Komunitas Basis, Pemicu Lunturnya Wajah Gereja Masa Kini

Fenomenologia-de-la-cultura-2 Pernahkah kita sejenak merenung tentang siapakah aku bagi diriku kini? Siapakah aku yang hadir diantara sesama seiman? Dan akhirnya bagaimanakah aku menghadirkan diri sebagai seorang beriman Katolik di tengah-tengah sesama umat yang lain? Mungkin pada saatnya kita akan menilai bagaimanakah kualitas hidup berimanku. Ungkapan ini saya sampaikan berkenaan dengan judul Komunitas Basis, koq malah dikatakan pemicu lunturnya wajah Gereja masa kini. Oleh karenanya dalam renugan ini, saya mencoba menerapkan salah satu lunturnya wajah Gereja kini yaitu tentang komunitas dan ini bisa dimaksudkan lingkungan, paroki atau kekeluargaan yang ada. Komunitas di era mileneal ini mendorong sering terjadinya “cueknisasi” yang saya maksudkan adalah: umat yang datang tidak disapa, umat yang tidak datang tidak dicari. Pernahkah kita mengenal umat yang duduk di sebelah kita, kendati tiap minggu kita ketemu? Pernahkah kita saling bertukar nomor HP dengan mereka yang duduk di sebelah kita? Aroma “tidak hangat” di antara umat Katolik inilah yang acapkali membuat orang tidak krasan lagi menjadi bagian Gereja Katolik. Mereka mencari komunitas lain yang lebih “hangat.”

 

Berkenaan dengan situasi saat ini syukurlah bahwa setelah kurun waktu 25 tahun Keuskupan Bandung telah mengadakan sinode. Dalam sinode tahun 2015 itu sebagai langkah dinamika kehidupan meng-Gereja kita di Keuskupan Bandung, arah pastoral (kegembalaan) Gereja menekankan persekutuan kecil ( Gereja Kecil) sebagai sesuatu yang harus diperhatikan. Keluarga bersekutu dalam Komunitas Basis Gerejani itulah tema sentral 2017 perjalanan iman uamt Allah di keuskupan kita. Arah ini sangat dipengaruhi oleh situasi kekinian kehidupan keluarga kita yang makin menantang bahkan menentang dari berbagai segi harapan ideal kita. Bahasan topik kali ini membahas tentang kemajemukan permasalahan yang makin kentara terutama kemajemukan keagamaan, budaya dan kenyataan kemiskinan yang melanda dan sedang mengiringi perjalanan iman kita. Tentu sebuah permenungan yang mendasar, masihkah relevan lingkungan semakin dipertahankan, termasuk lunturnya persaudaraan dalam tegur sapa, dan canda tawa tanda sebagai satu keluarga Katolik makin membuat orang tidak krasan lagi menjadi bagian satu sama lain. Komunitas basis, pemicu lunturnya wajah Gereja mengajak pada kita untuk merenungkan segi positif nya yaitu bahwa jika komunitas basis tidak dihidupi lagi, tidak dijaga lagi, tidak mendapatkan perawatan lagi bahkan tidak lagi pernah disuburkan kembali maka lunturlah wajah Gereja kebanggan kita. Oleh karenanya seiring dengan ini,  betapa pentingnya kita memperkokoh kembali fondasi Gereja yang Mahadahsyat ini melalui batu-batu hidup yaitu keluarga-keluarga kecil yang ada di lingkungan untuk makin dipedulikan. Nah bagaimanakah situasi keluarga yang sesungguhnya?

 

Keluarga sebagai bentuk komunitas umat beriman dibentuk berdasarkan kedekatan tempat tinggal (teritorial) dan kesamaan (kategorial). Keluarga-keluarga itu diharapkan sering bertemu dalam waktu-waktu tertentu karena tinggal berdekatan atau karena ingin berada dalam kategori sejenis. Selanjutnya pembentukan keluarga-keluarga dalam lingkungan inilah yang dimaksudkan dengan Umat basis. Umat basis ini perlu terus menerus diberdayakan terumata perhatian kepada anak-anak agar semakin meningkatkan kualitas iman, persaudaraan dan pelayannya serta regenerasinya. Oleh karenanya betapa pentingnya ketangguhan lingkungan. Lingkungan bagi kita adalah salah satu kekhasan Gereja Katolik Indonesia. Adanya sistem lingkungan/ kring/stasi dalam pelayanan pastoral parokial-teritorial yang memungkinkan semakin banyak kaum beriman awam terlibat dalam pengembangan Gereja seperti yang diharapkan oleh Konsili Vatikan II. Dan yang menarik, konon cikal-bakal lingkungan ini ternyata sudah ada jauh sebelum Konsili Vatikan II, bahkan sebelum Perang Dunia II. Maka sudah berapa lamakah keberadaan lingkungan hingga kini. Namun masihkah kita berbangga dengan kenyataan yang ada, sementara tantangan jaman terutama dalam kesibukan, kenikmatan dan budaya instant makin merasuki pergumulan iman.

