Jeritan BUMI, Getarkan Hati Kita

Flat World Environment Day Background 1Berawal dari sebuah keprihatinan untuk membentuk masa depan planet kita yang makin membutuhkan perhatian manusia citra Allah, Sang Gembala Agung kita atau Bapa Paus  mengeluarkan Ensiklik ( Surat Paus ) sebagai sebuah surat yang bersifat agung dan universal, biasanya teks resmi ditulis dalam bahasa Latin kemudian diterjemahkan ke pelbagai bahasa lain. Ensiklik dikirim kepada para patriark (seorang pria yang bertindak sebagai kepala keluarga dalam sebuah keluarga besar ), uskup agung dan uskup di seluruh dunia, bahkan terbuka untuk seluruh umat Allah. Ensiklik sendiri isinya tidaklah pertama-tama untuk menyampaikan suatu dogma atau ajaran Gereja yang baru, tetapi terutama untuk lebih menggaris bawahi iman Gereja mengenai suatu tema yang aktual. Tujuannya adalah mengemukakan pokok-pokok penting dari ajaran Gereja, menganalisa suatu situasi atau keadaan khusus atau juga mengangkat seorang tokoh yang patut diteladani. Ensiklik Laudato Si yang diterbitkan tanggal 18/06/15 dimunculkan sebagai ucapan syukur kepada Sang Pencipta langit dan bumi dan sebagai ungkapan rasa hormat pada Paus Fransiskus yang mengundang semua manusia kepada suatu dialog tentang masa depan rumah kita bersama. Ha ini sangat mendesak diwujudkan agar diadakan dialog baru tentang bagaimana kita membentuk masa depan planet kita.

 

Kita memerlukan percakapan yang melibatkan semua orang, semua pihak, karena tantangan lingkungan yang kita alami kini dan ke depan, menyangkut dan menjadi keprihatinan kita semua. Gerakan ekologi di seluruh dunia telah membuat kemajuan besar dan berhasil dalam pembentukan berbagai organisasi yang berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran tantangan-tantangan ini demi penyelamatan bumi yang makin menyedihkan. Sayangnya, banyak upaya untuk mencari solusi konkret untuk krisis lingkungan mengalami kegagalan, tidak hanya karena perlawanan dari mereka yang kuat, tetapi juga karena kurangnya minat dari yang lain. Akar dari semuanya itu adalah manusianya.  Sikap yang menghalangi, bahkan dari pihak orang-orang beriman, dapat berkisar dari penyangkalan masalah sampai dengan ketidakpedulian, pasrah dengan acuh tak acuh, atau kepercayaan buta terhadap solusi teknis. Kita membutuhkan solidaritas yang baru dan universal serta revolusi mental masing-masing dari kita. Gereja sangat bersyukur memiliki pribadi-pribadi yang luar biasa seperti uskup-uskup Afrika Selatan menyatakan bahwa: “Bakat dan komitmen setiap orang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh penyalahgunaan manusia terhadap ciptaan Allah.” Kita semua dapat bekerja sama sebagai instrumen Allah untuk melindungi keutuhan ciptaan, masing-masing sesuai dengan budayanya, pengalamannya, prakarsanya, dan bakatnya sendiri.

 

Maka lingkungan hidup adalah sesuatu yang penting. Tanpa sadar Bumi tempat kita tinggali ini makin menjerit dan suara jeritan ini apakah menghentakkan kita atau tidak? Semua dari kita, harusnya menyadari  bahwa alam tempat tinggal kita ini makin rusak, makin menjerit bahkan merintih? Sebagai kepeduliaan kesadaran ini, kita pun sangat bersyukur bahwa Hari Lingkungan Hidup diperingati setiap tanggal 5 Juni.  Gema perayaan ini mendorong siapapun membicarakan kerusakan lingkungan hidup. Kita merasakan bumi yang makin panas, banjir, serta pencemaran udara, air, dan tanah; semua itu adalah jeritan tangisan bumi yang menimbulkan banyak dampak negatif bagi manusia. Gaya hidup manusia yang tidak ramah lingkungan dan eksploitasi alam yang berlebihan telah membuat alam ini menangis dan berduka. Lingkungan hidup tempat kita tinggali ini semakin diinjak oleh kaki kita yang menjadikan rusak dan terjadilah ketidakadilan ekologi. Maka sebuah renungan singkat kita, mengapa lingkungan hidup kita menjadi rusak tapi kita tidak menyadari penyebabnya apa dan siapa?

 

Kita sebagai makhluk ciptaanNya yang secitra dengan Allah dan sebagai orang beriman menghendaki kita semua memberikan penghargaan yang tinggi terhadap ciptaan Allah lainnya, termasuk alam atau lingkungan hidup. Semua ciptaan adalah berharga, cerminan keagungan Allah (Mazmur 104). Sebagai Pencipta, Allah sesuai rencana-Nya yang agung telah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan maksud dan fungsinya masing-masing dalam hubungan harmonis yang terintegrasi dan saling memengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya. Jadi, sikap eksploitatif terhadap alam merupakan bentuk penodaan dan perusakan terhadap karya Allah yang agung itu.

Demikianlah baik manusia maupun segala ciptaan atau makhluk yang lain merupakan suatu kesatuan kosmik yang memiliki nilai yang berakar dan bermuara di dalam Kristus.Dengan memperhatikan penghayatan teologis , kita memperlakukan lingkungan hidup sebagai sesama ciptaan yang harus dikasihi, dijaga, dipelihara, dan dipedulikan. Kita mencintai dan memperlakukan lingkungan hidup dengan sentuhan kasih sebagaimana sikap Tuhan. Kita membangun solidaritas baru dengan alam yang telah rusak.  Kita membangun dasar penghayatan iman bahwa semua ciptaan diselamatkan dan dibaharui oleh Tuhan. Pembaharuan itu menciptakan kehidupan yang harmonis.

 

Oleh karenanya demi keselamatan masa depan planet kita, marilah kita perhatikan lingkungan hidup kita mulai dari saat kita berdiri, ruangan kita, rumah kita, sekolah kita, tempat kerja kita, lingkungan masyarakat kita dan juga gereja kita ini dengan mengambil gerakan aktif penyelamatan dan perawatan kembali lingkungan hidup kita secara kreatif. Usahakanlah untuk bersama Sang Penyelenggara hidup ikut, demi terbangunnya kenyamanan, keamanan, kesejahteraan bersama dengan seluruh alam. Kini suarakanlah melalui cetusan kesaksian kita, jeritan kita getarkan bumi sehingga kitapun makin peduli terhadap pelestarian dan singkirkanlah sikap perbuatan kita yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup.  Janganlah habiskan tanah untuk mendirikan bangunan, sediakanlah ruang untuk tanaman. Sesungguhnya di Paroki kita ini bisa saja membangun lingkungan gereja yang hijau dan asri, hilangkan unsur plastik di sekitar kita sekecil apapun itu.Ingatlah dan  biasakan dengan memisahkan sampah plastik, membuat lingkungan sekitar rumah menjadi hijau dengan tanam-tanaman.Kini, marilah kita lestarikan lingkungan kita sebagai wujud syukur kepada sang maha pencipta. Berikanlah hak-hak anak cucu kita berupa alam yang lestari untuk kelangsungan hidup segenap komponen alam. Selamat mewujudkannya.

 

Oleh :

Pst. St. Budi Saptono,OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*