Lebih Berbahagia MEMBERI daripada MENERIMA

give-icon-yellow“Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Inilah pokok yang diminta oleh Redaksi Summa untuk kami coba selami dalam tulisan ini. Kalau dilepas dari ruang-lingkupnya (context), pernyataan di atas dapat menimbulkan berbagai tafsiran, pertanyaan, rasa ingin tahu, atau mungkin juga penolakan. Sejauh mana benarnya kata-kata itu? Bukankah sudah menjadi sifat manusia untuk cenderung menerima daripada memberi. Bukankah lazim muncul keengganan kalau orang diminta untuk memberi? Apa maksud wejangan ini? Mari kita coba dalami.

Dari mana asal ajaran ini. Kata-kata di atas bukankah pendapat umum masyarakat, melainkan pandangan Kristiani. Tapi kalau anda mencari ungkapan tsb dalam Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes, anda tidak akan menemukannya juga. Kata-kata itu ada dalam Kisah Rasul 20:35, yang berbunyi:

 

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.

 

Dalam ayat itu St. Paulus sendiri berkata bahwa kata-kata itu (“lebih berbahagia memberi daripada menerima”)  berasal dari Yesus sendiri. Memang, kalau itu tidak dikatakan secara tegas dalam Sinoptik (Lk. 6:38) dan Yohanes, itu bukan berarti bukan ajaran Yesus. Pastilah St. Paulus mengutipnya dari ajaran lisan Yesus yang sudah lazim dan beredar di kalangan murid Yesus, para penulis Injil, saksi mata dan pelayan firman, yang mengakui bahwa itu adalah ajaran Tuhan. Bukantah masih luas ajaran Yesus yang lain yang tidak tercantum dalam Perjanjian Baru? (Bdk. Yoh 20:30).

Wejangan ini lebih merupakan petunjuk umum. Kata-kata St. Paulus ini tampak harus dilihat sebagai ‘semangat’ yang harus mendasari setiap kegiatan pelayanan; dan tidak selalu untuk diterjemahkan secara hurufiah dalam tindakan konkret tertentu. Contohnya: Tidak mungkin kita setiap saat memberikan kepada anak, apapun yang diminta olehnya kepada kita. Anak kecil yang belum tahu bahwa pisau itu tajam, dan memintanya untuk main-main, pasti tak akan diberikan oleh orangtua, karena tentunya akan mencelakakannya. Contoh lain: Tidak mungkin St. Paulus, saat ia sedang dipenjara, dapat memberi bantuan, sementara ia sendiri sebaliknya perlu menerimanya dari para sahabat.  Kalau demikian, maka wejangan Paulus ini lebih bermaksud menyampaikan petunjuk umum, bagaimana memberi dengan cara yang baik itu sehingga lebih membahagiakan pemberi daripada menerima.

Kepada siapa wejangan ditujukan? Kalau kita baca, bab 20 ini adalah kisah perjalanan St. Paulus dari Yunani ke Troas, lalu terus ke Miletus. Nah, pada saat Paulus ada di Miletus itu ia memberi wejangan ini kepada para penatua jemaat Efesus, yang sengaja diundangnya datang ke sana (20:17-38). Itu adalah wejangan terakhir di mana ia harus berpisah dengan umatnya; diawali dengan sapaan, disinggung a.l. juga kematian-nya yang tidak lama lagi, dan diakhiri dengan doa dan salam perpisahan. Seperti lazimnya suasana perpisahan, para penatuapun menyikapi wejangan terakhir itu sebagai hal yang amat penting, dengan penuh kesungguhan, serta keprihatinan yang paling mendesak.

