Veteran Paroki : Pada Hari Tua, Melepaskan Miliknya?

Veteran-Indonesia-e1439280503122Membaca tema “SUMMA” bulan Agustus 2016 “Veteran Paroki”, maka saya tergerak untuk menuliskan sebuah renungan singkat tentang “Si Veteran dan Miliknya”.

Ketika seorang yang sudah berusia lanjut masih begitu lekat  pada barang-barang miliknya, kita melihat hal itu sebagai situasi yang kurang menarik, kurang pas. Mereka dapat menjadi kikir dan pelit, serta tidak dapat melepaskan sesuatu pun dari miliknya. Banyak orang tua berpikir bahwa mereka harus menjaga miliknya dengan tujuan supaya nanti dapat meninggalkan warisan yang lebih besar. Ibu saya senantiasa berkata, “Kita harus memberi dengan ‘tangan yang hangat’, bukan dari ‘tangan yang dingin’ (dari tangan jenazah)”.

Kadang-kadang orang tua berpegang teguh pada miliknya karena mereka sendiri tidak menyadari lagi, bahwa perasaan ‘saya masih hidup’ didasarkan pada apa yang mereka miliki. Mereka mengumpulkan dan menabung  seakan-akan dengan demikian dapat memundurkan dan menutupi akhir hidup mereka, tetapi apa yang harus diserahkan, membuat mereka sakit (hati), seolah-olah sebagian hidupnya harus diserahkan juga. Karena bagi mereka dalam miliknyalah terletak simbol kehidupannya. Miliknya adalah lambang dari ‘saya masih hidup’. Karena itu mereka sering menimbun barang.

Hidup menjadi dingin bagi mereka yang berpendapat bahwa kehidupannya terletak pada apa yang dimilikinya. Akan tetapi barang siapa yang pada usia lanjut dapat melepaskan miliknya, barang siapa menyumbangkan itu kepada orang miskin atau kepada anak-anaknya, dia menjadi bebas dalam hatinya, dan dia mengalami sesuatu yang hakiki bagi manusia seperti terungkap dalam Mazmur 49:17-18

Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya, dan hartanya bertambah banyak, Sebab waktu mati ia tidak dapat membawa apa-apa, hartanya tak akan turun ke kubur bersama dia”.

Kita perlu menyadari bahwa kita akan meninggal dan di dalam kematian akhirnya semuanya, seluruh milik kita, harus dilepaskan. Maka karena itu ada baiknya kalau kita melatih diri selama masih hidup tentang apa yang dituntut dari kita dalam kematian. Dengan demikian kita dapat menyerahkan diri ke dalam tangan Allah dengan lebih mudah. Barang siapa yang melekat pada miliknya, akan  menderita ketika harus meninggal. Justru dia yang telah melepaskan diri dari miliknya, dapat menyerahkan diri kepada Allah dengan lebih mudah.

Seorang konfrater pernah bercerita tentang ayahnya yang sudah lansia, memberikan barang-barang yang baginya berharga dan penting kepada orang lain. Ia memikirkan kepada siapakah ia akan menyumbangkan buku-buku yang baginya sungguh berarti. Ayah yang sudah tua itu mengalami bahwa melepaskan barang yang berharga baginya,  membebaskannya, melegakan hatinya, dan dia dapat menggembirakan orang lain dengan apa yang berharga bagi dirinya sendiri. Dengan demikian dia menunjukkan penghargaannya bagi mereka.

Melepaskan miliknya membuka jalan menuju orang lain bagi orang tua. Justru karena itu terciptalah relasi-relasi baru. Dan sebaliknya, barang siapa yang menguburkan dirinya di bawah dan di dalam miliknya, dia itu akan makin kesepian.

 

oleh : Pst. Fons Bogaartz, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*