ANAK MUDA YANG BERKARYA dalam GEREJA : Apa yang Kamu cari?

mhGtzV0Mgr. Antonius Bunyamin Subianto memberi perhatian khusus pada kaum muda. Salah satu bukti konkrit dari perhatiannya adalah diadakannya Sinode Kaum Muda di tahun 2016 ini. Sinode Kaum Muda ini dilaksanakan dalam tiga tahap: Sinode Tingkat Paroki, Sinode Tingkat Dekanat, dan akhirnya Sinode Tingkat Keuskupan. Melalui Sinode ini diharapkan Kaum Muda makin mampu merumuskan Identitasnya sebagai umat Katolik dan ambil bagian dalam karya Kerasulan: dalam Keluarga, dalam Gereja (baca: Paroki dan Keuskupan), dalam masyarakat, dan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sinode Kaum Muda ini mendapatkan respon positif dari Kaum Muda.

Saya meyakini bahwa pelaksanaan Sinode Kaum Muda ini, pada akhirnya, akan membawa semangat baru yang khas orang muda dalam memperlihatkan identitas kekatolikannya. Orang muda diharapkan makin berpartisipasi lewat berbagai cara dalam mewartakan Kerejaan Allah.

Kaum Muda harus makin menyadari bahwa mereka adalah Gereja masa kini dan Gereja masa depan. Cara orang muda menghadirkan diri sebagai Gereja pada masa kini memberi warna pada Gereja saat ini, sekaligus memberi gambaran akan Gereja di masa depan.

Kita menyaksikan dan mengalami, bagaimana Kaum Muda pada jaman ini menciptakan hal-hal baru dalam berbagai bidang kehidupan. Hal ini menjadi tanda bahwa kaum muda bukan kaum “pengikut” atau “pembawa tongkat estafet” semata. Mereka tidak lagi sekedar menerima tongkat estafet dari pendahulu, lantas berlari sampai garis finish dengan tongkat yang sama. Sudah sering kita lihat bahwa “tongkat estafet” yang diberikan kepada kaum muda diterima oleh kaum muda, lalu dalam prosesnya berubah menjadi tongkat dengan tampilan yang baru. Misalnya, kegiatan-kegiatan rutin dalam Gereja, ketika diserahkan kepada Kaum Muda, bisa berubah bentuk atau menjadi lain sama sekali dari bentuk terdahulu dengan tetap berpegang pada makna yang hakiki. Maka kegiatan-kegiatan menggereja menjadi tidak statis atau menjemukan.

Mengapa kaum muda membawa pembaruan? Sebab kaum muda adalah kaum “pemimpi”. Kaum muda adalah kaum yang punya mimpi akan hari ini dan hari esok. Mimpi lah yang menggerakkan kaum muda untuk terus berpikir kreatif. Pikiran-pikiran kreatif tersebut ditindak lanjuti dalam bentuk gagasan dan tindakan.

Ungkapan “I have a dream” adalah energi yang tak ada habisnya yang membuat kaum muda bergerak: dari berbaring, lalu duduk, kemudian berdiri, akhirnya berjalan dan berlari. Kaum muda yang tak punya mimpi hanya akan menjadi seorang pelari estafet yang menerima tongkat dari pendahulu, lantas mengakhiri perlombaan dengan tongkat yang sama. Hidup tak berubah, energi terkuras, dan ngosngosan.

Kaum muda adalah golongan yang berani tampil beda. Disebut berbeda, karena bisa lain sama sekali dari “main stream“.Tentu, yang perlu diperhatikan adalah tidak sekedar tampil beda dalam karya. Sebagai Gereja kita mempunyai visi dan misi. Visi dan Misi ini berdasar pada spiritulitas kristiani atau yang sesuai dengan semangat dan tujuan Gereja sendiri.

Maka perumusan makna dan spiritualitas yang mesti dihidupi dari setiap Karya menjadi penting untuk diperhatikan. Kita tahu bahwa kita ini adalah rasul-rasul kecil yang punya tanggungjawab melanjutkan karya pewartaan Kabar Gembira yang dirintis oleh para Nabi dan Yesus. Yesus mengajar, berkarya dan membangun persekutuan.            AjaranNya adalah soal kasih, kebenaran, dan kebijaksanaan hidup. TindakanNya adalah perwujudan dari ajaran-Nya. Para Murid mendengar, melihat, memahami, dan akhirnya melanjutkannya. Setelah pentakosta, para murid menjadi orang-orang yang tampil beda dari kebanyakan orang pada jamannya. Kegigihan mewartakan ajaran Kristus dilakasanakan dengan pengorbanan sehabis-habisnya. Bukan untuk dirinya sendiri, tetapi demi kemuliaan Tuhan dan  keselamatan semua orang.

Banyak orang muda saat ini mempunyai karya yang hebat, tetapi dipertanyakan soal manfaatnya untuk orang banyak. Banyak orang muda juga melakukan karya hebat di tangah-tengah Gereja, namun semakin perlu pula untuk mempertanyakan diri sendiri,”apa tujuannnya, bagaimana pelaksanaannya, nilai-nilai apa yang menggerakkan dan mendasari?” Jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut mestinya tetap dalam konteks identitas dan spiritulitas kristiani.

Keuskupan Agung Jakarta merumuskan nilai yang mau dicapai dari setiap karya Gereja adalah makin beriman, makin bersaudara dan makin berbelarasa. Keuskupan Bandung, melalui Sinode Keuskupan Tahun 2015 dengan Tema “Sehati Sejiwa Berbagi Sukacita” yang berdasar pada cara hidup Gereja Perdana. Dalam kehidupan Gereja Perdana sangat kental iman yang kuat (mendengarkan sabda dan melakukan ekaristi), persaudaraan yang akrab, dan berbelarasa (saling berbagi, tak milik pribadi). Gereja Perdana hidup dalam persekutuan yang erat satu sama lain dalam sukacita. Rupanya cara hidup Gereja Perdana ini dianggap sebagai cara hidup Gereja yang paling ideal hingga saat ini. Iman mereka kuat, persaudaraan baik, dan belarasa satu sama lain sungguh tampak jelas dalam tindakan.

Kita sebagai kaum muda, seyogianya meneladani Gereja Perdana tersebut dalam Karya kita di tengah-tengah Gereja.  Kehadiran dan sumbangsih kita dalam kegiatan Gereja semoga mengarahkan kita pada iman yang makin bertumbuh, membangun persaudaraan, dan menumbuhkan semangat belarasa.

Sebagai anggota Gereja dan ambil bagian dalam kehidupan menggereja, perlu untuk menyadari bahwa seluruh proses yang kita jalani adalah kesempatan pembentukan identitas. Maka taat azas, sadar visi misi, tertib organisasi dan tertib administrasi adalah sarana pembentukan identitas kristiani, pembentukan kepribadian kristiani.

Ada orang yang mengatakan bahwa keaktifan kaum muda dalam karya di Gereja baiknya dipahami sebagai tempat pembentukan identitas kristiani. Kaum muda hendaknya tidak sekedar menciptakan kegiatan dan terlena dengan aktifitas. Menjadi sangat penting untuk mengaitkan kegiatan tersebut dengan identitas kristiani kita.

 

oleh : Pst. Sangker Sihotang, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*