Komunitas Basis, Betapa Penting dan Gentingnya Peran Awam

pope crowdPuluhan tahun yang lalu sudah ada “komunitas-komunitas basis” di Keuskupan Bandung. Sebetulnya setiap keluarga adalah komunitas basis Gereja. Kemudian  keluarga-keluarga satu lingkungan; kelompok-kelompok koor dan kategorial (muda-mudi, WK, Legio Mariae, S.S.V. dsb), mereka semua adalah komunitas-komunitas basis Gereja, meskipun belum dalam bentuk yang optimal. Secara teratur mereka berkumpul untuk membagikan pengalaman imannya, berdoa bersama, mendoakan masyarakat dan Gereja, serta melakukan kegiatan sosial di lingkungan mereka di dalam masyarakat. Mereka berusaha mempraktekkan firman Tuhan di dalam kelompok mereka  sendiri dan di masyarakat luas. Pada waktu itu mungkin saja peran pastorcukup besar, karena Gereja sendiri juga masih berpikir dan bertindak pastor-sentris.  Di setiap pertemuan, di setiap rapat kelompok, para pastor harus hadir. Kalau pastor tidak hadir:  pertemuan seperti “tidak jalan”, kurang afdol, kurang berbobot. Tetapi tidak selalu begitu.

Kira-kira dari tahun 1975 sampai dengan 1995 teks/bahan pertemuan lingkungan dipersiapkan secara bergilir  oleh  Pastor Paroki Pandu dan Katedral yaitu Pastor Thomas Maman, Pastor Leo van Beurden dan saya. Semula pelaksanaan ibadat lingkungan itu sangat tergantung dari kehadiran pastor. Tetapi lambat laun  pertemuan itu 100% di tangan awam. Kelompok seperti itu adalah kelompok-basis-Gereja zaman dulu. Berfungsi dengan baik dan kelompok-kelompok kecil itu menghasilkan banyak sekali katekumin, serta “goodwill” terhadap Gereja Katolik, karena mereka selain berdoa, juga aktif di bidang sosial. Membangun gedung gereja baru, tidak menjadi masalah terlalu besar.  Ingatlah juga akan aktivitas Serikat Santo Vinsensius, seksi sosial paroki dan lingkungan, serta kerja sama antar-paroki untuk donor darah via Palang Merah  dsb. Perkembangan indah itu sejajar dengan perkembangan kesadaran bahwa Gereja itu adalah KITA SENDIRI, kita semua. Kita bersama dan masing-masing adalah wajah Gereja Katolik. Wajah paus, wajah uskup, wajah pastor adalah salah satu wajah Gereja. Mudah-mudahan sebuah wajah yang baik dan menarik, yang menghadirkan kasih Allah (kerajaan Allah) di dunia ini. Tetapi “wajah mereka” jauh dari cukup. Kita semua, masing-masing dan bersama-sama,harus memperlihatkan “wajah Allah” dalam hidup kita kepada sesama di masyarakat kita.

