Cinta Kami untukMu

3needlesThree needles merupakan film kedua Thom Fitzgerald yang bercerita tentang AIDS. Film tersebut menceritakan bagaimana virus HIV yang membawa penyakit AIDS telah menyebar kepelbagai penjuru dunia dan menjadi wabah penyakit yang mematikan. Kehidupan menjadi terancam, bahkan bisa jadi di ambang kepunahan. Persoalan menjadi kian rumit takala muncul paham bahwa bercinta dengan seorang yang masih perawan bisa menyembuhkan orang dari penyakit AIDS. Situasi tersebut menantang orang untuk bertindak / berbuat sesuatu guna menyelamatkan sebuah kehidupan.

Panggilan untuk menyelamatkan kehidupan hadir dalam tokoh Jing Ping dan Suster Clara lewat caranya masing-masing. Jing Ping lewat bisnis darah setidaknya mampu membuat orang di daerahnya bertahan hidup. Namun, dalam usahanya itu Jing Ping mesti merelakan tubuhnya diperkosa oleh para tentara. Jing Ping sebenarnya bisa saja menghindari hal tersebut, tetapi tidak ia lakukan. Panggilan untuk menyelamatkan kehidupan lebih kuat bersuara dari pada kepentingan pribadinya. Hal senada pun dilakukan oleh Suster Clara di daerah Afrika. Bersama dengan dua suster lainnya, ia pergi ke daerah Afrika Selatan untuk berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa (dalam konteks rohani) di komunitas suku Pondo yang terinfeksi virus HIV. Dalam perjalanannya, Ia melihat suatu kebutuhan yang lebih besar dari sekedar menyelamatkan jiwa-jiwa. Kesadaran itu dipicu oleh adanya realitas maraknya pemerkosaan terhadap para gadis / perawan akibat adanya paham bahwa obat HIV/AIDS adalah bercinta dengan perawan. Situasi tersebut memanggil Suster Clara untuk melakukan misi penyelamatan atas kehidupan. Dalam melakukan misinya itu, ia terpaksa mengorbankan dirinya, keperawanannya kepada Mr. Hallyday. Hal yang sebenarnya berat ia lakukan, tetapi situasi yang rupanya memaksa dia untuk melakukan itu.

Dari apa yang dilakukan oleh dua tokoh tersebut, saya melihat bahwa hidup murni (selibat) bukanlah sebuah tujuan, tetapi lebih sebagai sarana untuk menggapai nilai yang lebih luhur, yakni hormat terhadap kemanusiaan dan kehidupan. Karenanya, persetubuhan bukan dilihat sebagai pelampiasan nafsu atau pendegradasian nilai kemurnian, tetapi lebih sebagai suatu sarana perjuangan sekaligus pengorbanan dalam solidaritasnya terhadap kehidupan manusia yang sedang terancam. Memang secara moral Katolik, tindakan mereka berdua tidak baik karena tindakan itu dipandang sebagai sebuah penodaan terhadap kemurnian / selibat. Tetapi bagi mereka, kemurnian / selibat itu bukanlah soal boleh atau tidak boleh, suci atau dosa, melainkan soal visi hidup. Hidup murni atau selibat adalah bagaimana mereka bisa solider dengan kehidupan manusia; memberikan hidup sebanyak-banyaknya bagi kebahagiaan orang lain;  bagaimana mengaktualisasikan cinta. Dalam konteks ini, kemurnian / selibat menjadi suatu komitmen hidup yang menggairahkan dan membebaskan.

Di akhir refleksi ini, satu hal yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mereka berani melakukan tindakan tersebut ?Apa yang mendorong mereka hingga berani mengambil keputusan itu (Jing Ping membiarkan dirinya untuk diperkosa; Suster Clara mempertaruhkan kaul kemurniannya) ?Saya rasa jawabannya adalah cinta. Mungkin terasa naif, namun cintainilah yang mendorong dan menggelitik kemanusiaan mereka untuk solider terhadap orang lain. Memang terasa aneh, tetapi itulah logika cinta. Bunda Teresa mengatakan“the less we have, the more we give. Seems absurd, but it is the logic of love. True love causes pain. Jesus, in order to give us the proof of his love, died on the cross. A mother, in order to give birth to her baby, has to suffer. If you really love one another, you will not be able to avoid making sacrifices”. Saya rasa cinta macam itu juga yang menggerakkan para Martir untuk mengucurkan darahnya demi iman pada Allah. Cinta macam itu juga yang memunculkan tanggungjawab serta pengorbanan untuk menyelamatkan hidup manusia.


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*