Apa persisnya yang dikehendaki Paulus dalam wejangannya terkahir itu? Paulus meng-hendaki agar dirinya dijadikan teladan, dijadikan contoh utama untuk hidup sebagai penatua umat Kristiani. Itulah motif dari perkataannya “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, …” Hal demikian itu telah diungkapkan juga oleh Yesus, setelah Ia mencuci kaki para murid (Yoh 13:15), saat Ia mengadakan perjamuan terakhir bersama para rasul-Nya: Lakukanlah ini, sebagai kenangan akan Daku. Mengikuti teladan Paulus, penatua jemaat dimintanya agar menggembalakan jemaat dengan kemurahan hati, bersedia berjerih-payah menyokong/membantu orang sakit dan lemah, berani dan bertahan di saat jemaat mengalami kesukaran, dan juga saat ada yang membelot dari iman, serta tetap setia kepada ajaran sejati dari Yesus di waktu ajaran sesat berkembang, … semuanya perlu disertai semangat “lebih berbahagia memberi daripada menerima”.

Hal apa dari dirinya yang dikehendaki Paulus agar ditiru para penatua? Yaitu motif dan dan cara Paulus bertindak, baik di saat ia mengajar dengan kata-kata (verbo) maupun dengan perbuatan (exemplo) tertentu. Kalau Paulus memberi, tindakannya itu tidak disertai pikiran ingin memperlihatkan diri sebagai seorang yang berkuasa, tidak mempertontonkan diri sebagai seorang yang lebih hebat. Perbuatan itu dilakukannya, bukan karena rasa terpaksa oleh kewajiban, melainkan terdorong alasan lebih dalam, yaitu semata karena ada sukacita sejati dan bersifat ilahi dalam membuat orang lain bahagia.

Untuk itu pasti harus ada dasarnya. Dasarnya adalah bahwa dalam tindakan memberi, Paulus melakukannya terdorong kasih dan kesediaan memberikan (berkurban) diri. Kalau dasar itu tak ada, tak akan ada pula sukacita dalam memberi. Kalau anda melakukan kebaikan karena pamerih agar mendapat sesuatu, atau dengan sikap acuh tak acuh serta menganggapnya sebagai peristiwa rutin biasa, atau karena rasa kasihan, maka hal itu bukan contoh memberi sebagaimana diajarkan Kristus.

 

Seorang missionaries, sudah berpuluh-puluh tahun, hidup dan melakukan kegiatan missi sampai berumur tua di suatu daerah dari negara terpencil dan terbelakang, miskin dan sederhana, jauh dari hiburan dan kemewahan. Orang bertanya kepadanya, “Mengapa Pater mau-maunya hidup dan melakukan semua ini?”  Dan … hanya satu kata yang terucap dari hatinya. “Harus ada cinta,” katanya.

 

Kalau kasih betul ada, kasih itu terungkap dalam kesediaan untuk berkurban dengan iklas dan riang hati, dan di situ pula diam-diam dan tenang melimpahlah kebahagiaan. Kebahagiaan demikian itu jauh lebih mulia dan melimpah daripada kegembiraan dari hati yang tamak terpusat pada diri, yang hanya senang menyimpan milik untuk diri sendiri. Saat orang bebas dari kecenderungannya menjadikan diri sebagai pusat untuk dipuja, dan saat genggamannya – terhadap harta kekayaan – lepas, saat itulah dialaminya kebahagiaan yang sebenarnya, surga di dunia. Sukacita tertinggi dan penggunaan secara mulia harta kekayaan justru ada dalam melepaskan, memberikannya. (MacLaren). Dan itu telah ditunjukkan oleh Yesus sendiri, yang memberikan harta paling berharga, yakni hidup-Nya sendiri, dan telah ditiru St. Paulus dan para pengikut-Nya yang lain.

Demikian, semoga wejangan St. Paulus“adalah lebih baik memberi dari pada menerima”, meresapi dan mengendalikan perilaku kita, para penatua, dan umat Kristiani umumnya, dalam mengelola hidup, waktu, uang, kekayaan atau harta apapun yang dimiliki. Semoga untuk itu berkat dan rahmat Tuhan menyertai. ***


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*