Kalau  melihat cara hidup jemaat Gereja perdana, maka menjadi nyata bahwa mereka makin menjadi suatu  jemaat yang menarik,  sehingga “mereka disukai semua orang” (Kis 2:47). Awam menjadi “pemilik Gereja”. Jemaat perdana menjadi daya tarik luar biasa, karena mereka, selain berdoa bersama, merenungkan firman Tuhan bersama, mereka juga sangat peduli satu sama lain. Sebenarnya pemerintah dan masyarakat zaman itu “membenci”  jemaat ini yang cara hidup, cara bertindak, berbicara dan bersikap sangat berbeda dengan apa yang lazim di masyarakat itu. “Nikmatilah hidup! Puaskanlah nafsu-nafsumu! Bersembah sujudlah kepada Sri Kaisar! Rendahkanlah perempuan dan budak!” adalah tradisi masyarakat itu.  Jemaat perdana menjadi sebuah “protes” terhadap hal-hal tersebut. Masyarakat yang sangat duniawi dan materialistis itu ketika bertemu dengan komunitas-komunitas pengikut Kristus ini, bertemu dengan suatu anti-racun, yaitu kasih persaudaraan, ketakwaan  kepada Allah yang Maha Esa, dan ketaatan pada firman Tuhan Yesus Kristus yang mempersatukan mereka.Komunitas-komunitas basis Gereja itu mengubah “wajah masyarakat” pada zaman itu, menciptakan mentalitas yang baru, mentalitas hormat dan peduli pada sesama, dan bersembah kepada satu Allah yang Mahakuasa dan Mahamurah. Pengikut-pengikut  Kristus  tidak mempunyai gedung gereja seperti sekarang untuk berkumpul dengan banyak orang. Hierarki, kelembagaan, dan organisasi Gereja masih sangat minim, tetapi Gereja berkembang pesat, meskipun dianiaya. “Mereka disukai semua orang”….Awam menjadi “pemilik Gereja”!…Cara hidup komunitas-komunitas kristiani yang kecil itu membuat Sri Kaisar Romawi, dengan seluruh pemerintahan zaman itu, takut dan mereka mulai menganiaya orang Kristiani.  Tetapi mereka, yang terdiri dari komunitas-komunitas kecil berdiri tegak, walaupun harus berkumpul secara tersembunyi, bahkan di bawah tanah (katakombe)! Jumlah mereka masih sangat terbatas, tetapi komunitas mereka kuat, kasih persaudaraan mereka hangat; iman mereka kokoh; semangat mereka berkobar-kobar karena mereka meyakini kehadiran Juruselamat Yesus Kristus di tengah-tengah mereka. Memang ada “pastor”/rasul, atau penggantinya yang mengajar, yang membaptis, yang memimpin ekaristi, yang mendoakan, menyemangati dan mempersatukan mereka. Tetapi pertemuan-pertemuan dan hasil keputusan pertemuan itu adalah karya awam, mereka yang langsung terjun ke dalam masyarakat di sekitarnya dan melaksanakan keputusan-keputusan itu di dalamnya. Awam “menggarami” masyarakat zaman itu  dengan nilai-nilai kehidupan Kristiani.

Nah, mereka dari Gereja perdana itu adalah teladan indah dan menarik bagi kita sekarang. Jumlah umat Katolik di Keuskupan Bandungsedikit. Kita hidup di dalam masyarakat yang tidak selalu “ramah” terhadap kita. Ada banyak sekali tantangan. Kita mudah tergoda untuk ikut tren masyarakat; mudah menciptakan berhala-berhala modern dalam hidup kita sendiri yang kita sembah. Kepercayaan kita sering loyo dan kita tidak berdoa lagi. Jangan-jangan kita makin jauh dari cita-cita Yesus Kristus yang sebetulnya ingin kita capai dan hidup kita menjadi dangkal seperti hidup banyak orang di dalam masyarakat kita. Akibatnya kita pun orang yang dengan mudahikut berkorupsi, ikut bertindak tidak adil, ikut hidup dengan moral yang rendah atau bahkan tanpa moral. Jangan-jangan kita pun menjadi orang yang menyembah berhala materi, seks, bisinis, narkoba. Jangan-jangan kita pun ikut menjadi individualis dan tidak peduli kepada orang lain: di jalan, di pekerjaan, di rumah. Pastor berkhotbah di gereja tentang kehadiran Yesus di dalam masyarakat. Mudah-mudahan bagus dan menarik. Tetapi kaum awamyang harus menghadirkan-Nya di dalam masyarakat tanpa khotbah, tetapi dengan sikap, kata dan dengan perbuatan; kaum awamlah yang menggarami masyarakat.

Karena itu perlu kita membentuk komunitas-komunitas kecil yang mudah-mudahan bisa membuat janji dan kesepakatan untuk bersama-sama menimba kekuatan, semangat dari firman Tuhan; yang saling mendoakan dan saling memberi power(kekuatan) untuk menggarami masyarakat kita sekarang dengan cita-cita Yesus tentang Kerajaan Allah. Komunitas-komunitas itu terdiri dari ibu dan bapak, pemuda dan pemudi serta anak-anak, seperti di zaman Gereja perdana. Mereka membentuk kelompok kecil, tetapi akrab, mereka dapat saling mengandalkan.

Umat zaman Gereja perdana itu meletakkan dasar yang amat kuat untuk perkembangan Gereja Katolik di kemudian hari…Kita sekarang memetik buah-buah hasil usaha mereka. Meskipun jumlah mereka sedikit, tetapi iman mereka kuat, semangat mereka besar, dan kasih persaudaraan luar biasa. “Mereka disukai semua orang”. Gereja menjadi milik awam, milik komunitas-komunitas basis. Ayo mari maju… Semoga tentang kita pun kelak dikatakan, “Mereka disukai semua orang”.

 

Oleh:

Fons Bogaartz, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*