MEMBERI NAMA BAPTIS

www.mikeyangels.co.uk1.       Berbagai Cara dan Alasan Pemberian Nama

 

Seketika para orangtua punya bayi, orangtua ingin memberi namanya, tapi ada juga orangtua yang mempercayakan pemberian nama kepada bayinya kepada mereka yang  menganggap berwibawa yang dituakan. Memang banyak bagi orang (Timur) nama bukanlah sekedar tanda untuk membedakan anak yang satu dari anak lainnya. Bukan dengan maksud seperti berikut ini: Anak pertama agar beda dari adiknya, maka dipanggil Dedi (Setiadi); yang kedua dipanggil Didu (Badudu). Tidak begitu tujuan pemberian nama, nama sering jadi ungkapan harapan orangtua atas hidup anak di masa depan.

Di masa lalu khususnya, sering terjadi nama yang diberikan kepada anak adalah yang sesuai dengan harapan, cita-cita, dan keinginan orangtua. Seperti contoh, orangtua yang memberi nama kepada anaknya Sastradimeja, berharap anaknya jadi “orang yang suka menulis di belakang meja”, pekerjaan yang dianggap lebih mulia daripada buruh yang mencangkul, ia dianggap dengan jabatan itu  “jadi orang”, dadi wong. Demikian, harapan akan munculnya kondisi baru yang lebih baik, diindikasikan dengan penerimaan nama baru. Dalam Kitab Suci (Kej. 17:5), misalnya, nama Abram jadi Abraham, sebagai tanda bahwa ia menerima berkat Tuhan dan menjadi Bapa para bangsa.

Sekarang di Indonesia banyak orangtua yang memberi nama kepada anaknya dengan keinginan (lebih pragmatis), agar lebih pop , lebih modern, lebih komersial, didukung oleh ideologi kemajuan dan selera pasar lewat iklan dan film. Maka tak heran kalau nama-nama yang muncul terdengarnya Kristiani atau Barat, umpamanya: Conchita, Emilia, Andrew, Sylvia, Lydia, Gerry (dari Geraldus), Bobby (dari Robertus) Ricky (dari Rikardus). Nama demikian diberikan dengan maksud agar tidak terdengar kuno, melainkan sesuai dengan selera komersial/modern. Itulah nama yang banyak disandang oleh para pesohor (selebritas: penyanyi, musisi, model, dll). Tapi jelas, mereka itu belum tentu orang Kristiani/Katolik.

 

 

2.      Pemberian Nama Baptis

 

Sudah menjadi adat dalam Gereja Katolik bahwa orang tua yang anaknya/ orang yang akan  dibaptis diberi nama baru. Nama baptis dengan nama orang kudus tertentu, penempatannya bisa di depan, di tengah atau di akhir nama yang diberikan orang tua. Dengan begitu terpenuhi: Kondisi baru ditandai dengan nama baru. Dalam kenyataannya ada daerah tertentu umpamanya di Indonesia, yang pada saat pembaptisan, nama baptis tidak diberikan.

Bagaimana ketentuannya sebenarnya seperti yang diajarkan Gereja Katolik ? Marilah kita lihat dulu: Sakramen Baptis adalah pintu masuk ke Sakramen lain. Maka syarat-syarat penerimaan sakramen baptis, termasuk syarat pemberian nama baptis, perlu diindahkan, meski  juga jelas tidak perlu dipersusah.

Apa yang diajarkan Gereja pada masa sekarang tentang pemberian nama baptis? Ialah: Hendaknya orangtua, bapak/ibu baptis dan pastor paroki menjaga agar tidak memberikan nama yang asing dari citarasa kristiani (sensus christiana) [KHK 1987]. Mana contohnya “asing dari citarasa Kristiani”? Sama dengan orang lain, orang Kristiani ingin, berdoa, agar anak yang dititipkan Tuhan: tumbuh sehat, baik dihadapan dan bagi orang lain, dan berkenan kepada Tuhan. Jadi doanya bukan tradisional saja seperti hanya agar “jadi orang”; tidak berdoa jadi pesohor (saja), tapi menjadi Kristiani, jadi pengikut Kristus.

Karenanya, agar menjadi Kristiani dalam nama dan praktek hidupnya sekarang dan nanti, jangan anak kita diberi nama yang bertentangan dengan semangat Kristiani. Contohnya (di sini yang paling buruk, biar jelas): Anak diberi nama Lucifer (Kepala Setan), Halloween, Hitler, Stalin, Kartosuwiryo, dsb. Juga, diharapkan tidak memberi nama hanya karena agar sesuai harapan dan keinginan orangtua, atau karena sedang trend, sedang populer, atau bahkan komersial. Juga pemilihan nama, jangan dilakukan karena terdorong persamaan bunyi. Contoh: Karena nama yang diberikan mengandung bunyi ma, Maman-Suharman, maka dipilih nama Thomas. Tidak perlu itu terjadi. Tidak disalahkan memberi nama kepada orang yang dibaptis dengan sebutan yang menunjukkan langsung adanya suasana Kristiani, umpamanya nama Christian, Iustitia, Grace, Iman, dsb. Tapi akan lebih berdampak baik dan terpuji, serta merupakan program hidup bila orangtua memberi anaknya nama orang kudus, dengan riwayat hidupnya yang jelas untuk diteladani dan karenanya menambah kabajikan Kristiani.

Hal yang diandaikan perlu selanjutnya, sebagai konsekuensinya adalah bahwa orangtua wali baptis,  pastor yang memilihkan nama baptis bagi anak  perlu memperkenalkan siapa orang yang dijadikan nama baptisnya itu. Kalau nama baptis yang diberikan adalah Fransiskus Assisi, maka lewat pendidikan anak jadi tahu siapa dan bagaimana riwayat Fransiskus Assisi, sehingga anak dapat meneladan kebajikan orang kudus itu. Bagaimana meneladan jadi pujaan bila tidak dikenal.

Naaahh, pengenalan pada orang kudus yang dijadikan nama baptis dan meneladaninya dalam hidup, jelas sekali menjadi sarana pengudusan diri anak. Dalam bahasa Paus Benediktus XV, nama baptis harus memperkuat dan menyampaikan kepada anak yang sedang tumbuh makna sakramen baptis dan hidup Kristiani. Dengan dibaptis seseorang “memperoleh martabat sebagai anak” dan “tanda yang jelas bahwa Roh Kudus melahirkannya secara baru dari rahim Gereja”. Dengan namanya yang baru, ia diingatkan te-rus sebagai orang yang dipanggil untuk hidup kudus. Nama baptis merupakan kelanjutan hidup dunia ke hidup surgawi. Begitu penting kesadaran akan nama baru batisan, sehingga, dalam upacara baptis, sebelum baptisan, Imam terlebih dulu bertanya: Siapa nama anak ini? Lalu orangtua menyebut nama baptisnya.

Semoga usaha pengenalan dan usaha meneladani para kudus, khususnya yang menjadi nama baptis kita dan anak-anak kita, meningkat, dan dengan demikian, pasti lingkungan keluarga, Gereja dan masyarakat akan mengalami imbasnya, pengaruhnya, yang penuh berkat.

 

Oleh :

Pst Thomas Maman Suharman, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*