Komunitas Basis, Kebangkitan Arah dan Sasaran Tujuan Gereja Masa Kini

Rainbow-cross-resized-s

Selamat Paskah terlebih dulu saya ucapkan bagi kita semua, semoga Kebangkitan Kristus yang kita rayakan menjadi pancaran kebangkitan kita semua khususnya bagi semua keluarga yang ada di Paroki Santo Laurentius yang kita cintai. Kembali sebagai bahan permenungan, kita mengupas persaudaraan kita dalam Komunitas Basis sebagai pusat suburnya dinamika pastoral kita demi masa yang akan datang.  Berawal dari keluarga sebagai suatu komunitas terkecil yang hidup berdasarkan cinta, dan komunitas kecil ini akhirnya berkembang menjadi gambaran asli tentang apa itu Gereja yang sesungguhnya sepanjang masa. Dengan kata lain keluarga merupakan Gereja mini dan Gereja mini itu bersatu dengan beberapa keluarga lain yang terikat dalam suatu lingkungan kemudian menyatu dalam wilayah dan semuanya menjadi Gereja yang lebih besar yakni Komunitas Basis Gerejani (KBG). KBG-KBG bersatu menjadi gereja yang lebih besar yakni Umat Paroki dan selanjutnya menjadi bagian dari gereja universal. Oleh karena itu sebagai Gereja mini keluarga hendaknya ikut ambil bagian dalam kehidupan dan misi Gereja yakni menjadi komunitas yang percaya dan menginjil, menjadi komunitas yang selalu berdialog dengan Tuhan, dan menjadi komunitas yang melayani.

 

Kita semua tahu bahwa saat ini kita berjalan dalam suasana paskah dan semangat Paska ini diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat hidup kita. Yang perlu diingat bahwa kebangkitan Kristus bukanlah secara fisik atau lahiriah. Kebangkitan Kristus tidak seperti Lazarus atau pemuda dari Naim ataupun anak Yairus seperti dalam Kitab Suci. Mereka yang dikisahkan semuanya dikembalikan kepada kehidupan yang fana ini dan beberapa waktu kemudian akan mati lagi. Tidak demikian halnya dengan Yesus. Dengan kebangkitan-Nya, Ia masuk ke dalam kemuliaan Bapa-Nya. Kristus sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi. Maut tidak berkuasa lagi atas Dia (Rm 6:9). Oleh karena itu kebangkitan dalam Kitab Suci sering di sebut “Peninggian”. Yang paling pokok ialah bahwa Yesus sekarang hidup dalam kehidupan ilahi, duduk di sebelah kanan Allah. Kebangkitan berarti pemuliaan, peninggian kepada kemuliaan ilahi. Yesus sudah mengabdikan diri-Nya sebulat-bulatnya demi cinta kepada Allah dan kepada manusia, demi Kerajaan Allah, tidak akan dibiarkan mati konyol oleh Allah!! Karena cinta-Nya yang rela mempertaruhkan nyawa itu, maka Allah membangkitkan Yesus dari alam maut. Kebangkitan-Nya berarti Yesus masuk hidup/lingkup Allah yang serba berbeda dengan hidup di dunia ini. KebangkitanNya masuk dalam hidup yang mulia. Dengan membangkitkan Yesus dari alam maut, Allah Bapa membenarkan Yesus. Allah “menandatangani”, menyetujui warta, karya dan hidup Yesus sebagai jalan menuju ke persatuan dengan Allah. Kebangkitan Yesus berarti Allah membenarkan dan melegitimasi warta dan karya Yesus.

 

Dalam suasana paskah inilah mari kita pun menengok bagaimanakah kehidupan keluargaku, lingkunganku dan wilayahku sebagai penopang tonggak kehidupan Paroki yang dipancari Kebangkitan Yesus ini. Apakah ada sesuatu yang berarti yang ingin aku bangkitkan melalui kehadiran, keterlibatan dan partisipasiku. Sesungguhnya ini adalah pertanyaan mendasar dalam hidup berkomunitas kita dengan dasar iman kita. Jika kitapun mau mengkaitkan kehidupan meng Gereja, Apakah masing-masing pribadi sungguh percaya bahwa Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari kita menjadi kebangkitan dan hidup?

