Pelayan-Ku, Pahlawan-Ku

8142_840x576 Mengapa kita menyebut seseorang Pahlawan? Karena kita melihat, merasakan, atau mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang tersebut adalah hal yang luar biasa. Kita menyebutnya luar biasa dilihat dari cara melakukannya, motivasinya, tujuannya dan dampaknya. Cara orang tersebut melakukan sesuatu bukan cara atau kebiasaan orang pada umumnya. Motivasi untuk bertindak bukan demi kepentingan personal. Tujuan yang hendak dicapai adalah demi orang lain. Dampak dari apa yang dilakukan, dirasakan oleh pihak lain. Martyria menjadi sipirit utama seseorang pahlawan dalam bertindak: demi kemuliaan martabat ciptaan, demi tumbuhnya dan berkembangnya suatu yang dicita-citakan, demi kumunio, demi pembebasan dari penderitaan, demi kesejahteraan, dan demi kebenaran.

Dalam konteks hidup menggereja, siapakah yang layak disebut pahlawan? Bagi saya pribadi yang menjadi pahlawan pertama adalah para Rasul. Mereka melanjutkan visi misi Yesus Kristus dengan semangat martyria yang luar biasa. Bahkan para Rasul wafat sebagai martir: mengorbankan nyawanya sendiri demi tegaknya Kerajaan Allah. Setelah era para Rasul atau era para Murid Yesus, muncul tokoh-tokoh yang melanjutkan tongkat pewartaan lewat berbagai cara, baik dari awam, maupun dari golongan biarawan-biarwati/hirarki.

Di kemudian hari, yang disebut missionaris menyebar ke segala penjuru dunia karena imannya, ikut mewartakan Kerajaan Allah/menaburkan benih-benih Gereja dan merawatnya sampai tumbuh berkembang seperti saat ini. Para missionaris meninggalkan negaranya, keluarganya, kenyamanannya demi pewartaan. Apa yang dilakukan oleh para missionaris ini tidak biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Dalam hal ini, para missionaris menjadi orang-orang yang istimewa. Istimewa karena: menanggapi panggilan Tuhan, rela meninggalkan kenyamanan seperti Abraham, berjuang dan tahan banting atas situasi yang menantang. Tanpa keistimewaan pribadi para missionaris, Gereja tidak akan tumbuh dan menyebar seperti sekarang. Para missionaris itu adalah pahlawan.

Namun, gerak penyebaran Gereja tidak melulu karena missionaris semata. Iman yang telah ditaburkan oleh para missionaris tersebut tumbuh dan berbuah dalam hidup banyak umat. Umat beriman ini pun menjadi “missionaris” lokal yang ikut serta mewartakan Kerajaan Allah lewat Gereja. Banyak awam yang menunjukkan kepahlawanan dalam kerasulannya untuk melayani Gereja. Bukan karena mereka punya segalanya untuk melayani, tetapi karena dalam hati mereka “martyria” itu hidup dan mendorong untuk tidak hanya sebagai umat biasa-biasa saja. Banyak awam menunjukkan pengorbanan lahir dan batin demi Gereja. Mereka tidak mengeluh, mereka tidak menangis dan menyesal atas pengorbanan. Yang ada dan hidup dalam diri mereka adalah “melakuakan apa yang harus dilakukan sebagai murid Kristus, anggota Gereja”. Dasar utamanya adalah iman yang hidup dan menghidupkan diri sendiri dan menghidupkan orang lain. Para awam ini adalah pahlawan.

Saya sangat mengagumi dan menghormati seorang umat dan keluarganya. Kekaguman dan rasa hormat saya muncul setelah mendengarkan soal hidup orang tersebut dari pihak lain dan juga setelah saya mengamati pelayanannya di tengah Gereja.

Bapak yang saya hormati dan kagumi hanya seorang buruh pabrik. Isterinya ibu rumah tangga biasa. Sebelum ada Gereja Paroki seperti sekarang, umat tersebar di perumahan-perumanhan sederhana di wilayah itu. Bapak ini, setelah pulang kerja dari pabrik berkeliling dengan sepedanya ke kampung-kampung penduduk dan perumahan-perumahan yang masih sedikit penghuni. Dia mencari tahu siapa keluarga katolik dan menyapa keluarga-kelaurga itu. Bapak itu tidak sekedar mendata, tetapi kemudian membuat pertemuan rutin. Dalam Satu minggu, Bapak ini menghadiri pertemuan umat bisa empat kali di tempat berbeda. Beberapa perumahan hanya dihuni oleh tiga keluarga Katolik. Beberapa umat  bercerita bahwa kadang tidak tega melihat bapak itu datang ke tempat mereka dengan mengayuh sepeda hanya untuk menyapa dan mengumpulkan umat. Umat akhirnya saling kenal dan membentuk lingkungan. Umat mengatakan, bahwa Bapak itu telah membuat orang-orang Katolik, khususnya yang tinggal di satu perumahan, menjadi satu keluarga.  Dulu wilayah paroki tersebut adalah wilayah yang sepi penghuni. Paroki tersebut sekarang menjadi paroki besar seiring perkembangan perumahan. Bapak itu adalah pahlawan.

Bapak ini, dengan cara dan pengorbanan luar biasa telah meletakkan dasar komunio di paroki tersebut. Sampai sekarang Bapak ini masih aktif mengajar para katekumen, walaupun tidak berlatar pendidikan katekis.

Pasti banyak umat yang menjadi pahlawan seperti Bapak tersebut. Para pahlawan ini adalah orang-orang yang luar biasa sumbangsihnya bagi Gereja, bagi umat. Mereka bersikap seperti hamba, “melakukan apa yang harus dilakukan” sebagai orang beriman, sebagai umat, sebagai anggota Gereja Kudus. Mereka berbuat bukan untuk dirinya sendiri, tetapi demi Kerajaan Allah yang hadir dan berdampak dalam hidup Gereja. Mereka adalah pahlawan.

 

Oleh:

Pst. Sangker Sihotang, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*