Ada Apa di Balik Kecintaan Kita Terhadap Budaya

toleransi-agamaTepat tanggal 17 Agustus yang lalu merupakan hari kemerdekaan Indonesia ke-71, saya keliling dengan sepeda motor mengamati gegap gempitanya sukacita warga. Hiasan bendera, umbul-umbul merah putih menjadi bagian warna hiasan sepanjang jalan.  Itulah tradisi dan warisan kemenangan masa lalu yang kini menjadi kecintaan kita pada bangsa yang terus dirayakan. Apakah ini sebagai tradisi membudaya? Apakah dengan merayakan perayaan ini aku cinta pada budaya? Tradisi dimaknai sebagai adat kebiasaan turun-temurun dari para pejuang, pengenang dan penerus bagi kita sekarang ini. Harapan kita bahwa para pendahulu mengajarkan untuk menjaga cara-cara yang mulia, yang paling benar, baik dan hendaklah diisi dengan penghayatan yang tepat. Inilah pembuka pandanganku tentang wawasan mencintai warisan budaya.

 

Saya sadar bahwa zaman sekarang, mencintai seperti yang ditradisikan itu tidak terlepas dari jatuh hati kita pada sebuah komitmen. Sekarang ini tahun pastoral Keuskupan Bandung sedang mencanangkan Tahun keluarga maka Bagaimana Keluarga Menghadirkan Belas Kasih Allah. Keluarga sebagai bagian wujud sakramental perkawinan sangat menentang adanya perceraian, namunsayang bahwa perceraian bukanlah sesuatu yang tabu sekarang ini, bahkan tradisi budaya luhur dibenturkan juga dengan ideologi-ideologi baru. Lihatlah berita-berita di TV, banyak sekali artis yang kawin cerai dengan mudahnya, bahkan ada yang dalam hitungan bulan usia pernikahanmemutuskan untuk bercerai. Tidak hanya di kalangan artis, di lingkungan sekitar kita pun banyak yang melakukan perceraian. Sungguh memprihatinkan. Pertanyaan kita, apalah artinya sebuah ikatan tanpa komitmen dan kesetiaan dalam tradisi luhur akan nilai perkawinan? Apakah ada unsur warisan yang senantiasa dijaga demi sebuah kesetiaan dari waktu ke waktu atau masa ke masa?

 

Dalam pandangan budaya manapun, perkawinan itu adalah sakral atau kudus. Apalagi agama Katolik adalah agama menjunjung tinggi  tradisi, budaya bahkan penghayatan makna yang sungguh. Ketika dua orang bertemu dari latar belakang suku dan budaya yang berbeda dan dua orang yang saling jatuh cinta demi sebuah budaya yang dimaknai dengan baik maka hendaklah mereka berdua mengikatkan janji dalam sebuah pernikahan. Oleh karenanya jika kesetiaan dan penghargaan dari niat dan tekad dari keduanya bermutu maka perlulah juga mereka mengambil komitmen agar rumah tangga perkawinannya tetap langgeng.

Perceraian yang semakin marak terjadi disebabkan karena masing-masing atau keduanya tidakmemiliki adanya kesadaran akan sebuah komitmenataukeputusanhati dalam diri masing-masing. Saat suka maupun duka, senang atau tidak. Komitmenlebih kuat dari sebuah janji yang lahir dari sikap hati dan tidak perlu diucapkan. Setiap kita pasti mempunyai komitmen dalam kehidupan kita.

 

Demikian juga dengan hubungan pribadi kita dengan Tuhan dalam hidup beriman. Saat pertama kali kita memutuskan untuk percaya dan beriman kepada Yesus melalui Baptisan yang merupakanwarisantradisibudayaseperti yang di alami Yesus pada masanya. Sakramen Baptis perlu kita jadikan sebagai suatu pilihan hidup dalam sebuah komitmen untuk tetap setia apapun dan bagaimanapun situasi yang terjadi. Kesetiaan menjadi faktor utama dalam sebuah komitmen. Jika kesetiaandankasih kita pada Kristus tidak kita jaga, maka akan berakibat buruk bagi baptisan kita. Kita akan mengalami mati rohani dan lebih parahnya lagi kita dapat “bercerai” dengan Kristus. Banyak sekali yang menjual keselamatan yang sudah didapatnya hanya demi sesuatu hal duniawi, misal kedudukan, kekayaan atau pasangan hidup. Mereka menjual kehidupan kekal yang sudah mereka terima hanya untuk sebuah kenikmatan sesaat saja.

