Komunitas Basis Gerejani : Kepentingan dan Peranannya

3879348 Menggereja dalam bentuk Paroki sampai sekarang masih berjalan dan dianggap lazim, khususnya di lingkungan Gereja Katolik di Indonesia. Pertanyaannya: Apakah Gereja dengan struktur Paroki ini masih efektif untuk membuat umatnya menjadi suatu paguyuban yang hidup? Tampaknya pertanyaan ini belum mendapat jawaban yang memadai. [J. Hendriks].
Meski sudah banyak tulisan tentang topik KBG [Komunitas Basi Gerejani] ini, pada kesempatan ini, akan dicoba dicari mana yang dimaksud dengannya. Bila ditelusuri asal, nama dan peristiwanya, KBG sudah muncul di Abad XX, dan terutama menjadi batusendi kehidupan umat Kristiani di Amerika Latin (mulai 1970-an), yang masyarakat negaranya dilanda demam gerakan pembebasan, yang dipicu oleh Teologi pembebasan; lalu hal itu merambah ke Afrika, dan Asia, dan menjadi kunci perkembangan dalam karya penggembalaan.
Di Indonesia sendiri, khususnya di Keuskupan Bandung, komunitas-komunitas kecil Gerejani yang mirip KBG ini telah dibentuk, yakni sejak 1970-an juga, oleh para Pastor yang kebanyakan missionaris OSC yang berasal dari Belanda. Kelompok-kelompok kecil umat ini telah dibentuk, dengan nama Lingkungan (Kring), yang anggotanya dibagi menurut wilayah (teritorial).

Dari penelitian berikut, terlihat bedanya Lingkungan dari KBG, keanggotaan KBG ini tidak perlu dibatasi menurut batas-batas wilayah.

Nama-nama lain KBG? Berbagai nama lain dari Komunitas Basis Gerejani [Basic Ecclesial Communities] ini dapat menambah terang sedikit pada apa yang dimaksud KBG. Nama-nama lainnya itu adalah: comunidades eclesiales de base [Spanyol], communautés de base [Perancis]; komunitas basis Kristiani [Basic Christian Communities], Paroki-Mini, Persekutuan Hidup; Gereja Bertetangga; Komunitas Akar-rumput.

Sosoknya? Begitulah, menjadi nampak bahwa KBG ini adalah Komunitas yang beranggotakan umat Kristiani di akar rumput, di “dasar”, tempat di mana denyut dinamika hidupnya nyata, orang-orangnya tinggal “berdekatan”, kelompoknya disatukan oleh kepentingan yang sama, memiliki minat dan berpegang pada nilai-nilai serta tujuan yang sama yang Kristiani, dengan jumlah anggotanya yang relatif kecil, mini, (dibanding dengan Paroki).

Apa yang terutama diusahakan oleh KBG? Dengan tetap sadar diri bahwa mereka adalah anggota gereja Kristiani [universal], KBG bermaksud mengusahakan agar terjalin hubungan erat antar-pribadi para anggotanya, tidak hanya sesaat tapi tetap dan berkelanjutan. Maka bila mengingat tujuannya itu, umat gereja yang guyub dan penuh daya hidup (vital), yang merasa saling memiliki sebagai keluarga itu, hanya mungkin dicapai bila jumlah anggotanya relatif kecil, antara +- 8 s.d 40 orang.
Tandingan Paroki? Orang-orang Kristiani yang tergabung dalam KBG ini membentuk diri sebagai kelompok alternatif dari model Gereja dengan sistem Paroki, tapi tidak dengan maksud menjadi tandingan dari Paroki, tidak memisahkan diri dari Gereja Paroki, sebaliknya, melengkapinya. Di pihak lain, sebagai anggota umat Kristiani lebih besar (Paroki) mereka juga tetap memperlihatkan rasa wajib dan kesetiaan mereka dalam kegiatan tingkat Paroki: mengikuti liturgi Mingguan, dan ada di antaranya yang terlibat dalam kegiatan di tingkat Paroki juga. Kegiatan apa yang makin menjadi baku dilakukan anggota KBG? Di satu pihak, umumnya mereka ingin dan berusaha agar hidup keagamaan Kristiani meningkat, tidak hanya ritualistik seminggu sekali saja di Paroki. Untuk itu mereka terpanggil dan mengadakan pendalaman iman dan pengetahuan agama [lewat PA, berbagi pengalaman iman atas pembacaan Kitab Suci, rekoleksi, dsb] dalam kelompok kecil itu. Tetapi di pihak lain timbul juga kesadaran akan perlunya mewujudkan iman itu secara nyata hingga berdampak kepada masyarakat lingkungan di sekitar.

