Komunitas Basis : Relasi Baru yang Menumbuhkembangkan Keluarga Sehat dan Harmonis

subCatholicSocialTeaching Komunitas Basis yang menjadi acuan kita adalah Jemaat Perdana (Kis. 2:41-47). Mereka betekun dalam doa, saling memberi untuk menanggapi kekurangan sesama. Komunitas Jemaat Perdana menciptakan kebersamaan keluarga yang sejahtera jasmani dan rohani: kebutuhan jasmani dicukupi dan kehidupan rohani dipelihara.

Keluarga Kristiani dibangun berdasarkan Sakramen Perkawinan. Upacara atau Perayaan Ibadat Sakramen Perkawinan ini memang berlangsung cuma beberapa saat dalam Gereja: koor yang meriah, umat yang hadir banyak, pakain yang indah, bunga yang semarak, dll. Koor, kehadiran umat, pakain, dan bunga itu akan berlalu seiring selesainya perayaan. Tidak berarti makna Sakramen Perkawinan juga berlalu. Sakramen Perkawinan tidak sama dengan nyanyian koor-gaun-make up-bunga hiasan. Sebab Sakramen Perkawinan bukanlah arena pertunjukan layaknya seorang penampil yang tampil di atas panggung. Acara selesai, lalu selesai pula semua eksistensinya dalam hidup penonton.  Sakramen Perkawinan adalah rahmat, cara hidup yang abadi keluarga. Perayaan di Gereja adalah ALPHA, selanjutnya dihidupi terus menerus dalam semangat iman.

Seorang Pria dengan seorang Wanita berjanji setia satau sama lain untuk hidup dalam suka dan duka, dalam untung dan malang sampai maut memisahkan. Dalam Janji Perkawinan tersebut terkandung penyerahan diri pada pasangan dalam segala situasi: tiap pribadi menjadi pribadi yang hidup dan menghidupkan bagi pasangannya.

Pemberian diri menjadi hal penting. Setiap pasangan mengatakan bahwa mereka menikah karena kasih. Kasih tidak pernah tanpa pemberian diri. Bagaimana seseorang memberi diri pada orang lain? Hal utama adalah karena dirinya punya kepekaan untuk mendengarkan, melihat dan merasakan sekitarnya. Dirinya hidup tidak melulu hanya terpusat pada dirinya sendiri, tetapi senantiasa terarah pada orang lain.

Kemauan dan kemampuan seseorang untuk mendengarkan, melihat dan merasakan lingkungan sekitar mendorong seseorang untuk bertindak atau memberi diri. Ia bertindak supaya keprihatianan orang lain dapat teratasi, sukacita orang lain menjadi sukacitanya, perjuangan orang lain menjadi perjuangannya. Dengan demikian, setiap pribadi, khususnya anggota keluarga, menjadi Sakramen yang Hidup bagi anggota keluarga lainnya.

Keluarga hanya mungkin sehat dan harmonis bila anggota-anggotanya senantiasa membiasakan diri untuk tanggap pada anggota keluarga yang lain: tanggap pada perasaannya, tanggap akan kebutuhannya, tanggap akan pola pikirnya.

Keluarga menjadi “neraka” ketika anggota-anggotanya (seluruhnya atau sebagaian) hidup hanya untuk dirinya sendiri: tidak tanggap, sulit mendengarkan, sulit merasakan, sulit melihat sekitar.

Jemaat Perdana menjadi teladan kehidupan bersama karena setiap anggota saling memperhatikan dan memelihara kehidupan jasamani dan rohani. Tindakan mereka sangat konkrit: berbagi supaya yang lain tak berkekurangan dan terlibat dalam menjaga kehidupan rohani secara bersama. Semua anggotanya memberi diri supaya hal jasmani dan rohani tidak kurang. Berjalan bersama, bertindak bersama, dan untuk sesama anggota. Kehidupan Jemaat Perdana menjadi kehidupan bersama yang sehat jasmani- rohani dan relasi mereka harmonis satu sama lain.

Setiap anggota mau memberi diri pada yang lain adalah pondasi untuk membangun keluarga yang sehat dan harmonis. Egoisme yang dipelihara adalah cara terbaik untuk membuat keluarga menjadi “sakit” dan saling “bermusuhan”.

 

oleh :

Pst. Sangker Sihotang, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*