Komunitas Basis, Tempat Perjuangan Anggota Keluarga yang Tangguh

pope-crowd Tahun ini Paroki Santo Laurentius merayakan syukur yang ke 36 tahun usia perjalanan iman
dan tegaknya perjuangan seluruh kebersamaan dan persaudaraan kita. Dalam ungkapan
syukur ini marilah kita menelusuri kembali bagaimana keluarga-keluarga sebagai cikal bakal
Gereja Kudus ini tumbuh, terawat, mekar dan menumbuhkan buah-buah Kerajaan Allah.
Atau paling tidak marilah kita merefleksikan Keluarga sebagai Komunitas Basis Gerejani
memunculkan kebanggan dan kecintaan kita menjadi seorang Katolik dalam lingkup paroki
Santo Laurentius.
Kehidupan kita setiap saat dimulai dengan gerak langkah kaki. Sebelum melangkah dan
merencanakan yang terbaik, sudah seharusnyalah kita merenungkan bagaimana diri kita
sebagai orang beriman dan sekaligus kita sebagai putra putriNya? Cukupkah kekuatan
dalam diri kita untuk menghadapi berbagai masalah hidup yag akan kita hadapi sendirian?
Mungkin untuk sementara kita bisa berkata cukup, tapi untuk jangka waktu lama tentunya
akan sangat sulit jika kita hanya sendirian. Dan Tuhan pun tidak pernah menciptakan
manusia sebagai mahluk-mahluk individualis. Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk
sosial yang harus saling terhubung dan terintegrasi agar dapat terus berjalan ke arah yang
lebih baik. Tuhan bahkan menyatakan bahwa tidaklah baik apabila manusia itu
sendirian. “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja..” (Kejadian 2:18). Itu artinya
manusia memang diciptakan sebagai mahluk sosial yang saling terkait dengan sesamanya.
Langkah hidup kita harus berhadapan dengan pribadi yang lain dengan kita, itulah
tantangan kita.
Langkah hidup beriman semakin tertantang karena kita makin berhadapan dengan berbagai
macam pribadi. Mereka bersatu dalam sebuah komunitas dan komunitas menyadarkan kita
bahwa dengan baptisan kita menjadi bagian dari bagian integral dari sesama kita yang telah
lebih dulu mendapatkan baptisan. Begitu banyak umat kita (Gereja) karena persatuan,
perhimpunan dan paguyubannya dikemudian hari. Namun tetaplah bahwaada saatnya
dalam kebersamaan dan persaudaraan itu kita rindu akan kehadiran orang lain bersama
kita untuk bisa bertahan hidup. Semua orang berjuang untuk bertahan dalam harapan, cita-
cita dan tujuan masa depan. Setiap dari kita harus bertahan dan bergumul agar menjadi
seorang yang tahan uji. Kenyataan bahwa situasi sekarang menuntut perjuangan yang luar
biasa. Pengaruh lingkungan yang sulit, dunia yang jahat dan sebagainya setiap saat akan
membuat kita semakin lama semakin lemah. Disaat seperti itu kita butuh teman-teman
yang sanggup menguatkan, meneguhkan, mengingatkan dan menolong. Dalam kenyataan
seperti ini maka keluarga adalah tempat yang paling tepat untuk menumbuhkan nilai-nilai
ketahanan diri dan juga arah masa depan bagi siapapun. Keluarga akan menjadi cerminan
nyata bagi pribadi-pribadi yang mengisi isi lingkungan, masyarakat dan kebersamaan kita.
Kini, sambil bercermin pada kehidupan kita marilah, bayangkan jika kita tidak memiliki
teman, sahabat dan orang lain yang dekat dan bisa saling dukung dan saling menasehati,