 

Sebagai anak-anak Tuhan, milikilah komitmen dan kesetiaan untuk tidak meninggalkan Tuhan. Saya kira inilah warisan tradisi budaya keluarga demi sebuah kelanggengan budaya keluarga kita sendiri. Kami keluarga Katolik dan seharusnyalah keluarga kami menjaga tradisi Kekatolikan sampai kapanpun. Prinsip hidup dalam keluarga jika ditanamkan dan ditradisikan tentunya akan menyelamatkan keluarga dari keterpecahan di kemudian hari. Kita sadar bahwa di dalam menjalani kehidupan ini, kita tidak akan bisa berjalan sendiri. Pasti ada ketakutan, kekecewaan, ketidakpastian, keputusasaan, dll yang akan menjadi penghambat komitmen dan kesetiaan kita, namun percayalah semua hal itu diijinkan Tuhan sebagai bagian dari proses pendewasaan diri. Komitmen dan kesetiaan itu membutuhkan ujian, sebab kita tidak akan mungkin bisa menjadi setia tanpa sebuah komitmen, demikian juga komitmen tidak akan terwujud tanpa sebuah ujian. Ketika saatnya tiba kita pasti akan mendapatkan buah dari komitmen dan kesetiaan kita.

 

Demikianlah harapan kita semua dalam iman.Mengapa kita harus memiliki kecintaan kita pada budaya? Ingatlah cerminan hidup tradisi keluarga yang baik akan tersalurkan juga dalam pandangan memperlakukan budayanya dengan benar. Ada seorang ahli dari Belanda, Geert Hofstede mendefinisikannya “Culture is the software of the mind” (Budaya adalah perangkat lunak dari pikiran). Maka kita ini sebagai warga yang berbudaya,sangat menjadi pelaku yang sungguh demi sebuah kesetiaan dan komitmen. Iman akan bertumbuh bilabudaya dijadikan sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Maka mencintai warisan budaya itulah yang harus menjadi pekerjaan rumah yang tak pernah selesai seiring dengan pemahaman makna yang sungguh dari zaman ke zaman dari sebuah generasi.

 

Demikian akhirnya kehidupan beragama di suatu masyarakat tentu terkait dengan bagian kehidupan lainnya. Budaya adalah salah satu aspek dominan dalam kehidupan yang mempengaruhi kehidupan beragama. Fenomena demikian dapat diamati secara kasat mata di banyak tempat, terlebih di pedesaan, di mana hubungan tersebut terlihat sangat intim. Bahasa yang digunakan dalam peribadatan pun sebenarnya adalah sarat dengan muatan budaya, karena bahasa sendiri adalah salah satu aspek budaya juga. Pengaruh modernitas di tengah masyarakat perkotaan cukup jelas dalam kehidupan beragama. Ya, ada kalanya budaya juga bisa menjadi kendala. Hal ini juga dialami oleh para rasul maupun Yesus sendiri dalam pelayanan mereka. Dan hari ini kita bisa menarik pelajaran tentang bagaimana Yesus melayani seseorang dari budaya yang berbeda. Namun Yesus tak menghakimi, Ia tidak menuduh, Ia tidak memandang rendah, melainkan Ia justru bicara dengan bahasa kasih untuk membawa misi penyembahan dalam Roh dan kebenaran.

 

Semoga pandangan saya ini sesungguhnya ingin membawa pada kita semua agar janganlah kita melepaskan budaya dan tradisi. Justru dalam budaya dan tradisi itulah kita harus mengembangkan kemanusiaan dan komunitas kita. Budaya dan tradisi menjadi bagi kita untuk memaknai alam, sesama dan Tuhan, bahkan iman itu sendiri yang telah diwariskan oleh pendahulu atau para rasul agar dikembangkan dengan budaya dan tradisi yang baru. Iman, budaya, dan nilai-nilai yang dilestarikan harus menyatu dan saling menghidupi. Jadi kita tak boleh anti budaya namun harus kritis terhadap budaya. Kita jugaperlu behati-hati, jangan mencampuradukkan iman Kekatolikan dengan kepercayaan-kepercayaan lain. Tentu tradisi yang tidak mengandung unsur pemujaan kepada allah lain bahkan mengandung nilai-nilai solidaritas dan kemanusiaan perlulah kita hargai dan terima. Bila perlu tradisi itu yang senantiasa mengarahkan dan melandaskan komitmen dan kesetiaan kita pakai untuk selalu memberi makna yang lebih Katolik.

 

Oleh :

Pst. Setevanus Budi Saptono, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*