 

Memang awalnya lingkungan dibentuk agar menjadi batu-batu hidup dan fundamen kokoh bagi berdirinya sebuah Gereja yang kokoh serta tangguh. Bahkan munculnya peranan dari para pamong kring (pendamping) ini berperan sebagai gembala bagi umat kringnya, dimana mereka dipercaya untuk memimpin ibadat-ibadat, mengajar calon baptis, juga membimbing umat yang mengalami kesulitan.Dalam perkembangan waktu, sistem “bapak pamong kring” ini kemudian berkembang menjadi sistem lingkungan yang kemudian juga dimasukkan dalam struktur dewan pastoral paroki. Dalam semangat kepemimpinan partisipatoris, “salib pelayanan” umat di lingkungan tidak lagi “dibebankan” pada pundak ketua lingkungan  saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama para pengurus lingkungan. Keterlibatan para pengurus lingkungan sungguh membantu dan melipatgandakan tenaga dan perhatian pastoral Pastor Paroki. Dan menarik untuk dicermati, “sekolah pelayanan dan kerjasama” para pengurus lingkungan ini sekaligus merupakan salah satu wahana dan peluang untuk mempersiapkan kader-kader pengurus Dewan pastoral paroki.

 

Di tahun sekarang ini, wajah Gereja menjadi makin luntur karena tampaknya kepeduliaan hidup manusia, umat makin mengarah kepada individualistis dan kurang menyatu dalam kebersamaan. Bagi sebagian umat mungkin tidak setuju tapi inilah refleksi kita, karena salah satu kekuatan dalam pelayanan menjadi kendor karena untuk menjaring para petugas Gereja ataupun menjaring kader pengurus lingkungan sangatlah tidak mudah. Ada kecenderungan di antara umat untuk “mengabadikan” para pengurus lingkungan dengan sebutan 4 L ( lu lagi lu lagi). Kesulitan mencari pengurus lingkungan semakin nyata tatkala lingkungan hendak dimekarkan. Menurut saya, kesulitannya bukan lantaran tidak adanya orang yang mau dan mampu, melainkan karena belum adanya sistem yang mempersiapkan para kader pengurus lingkungan. Selama ini pertemuan koordinasi wilayah-lingkuan, pembekalan dan penyegaran (ketua) pengurus lingkungan ditujukan kepada mereka yang baru atau sudah ditunjuk menjadi pengurus. Maka bila bermaksud menjaring “wajah baru” dalam kepengurusan lingkungan, terlebih demi regenerasi pelayanan umat di lingkungan, kesulitan yang sama terulang: mereka yang akan dipilih dan ditunjuk merasa belum siap lantaran pelbagai dalih dan alasan.

 

Oleh karenanya sebagai orang beriman Katolik kini marilah kita merenungkan apakah kita tidak pernah memikirkan hancurnya Gereja itupun disebabkan karena ketidakpedulianku. Kini marilah kita buka mata kita, kita melekkan mata kita agar sejauh mata memandang dan sedekat telinga kita mendengar, tidak bisa tidak kita harus menjaga kelunturan wajah Gereja yang tangguh dan kokoh ini dengan mempertahankan keberadaan lingkungan tempat kita menyatu sebagai sebuah komunitas. Marilah melalui lingkungan-lingkungan tempat kita berdiam dan berdomisili kita diajak untuk senantiasa peduli akan kegiatan-kegiatan dan himbauan-himbauan yang diadakan dalam lingkungan  di mana kita tinggal. Sebuah lingkungan, sebagai sebuah komunitas basis tampak segar dan sehat itu karena satu sama lain saling peduli dan satu keluarga dengan keluarga yang lain bisa membantu dalam menjalani hidup keimanan ini dengan lebih baik.”

Kini apa yang harus dibuat oleh masing-masing dari kita agar tidak semakin luntur dan runtuh wajah Gereja kita ini? Pantaskah kita sebagai seorang Putra Putri Allah Bapa mencuci tangan terhadap kecuekan, ketidakpeduliaan bahkan ketidak aktifan kita yang pelan-pelan melanda sikap hidup perorangan yang makin sulit, pelit, rumit seta berbelit-belit untuk turun tangan dalam pelayanan. Bukankah kita lah yang mesti bertanggungjawab atas ketangguhan dan berdirinya Gereja saat ini?

 

oleh Pst. S. Budi Saptono,OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*