memberi masukan, mengingatkan, menegur apabila kita melenceng dari kebenaran sabda
Tuhan. Tentu kita akan jauh lebih kuat menghadapi segala problema yang hadir dalam hidup
kita. Keluarga sebagai bagian dari kumpulan pribadi-pribadi yang ingin membentuk pribadi-
pribadi yang tahan uji maka sebaiknyalah masing-masing keluarga kini juga memikirkan
keterikatannya pada lingkungan-lingkungan atau wilayah. Kita percaya bahwa 36 tahun
perjalanan paroki Santo Laurentius ini sangat membutuhkan kepeduliaan dan perhatian kita
semua. Di tengah-tengah tantangan jaman yang makin indivdualistis ini maka sebaiknya
pribadi-pribadi tidak makin menyendiri atau paling tidak kita harus mengenal dan
memperkenalkan diri dengan tetangganya. Dalam sebuah lingkungan yang terdiri dari
beberapa keluarga ini yakinlah pertumbuhan iman akan lebih terjamin. Apalagi dalam
sebuah lingkungan keluarga-keluarga itu berkumpul memperdalam iman sambil berdoa dan
mendoakan niscaya pancaran keselamatan pun makin terpancarkan. Sadarilah bahwa
Tuhanpun sanggup memberi mukjizat kekuatan tanpa tergantung oleh situasi dan kondisi
kepada orang-orang (keluarga) yang menggantungkan kekuatannya ke dalam Tuhan.
Bahkan Tuhan siap mengubah lembah air mata untuk menjadi tempat sukacita bagi orang-
orang seperti ini.
Sebagai manusia kita pun butuh orang-orang di dunia ini yang secara langsung bisa bertemu
dengan kita dan memberi dukungan moril atau bantuan lainnya agar kita bisa tetap
bertahan. Sebuah pertemuan-pertemuan lingkungan dalam bentuk ibadat, dimana dalam
ibadat kita sama-sama bersatu menyembah Tuhan sungguh baik dijadikan awal untuk saling
mengenal satu sama lain. Sangat disayangkan jika kita masih menganggap beribadah itu
hanyalah kewajiban atau rutinitas semata. Alangkah ruginya jika kita hanya datang, duduk,
diam, dengar dan lalu pulang. Itu sama saja dengan melewatkan sebuah kesempatan untuk
membina hubungan dengan saudara-saudara seiman. Tidak ada satupun orang yang
sanggup bertumbuh sendirian. Inilah yang diingatkan oleh Paulus. “Dan marilah kita saling
memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan
oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya
menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25). Paulus sungguh menyadari bahwa
kita akan lemah dan jatuh jika kita tidak saling memperhatikan dan saling mendorong satu
sama lain.
Pertemuan-pertemuan ibadah janganlah hanya berpusat pada diri sendiri tanpa peduli
orang-orang yang mungkin duduk di sekitar anda. Ingatlah bahwa kesempatan tak datang
dua kali makanya “perpisahan kita” untuk menghadap Sang Pencipta itu tak kenal waktu
dan saat. Semakin dekat hari kedatangan Tuhan, maka seharusnya semakin giat pula kita
untuk membangun hubungan erat dengan saudara-saudari kita sehingga dalam keakraban
itu kita bisa saling menasihati dan mengingatkan.Iman kita akan gampang merosot dan
melemah jika kita menghadapi masalah demi masalah sendirian. Tapi dengan adanya
teman-teman yang saling berbagi, kita akan mampu bertahan dan tetap kuat. Betapa
pentingnya sebuah kebersamaan yang saling bantu dan saling mengingatkan apalagi ketika
waktu kedatangan Yesus buat kedua kalinya sudah semakin dekat.
“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua

anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah
satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang
terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih
karunia yang dianugerahkan kepada kita..” (Roma 12:4-6). Ini adalah nasihat penting agar
kita tetap sadar bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus yang merupakan bagian
integral yang tidak terpisahkan dari saudara-saudara seiman lainnya.
Selain itu Tuhan juga mengingatkan bahwa kita harus saling mengasihi, karena Tuhan
sendiri begitu mengasihi kita. (1 Yohanes 4:11). Kepedulian adalah merupakan bagian dari
kasih yang seharusnya memenuhi hati orang percaya. Beban yang ditanggung manusia
sesungguhnya tidak ringan dan lama kelamaan mampu membuat iman kita memudar.
Orang bisa hilang pengharapan jika didera masalah terus menerus. Karena itu kita
diwajibkan untuk saling tolong menolong, dan dengan demikian dikatakan itu artinya kita
memenuhi perintah Yesus. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah
kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Jalin hubungan dengan anggota-anggota
tubuh Kristus lainnya dalam persekutuan-persekutuan, baik di Gereja, di kantor, di sekolah,
di lingkungan dan sebagainya. Jangan melewatkan waktu-waktu beribadah di Gereja dimana
kita bisa berinteraksi dan bersatu dalam kesatuan untuk menyembah Tuhan dan
menguatkan satu sama lain.Ke Gereja seminggu sekali saja tidaklah cukup, apalagi jika kita
masih belum menjadi sempurna dalam pembaharuan diri. Ke gereja saja tidak cukup apabila
kita tidak membangun hubungan dengan saudara-saudari disana. Jika saat ini kita masih
mengabaikan salah satu pesan penting Tuhan untuk memiliki iman yang terus bertumbuh,
marilah berjuang dengan segala kerja keras, usaha, niat dan tekad untuk menghadirkan diri
dalam kebersamaan. Ambil waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Jadilah bagian
yang baik dari sebuah tubuh Kristus, bersekutulah dalam doa, pujian dan penyembahan,
dan hendaklah saling bantu, saling mengingatkan dan saling menasihati. Kita tidak akan kuat
berjalan sendirian, teman kita pun demikian. Komunitas Basis, yang
mewujudkan diri dalam keluarga, komunitas, paguyuban atau persekutuan yang
ada adalah tempat perjuangan kasih bagi siapapun termasuk anggota keluarga yang tangguh.
Mari kita bersatu dalam kasih, saling menguatkan dalam persekutuan-persekutuan kita
dimana Kristus bertahta di dalamnya.Hendaklah satu sama lain sehati sepikir, dalam satu kasih,
satu jiwa, satu tujuan. Apalagi 36 tahun Gereja Santo
Laurentius sungguh membutuhkan perhatian dan kepeduliaan dari kita semua. Dan
marilahkita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pelayana
n. Percayalah dengan perjuangan kita semua, Paroki sebagai wadah persatuan orang
beriman bisa menawarkan kehidupan beriman yang lebih baik,
keyakinan kita makin tahan uji dalam menghadapi situasi jaman sekarang dan janganlah kita menge
ndurkan diri karena tidak ada manusia yang bisa tetap kuat seorang diri. Tuhan Memberkati.

Oleh:

Pst. S. Budi Saptono, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*