GEREJA : Paguyuban yang Hidup

guyub  Tahun ini, 2017, umat Keuskupan Bandung, bersama memikirkan dan mengusahakan terwujud-nya “Keluarga yang Bersekutu dalam Komunitas Basis Gerejani (KBG). Tulisan ini merupakan usaha kecil untuk menguraikan beberapa hal saja tentang Komunitas Basis Gerejani (KBG, Basic Ecclesial Community) dan mengapa hal itu perlu diwujudkan.

1.       Manakah yang dimaksud dengan Gereja? Gereja adalah himpunan orang, umat. Tapi bukan sembarang himpunan, ump orang yang berkumpul di pasar, atawa di arena sepak bola. Orang-orang yang berhimpun yang dimaksud di sini adalah umat yang beriman kepada Allah, dalam nama Yesus Kristus. Itulah pandangan sejak Konsili Vatican II.

2.      Umat yang berhimpun ini bukan sekedar untuk berhimpun. Mereka punya panggilan. Apa panggilanya? Umat yang berhimpun ini, karena sakramen baptis dan Penguatan yang diterima masing-asing , dipanggil dan punya kekuatan untuk hidup dalam kekudusan, bertang-gungjawab atas hidup intern gereja, dan atas missinya di dunia sekitarnya, dalam rangka menghadirkan Kerajaan Allah.

3.      Siapa yang harus mengurus Gereja? Pengurusnya memang a.l. para pastor. Tapi tentu, bukan urusan pastor saja. Tepatnya, Gereja adalah urusan pastor yang bekerjasama dengan umat menurut urutan dan perannya masing-masing.

4.      Manakah model menggereja untuk jaman sekarang? Adalah Gereja sebagai Persekutuan dari Komunitas-komunitas Basis, Communion of Communities, seperti sering didengungkan dengan kuat mendiang Paus Yohanes Paulus II (St. Yohanes Paulus II) selama 20 tahun menjabat sebagai Paus. Itulah cara menggereja yang sejati Abad XXI.

5.      Gereja macam apa itu?  Itu adalah Gereja yang mengikuti model Gereja Perdana, yakni umat Kristiani pertama di Yerusalem, seperti digambarkan Kis 2:41-47 dan 4:32-37.

6.      Apa yang khas dari gereja perdana itu?  Gereja perdana itu adalah uamta yang hidup dalam persekutuan, dalam suatu paguyuban yang hidup. Itu bukan organisasi teknis melulu, meski penataan rapi tertib itu terang penting sekali. Tapi cirinya yang menyolok adalah keguyuban hidupnya sebagai umat Kristiani; organisme, bukan organisasi.

7.      Tapi kan, kita sudah ikut misa tiap Minggu. Bahwa setiap orang Katolik hadir dalam perayaan Ekaristi (Misa), paling tidak tiap Minggu, itu memenuhi aturan Gereja. Misa atau Ekaristi adalah ‘puncak dan sumber’ hidup umat Katolik, perlu diindahkan, menjadi tenaga, semangat daya dorong untuk hidup Kristiani sehari-hari, menjadi culmen et fons (puncak dan sumber hidup Gereja). Tapi, dalam ihtiar membangun persekutuan yang hidup, ikut misa saja tidak cukup.

8.      Mengapa belum cukup? Karena, ciri bersekutunya, hubungan dekat, saling mengenal,  bahkan dekat, belum terwujud selengkapnya. Dalam ikut Misa, banyak umat baru ber-temu secara anonim saja, baru pada tahap ikut upacara saja, ritualistik saja. Keguyuban hidupnya dalam banyak seginya belum nyata terlihat dalam hidupnya dari hari ke hari.

9.      Buktinya? Buktinya: Dalam misa, terang sekali umat tak sempat bertemu satu sama lain, apalagi sungguh kenal, dibatas 1 setengah jam saja. Apalagi dilakukan hanya seminggu sekali. Malah masih banyak yang ikut Misa Na-Pas saja. Belum disebut: Ump. dari 6000 umat yang ada di St. Laurentius ini, sudahkaah semuanya ke Gereja. Alasan lain: Datang ke misa tidak pada waktu dan jam yang sama. Di antara yang hadir, belum tentu umat bertegur-sapa. Apalagi kalau ada hal seperti ini:“Ah, saya mah nggak mau duduk dekat orang itu!” Lalu, saat selesai misa, pulang tergesa-gesa. Mobil yang diparkir diminta buru-buru pergi, agar tidak menghalangi yang lain yang mau keluar. Dalam misa di Gereja, umat berkumpul dalam kelompok besar, massal. Kalau begitu, memang tidak gampang untuk dapat guyub, dekat satu dengan yang lain.

10.   Manakah ciri keguyubannya sebagai persekutuan? Cirinya, para anggotanya saling mengenal, saling berhubungan, bukan berhubungan selintas, tapi sungguh erat, saling prihatin. Idealnya keguyuban itu terwujud di mana akhirnya setiap umat paroki merasa bahwa masing-masing saling mengetahui adanya dan keadaannya, saling merasa diperha-tikan, saling disambut kehadirannya, saling menolong.

11.    Cirinya yang khas?  Masing-masing umat Kristiani dapat saling berhubungan dalam banyak aspek hidupnya. Itu terlihat dalam hidup umat Gereja perdana. Bukan ritualistik cukup dengan misa mingguan saja. Silakan baca Kis 2:41-47:

** mereka bertekun dalam pengajaran para rasul, dan dalam persekutuan** selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa; **  Dalam Kis 4:32-37, mereka itu: **sehati-sejiwa,

** tidak ada seorangpun yang berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya itu miliknya sendiri; tetapi segala sesuatu itu adalah kepunyaan bersama** para rasulnya memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus** hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah, ** tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; ** sebab hasil penjualan mereka bawa dan letakkan di kaki para rasul; ** hasilnya dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.” 

12.   Bagaimana agar gereja yang guyub demikian terwujud secara efektif?  Guna meraih cita-cita hidup menggerja yang mendekati semangat umat gereja perdana demikian, perlulah terus diusahakan terbentuknya HIMPUNAN-HIMPUNAN UMAT KRISTIANI DALAM JUMLAH KECIL. Kelompok umat itulah yang disebut dengan KOMUNITAS BASIS GEREJANI (KBG).

 Seperti kata St. Yohanes Paulus, dalam komunitas seperti itulah akan terwujud hubungan manusia yang sejati dan Kristiani. Hidup dan menghidupkan Komunitas demikian  itu disebut sebagai cara baru menggereja Abad XXI dan umat Kristian ditantang mewujudkanya. Memang tidak gampang, tapi bukan tidak mungkin bila disertai bantuan rahmat Tuhan.

 

Oleh: Pst. Thomas Maman Suharman,OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*