis.Dengan demikian, keluarga-keluarga dapat menjadi tempat yang membahagiakan bagi seorang anak. Keluarga dapat menjadi tempat bagi seorang anak untuk menimba kasih sayang. Keluarga menjadi tempat bagi seorang anak untuk belajar mencintai hidupnya. Sebagai orang beriman, kita mesti mendahulukan cinta kasih dalam membangun hidup berkeluarga. Di dalam keluarga itu selalu ada suasana yang bahagia. Dalam keluarga itu masing-masing pihak mampu menimba kebaikan untuk hidup masing-masing. Karena itu, dibutuhkan komitmen bersama dalam membangun hidup bersama yang bersumber dari cinta kasih. Tuhan memberkati. Selamat mempersembahkan pengalaman hidup selama tahun 2017 dan selamat mempersiapkan diri pada fajar baru di tahun 2018. Tuhan memberkati.

 

 oleh :

Pst. S. Budi Saptono, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*