Kasih Ibu Sepanjang Masa?

be1229633d3a4e9f9d0fba1db2f1287aSaya selalu berpikir bahwa kasih sayang seorang Ibu untuk anaknya akan begitu saja ‘hadir’. Ketika seorang wanita melahirkan bayinya, ia memegang dan mencium si kecil itu dan ibu akan langsung jatuh cinta pada anaknya. Di minggu-minggu pertama  perasaan si Ibu luar biasa. Si kecil adalah bayi yang paling bagus dan paling manis di dunia, namun ternyata kakak saya mempunyai pengalaman lain. Perasaan-perasaan tersebut tidak langsung ia alami. Sesudah bersalin, ia memandang bayinya dan berpikir, “Kamukah  yang selama sembilan bulan berada di dalam perut saya ?” Ia tidak  mengenalnya dan tidak merasakan adanya keterikatan pada anaknya itu. Ia juga tidak ‘jatuh cinta’ pada anaknya. Mungkin perasaan itu muncul karena kecapaian sesudah bersalin, suatu proses  yang ia alami sebagai proses yang cukup berat dan melelahkan. Suaminya bahagia dan senang sekali ketika melihat anaknya lahir. “Oooh,  kamu yang paling manis, paling cantik, paling ini dan itu.” Kakak saya bilang kepada saya, “Ketika itu saya iri hati pada suamiku. Ia bisa mempunyai perasaan yang begitu bagus, begitu baik tentang anak kami, namun saya tidak.  Bagaimana mungkin? Malu saya! Sayalah ibunya, mengapa saya bisa begitu “dingin” terhadap si kecil?“  Keesokan harinya Pastor datang dan mengucapkan selamat dan kita bersama-sama berdoa dan bersyukur kepada Allah atas anak ini. “Saya menangis”, kata kakak saya, ”karena saya tidak dapat merasakan kasih sayang kepada anakku itu.”

Sesudah dua hari kakak saya boleh pulang dengan bayinya. Perasaannya tetap sama juga. Kakak saya melakukan segala tugas yang harus dilakukan seorang ibu secara otomatis,namun ia tidak menikmati kehadiran dan kedekatan anaknya ketika ia menyusuinya, ketika ia menggendongnya, ketika ia memandikannya. Kakak saya makin cemas dan gelisah. Mana kasih sayang buat anak saya? Mengapa saya tidak merasakan kasih sayang itu kepadanya? Apa yang tidak beres dengan saya? Apakah saya tidak normal? Kok, ketika sedang hamil saya berpikir betapa besar kasih sayang saya kepada anak saya nanti sesudah melahirkannya. Lebih-lebih karena ibu-ibu lain sering mengatakan bahwa kasih sayang pada anak lebih besar daripada kepada suami. Padahal kasih saya pada suamiku sudah besar sekali. Saya sangat sayang kepadanya. Ketika itu saya bermimpi tentang anak saya di dalam kandungan saya: bagaimana perasaan saya nanti kalau sesudah bersalin langsung mencintaimu dan langsung mempunyai keterikatan mesra denganmu. Saya berpikir,  betapa lama saya berpacaran dengan suami saya dahulu sebelum sungguh dapat menyayanginya! Dan nanti… belum pernah melihat anak itu dan langsung dapat  mencintainya? Dahsyat! Ternyata tidak ada perasaan kasih sayang itu…. apakah saya bukan seorang ibu yang baik untuk dia?

Sekarang, kata kakak saya (sekian tahun kemudian), saya meyakini kasih sayang saya kepada suamiku berbeda dengan kasih sayang kepada anak saya. Saya merasakan keterikatan dalam dengan anak saya  yang gen-gennya 50% dari pada saya, namun kasih sayang kepada suami saya juga bertambah mesra.  Kasih ini lain sekali dan tidak dapat dibandingkan. Kasih sayang saya mencapai puncaknya ketika saya melihat suamiku sedang bermain bersama anak kita dan berpelukan. Melihat itu saya merasa kasih sayang kepada mereka yang tak terungkapkan. Saya sungguh terharu dan bisa menangis kebahagiaan. Pada saat-saat seperti itu saya ingin memasukkan kasih itu ke dalam kotak kecil untuk disimpan di dalamnya. Mereka bersama,  itulah dunia saya. Bersama mereka dunia saya sempurna.

Dengan kata lain, kasih ibu ada di dalam setiap ibu yang baru. Tetapi pada ibu yang satu muncul dengan spontan sesudah bersalin, dan pada ibu lain kasih itu membutuhkan waktu untuk bertumbuh. Kalau merasa gelisah karenanya, ya bicarakanlah hal itu dengan seseorang, dokter, suamimu, teman-temanmu yang juga mempunyai anak-anak. Mungkin ibu perlu ‘curhat’ supaya merasa lega lagi. Ibu seperti itu bukan ibu yang tidak normal, atau kurang baik, meskipun kasih sayang pada anak yang baru ibu lahirkan belum terasa.  Maka apa yang harus dilakukan selain ‘curhat’? Berilah waktu kepada dirimu sendiri untuk berkembang dalam peranan baru. Itu saja. Ya, kasih seorang Ibu sepanjang masa, namun membutuhkan waktu untuk bertumbuh.

Terima kasih Tuhan atas Ibuku.  kasihnya sepanjang hidup saya, meskipun saya harus ‘belajar’ mengasihi dan menyayangi dia, karena saya  hampir selalu hidup terpisah dari padanya sejak kecil. Saya sudah berumur 31 tahun baru ‘plong’ merasakan kasih sayang ibu terhadap saya dan saya terhadap dia. Ibu saya sudah wafat 37 tahun yang lalu tetapi ia tetap hadir, dan ia tetap mengasihi saya dan saya pun tetap menyayangi dia. Terima kasih Tuhan!

 

Oleh :

Pst. Fons Bogaartz, OSC.


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*