Apa yang yang telah menjadi khas pula? Adalah bahwa kegiatan kesalehan dan sosial itu mereka lakukan bukan sebagai kegiatan pribadi perorangan, melainkan sebagai kegiatan kelompok, baik dalam hubungan dengan masalah internal, mapun eksternal. Mereka ingin menegaskan bahwa komunitas kecil seperti itulah yang merupakan gereja yang sebenarnya, suatu satuan gereja yang hidup penuh daya, yang menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan rohani dan jasmani-masing- masing anggota di komunitasnya dari hari ke hari.

Hal apa sajakah yang mendorong KBG terbentuk? Penyebabnya bisa disebutkan sbb:
Di banyak tempat, KBG muncul sebagai reaksi dari kurang-tersedianya secara memadai pejabat gereja resmi (Pastor, Diakon) untuk melayani reksa pastoral umat beriman; selain karena dorongan Pastor, di banyak tempat pula kegiatan upacara di Gereja Paroki kurang dialami sebagai peristiwa yang mengubah hidup, batin umat masih merasa ingin diisi oleh pengalaman dan
pengetahuan iman yang lebih dalam; besarnya jumlah umat Kristiani yang terhimpun dalam Paroki, yang mengakibatkan umat tidak saling mengenal dan menimbulkan pengalaman “sepi di kerumunan orang banyak” (impersonal, anonim); dan juga, tidak sangat menyolok, karena kesadaran akan adanya situasi dan kondisi sosial-ekonomi para anggota umat Gereja, terutama yang tinggal di luar kota, yang membutuhkan pencerahan dan emansipasi.

Bagaimana pendapat pihak yang berwewenang dalam mengajar tentang KBG?
Otoritas mengajar Gereja menganggap bahwa ini merupakan gerakan yang mencerminkan dan memiliki landasan alkitabiah, karenanya menyetujui dan mendorongnya agar berkembang, demi pembaharuan evangelisasi dan pengembangan Gereja.

Beberapa kutipan berikut kiranya memadai untuk menerangkan alasan dan kepentingan pengembangan KBG. Keberadaan KBG memberi harapan akan perkembangan Gereja lebih lanjut, bila KBG memperlihatkan semangat berikut:
1. KBG menggali sumber semangat hidupnya dari Sabda Allah, dan jangan sampai terjerat oleh pengaruh politik tertentu ataupun karena terdorong ikut-ikutan mode (ideologi) sesaat, yang dapat merugikan hidup rohani anggota sebagai orang Kristiani.
2. Mereka menunjukkan sikap peduli pada gereja tempat di mana mereka tinggal, dan kepada gereja universal, menunjukkan solidaritas serta hubungan baik dengan komunitas-komunitas lainnya, dan tidak memisahkan diri.
3. Mereka tetap dalam jalinan hubungan baik dan sejati dengan para gembalanya yang diutus untuk bertugas di Gerejanya, dan dengan magisterium yang telah dipercayakan kepada mereka.
4. Mereka tidak menganggap diri sebagai pelaksana mandiri dan satu-satunya dalam evangelisasi.
5. Mereka tetap menunjukkan sikap, kesadaran dan semangat misioner.
6. Dalam banyak hal mereka tetap memperlihatkan sikap dan pandangan hidup dengan semangat universal, dan tidak menjadi sempalan (sectarian). ***

Bacaan:
1. Basic Christian Communities – Dictionary definition of Basic Christian …
www.encyclopedia.com/…and…/basic-christian- communities [11 September 2017]
2. Introduction to Small Christian Communities (Revised)
www.presentationministries.com/…/IntroCommunity.asp [11 September 2017].
3. The building of basic christian communities – Wiley Online Library
onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1758-6631…/pdf (11 September 2017).
4. Jan Hendriks, Jemaat Vital dan Menarik, Yogya: Kanisius, 2002. (11 September 2017).

oleh :
Th. Maman-Suharman, OSC.


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*