KOMUNITAS BASIS GEREJANI: KELUARGA KRISTIANI DI ASIA & TANTANGANNYA

GW439H309-s

Paling tidak sudah sejak 30 tahun lalu, para Uskup se-Asia yang terhimpun dalam FABC, telah selalu merenungkan hidup dan karya pastoralnya di Asia. Konferensi-konferensi itu, sampai dengan yang ke-V di Lembang-Bandung Juni 1990, memberikan gambaran mengenai kondisi dan arah karya missi di Asia, termasuk Indonesia.

Di Asia, yang nyatanya luas dengan kebinekaan, kaya dengan kemajemukan, dan menjunjung tinggi harmoni, Gereja bertekad untuk memperjuangkan kehidupan, dalam dialog dengan budaya-budaya, agama, dan kemiskinan, menuju berdirinya Kerajaan Allah.

Dengan visi itu gereja dipanggil untuk menjadi communion of communities, suatu cara baru hidup menggereja di Asia. Dan ternyatalah bahwa visi FABC itu, walaupun tak memiliki otoritas doktriner, dan secara yuridis tak mengikat, diterima dan diterapkan di gereja-gereja lokal Asia, termasuk di Indonesia dan Keuskupan Bandung, menjadi pegangan dalam menggereja.

 Dalam communio  itu, awam, baik umat umumnya maupun biarawan (-wati), serta pastor, hidup dalam persaudaraan, menjadi saksi akan Kristus yang bangkit, dalam komunitas kecil yang dinamis dan tangguh: berdoa, berbagi iman, bekerja, saling mendukung, sehati sejiwa. Kelompok kecil konkret itu diharapkan menjadi tanda terpercaya untuk tumbuhnya keselamatan.

Dengan semangat kenabian, dalam dialog dengan orang-orang sekitar, masing-masing umat Kristiani sesuai dengan karisma dan peranannya (PKL, guru agama, bankir, pembantu rumah tangga, dosen, direktur, politisi, pastor, suster, dll.) ikut ambil bagian dalam missi Kristus. Umat Kristiani di Asia (4%), di Indonesia (2%), di Keuskupan Bandung Jawa Barat (0.25%), yang tetap merupakan pusillus grex, kelompok kecil, idealnya berperan efektif sebagai garam. Garam itu kecil, tampak tak berarti, tapi membuat enak masakan, karenanya garam sangat diperlukan. Menggereja demikian, tidak dengan sikap triumfalistik (sikap sok menang sok hebat)melainkan dengan rendah hati, terlibat tidak terlihat, mengawetkan tidak untuk sesaat melainkan berlanjut, tidak dengan benci, melainkan dengan empati seperti garam yang mengenakkan masakan. Baik saja orang Katolik jadi camat, bupati, gubernur, presiden di bangsa yang mayoritas berama non-Katolik. Tapi jadi garam adalah keharusan.

Gereja universal sendiri, dalam Surat dari Paus Yohanes Paulus II kepada para Uskup Asia yang berhimpun di Bandung 1990, memberikan dorongan dan dukungan terhadap ihtiar mereka menemukan visi dan arah menggereja, sambil menggambarkan juga tantangan lain yang harus dihadapi oleh umat Kristiani di Asia:

1. Sekularisasi, materialisme dan komunisme. Pengaruhnya meresapi banyak orang muda dan rakyat biasa, khususnya di negara mulai maju, di mana orang cenderung mengukur kebahagiaan dan sukses dengan banyaknya harta benda. Pertumbuhan pribadi yang utuh dan penuh terpangkas karena orang mengabaikan segi-segi religious dan transenden. Komunisme membuat bangsa di beberapa Negara Asia dijauhkan dari harmoni yang menjadi cirinya, menyengsarakan dan menimbulkan kelaparan;.

2. Pelanggaran hak azasi dan intoleransi terhadap agama/keyakinan lain. Di satu pihak ada kalangan yang menganggap sebagai barang asing aspirasi orang yang ingin agar haknya diakui; di pihak lain ada kelompok-kelompok agama besar tertentu yang menekan pemerintahnya untuk tidak toleran, dengan a.l.: mengubah perundang-undangan, membuat kebijakan yang menekan hak kelompok kecil.

3. Kemiskinan yang menyebar. Sejumlah bangsa di negara Asia menikmati untung dari kemajuan teknologi, bangsa lainnya dipaksa mengalami berbagai bentuk perbudakan modern: buruh, kurangnya bantuan sosial, butahuruf, penyalah-gunaan obat-obatan, perjudian kekerasan, korupsi, kondisi hidup tak manusiawi di pinggiran kota. Selain itu, eksploitasi tak terkendali sumber daya-daya alam, polusi dan kerusakan lingkungan, yang merugikan orang yang teknologinya belum maju.

Dalam menghadapi pelbagai persoalan yang tak gampang dicari solusinya, tugas gereja, selain menolak kejahatan, demikian Paus Yohanes Paulus II, juga memaklumkan amanat perlunya bertobat dan adanya harapan bahwa terbuka masa depan yang lebih baik dalam hidup menggereja. ***

Oleh:

Pst. Thomas Maman Suharman, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*