Jika kita mengimani kesungguhan ungkapan saat mengucapkan Syahadat Para Rasul, entah saat setiap hari Minggu dan setiap kali kita berdoa Rosario dan doa Koronka Kerahiman Ilahi seharusnya ada sesuatu yang menggetarkan diri dan hidup kita. Dengan sabda-Nya, Yesus Kristus meneguhkan kita dalam iman dan harapan untuk menghadapi kematian kita dan untuk percaya akan kehidupan yang akan datang. Ia berjanji kepada kita akan memberikan hidup kekal berlimpah karena Ia sendirilah Kebangkitan dan Kehidupan kita. Di sinilah komunitas basis harus menyemangati dan mendobrak ke”aku”an kita untuk menjadi kerinduan dalam sebuah kebersamaan. Kita meyakini bahwa keberadaan keluarga-keluarga dalam lingkungan menjadi penting diperhatikan. Keluarga-keluarga diajak kembali merenungkan betapa pentingnya memiliki keterikatan dan keterkaitan satu sama lain. Kemudian dalam kebersamaan dan kekeluargaan yang melekat di dalamnya diusahakan ada sebuah arahan. Arah dan sasaran kebersamaan akan menciptakan sebuah kekuatan keakraban yang memikat. Perjuangan dalam menggalang persaudaraan awalnya bias jadi terasa berat dan sulit, namun jika dilakukan terus menerus dan ditopang dengan kesetiaan, ketaatan dan komitmen bersama yang sungguh niscaya menjadi pancaran kebangkitan yang luar biasa.

 

Cobalah setiap kali pribadi-pribadi, keluarga-keluarga meneruskan dalam tekad dan niat bahkan dalam ibadat-ibadat, jangan lupa manfaatkanlah keheningan dan permenungan bersama dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Banyak pribadi berubah setelah meluangkan waktunya untuk beradorasi di depan tabernakel gereja-gereja Paroki. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus yang adalah Kebangkitan dan Kehidupan. Ia menawarkan kepada kita kehidupan yang berlimpah sekarang dan selamanya. Apakah kita mencari kehidupan berlimpah yang Yesus tawarkan kepada siapapun yang percaya kepada-Nya? Makanya tidakkah kita rindu untuk menggali arah dan sasaran keimanan kita demi tujuan hidup ke depan. Baiklah setiap kali kita berdoa, ikut dalam Ekaristi dan juga saat ber-adorasi kita berucap, “Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah kebangkitan dan kehidupan. Berilah kami kekuatan untuk menanggung tugas membawa sesama lebih dekat pada-Mu. Kuatkanlah iman dan harapan kami pada janji-janji-Mu bahwa Dikau adalah Kebangkitan dan Kehidupan”.

 

Kini, memang tugas kita dalam suasana jaman sekarang yang serba mengagetkan ini tentu tidak mudah. Akan tetapi ketangguhan keluarga sangat dipengaruhi oleh ketaatan masing-masing. Keberadaan keluarga-keluarga di lingkungan sangat bergantung pada kekompakah satu sama lain. Sekali lagi tidak mudah untuk mewujudkannya, akan tetapi tak ada jalan lain kecuali menghidupkan kembali bentuk-bentuk pertemuan lingkungan. Dalam pertemuan itu keluarga-keluarga harus berani untuk menghadirkan diri sekaligus kembali terus menerus mencari bentuk kreativitas dan keberanian untuk melakukannya secara nyata dalam sebuh komitmen. Sudah seharusnya keluarga-keluarga dalam lingkungan menjadi komunitas yang menginjil. Keluarga bisa menjadi pewarta injil bagi keluarga-keluarga lain diluar rumah.

Dengan demikian Komunitas Basis Gerejani yang disemangati oleh dukungan lingkungan-lingkungan adalah tempat yang tepat untuk mengamalkan iman kita dalam sikap dan perbuatan. Terbuka pada orang lain atau masyarakat, tergerak oleh rasa keadilan dan kepedulian terhadap orang lain pastilah mengarahkan pada tujuan yang sesungguhnya. Saya percaya, Komunitas Basis Gerejani (KBG) adalah cara yang tetap baru bagi kehidupan mengGereja, dimana banyak hal yang tidak dapat kita temukan dan alami di Gereja secara masal, dapat kembali kita temukan, kita rasakan dan alami bersama di dalamnya. Tanpa disadari persaudaraan, perhatian, kerja sama, kasih pelayanan dan lain sebagainya akan dinikmati. Jadi KBG bukan hanya sebagai tempat berkumpul untuk berdoa dan beribadat, namun justru lebih dari itu yaitu kesaksian iman kita yang mengarahkan pada tujuan dan  sasaran kepada sesama untuk saling meneguhkan.

 

Oleh:  Pst. S. Budi Saptono, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*