INSIDE OUT

keluarga pastoran-sBanyak dari kita tidak sepenuhnya tahu bagaimana keseharian para pastor yang bertugas di Paroki St. Laurentius.  Apa saja kegiatan yang  mereka lakukan, ke mana saja pastor kalau lagi tidak memimpin misa atau ibadat. Apa yang istimewa dari setiap pastor. Bagaimana para pastor melewati hari-harinya tanpa membosankan, dan apa motivasi  agar tetap bertahan dalam imamat. Ngapain aja sih mereka dari bangun pagi sampai tidur lagi? Kapan saja kita bisa bertamu ke pastoran,  atau mungkin ada umat yang mau mengirim masakan buat para pastor. Dalam edisi kali ini, buletin SUMMA mengangkat tema seputar pastoran untuk mencoba memberi sedikit gambaran tentang keseharian para pastor kepada seluruh umat dengan pertanyaan-pertanyaan dari redaksi berikut.

 

1.       Bagaimana keseharian para Pastor di Pastoran Paroki Sukajadi? cerita dikit donk pastur tentang keseharian para pastor?

 

Sehari-harinya begini. Pagi hari, kami bangun paling telat jam 05.00, lalu berdoa (harian) brevir bersama di kapel, dan setelah itu memimpin ataupun mengikuti misa sebagai umat. Setelah misa, kira-kira jam 07.00 kami sarapan, pada umumnya makan roti. Ada yang suka minum kopi, ada teh, ada susu, ada yang minum air, sambil ada saja yang diobrolkan.

Setelah makan pagi, umumnya pastor ada di rumah, tak ada kegiatan khusus bersama, apa saja bisa dikerjakan oleh masing-masing, sesuai dengan kepentingan, kebutuhan, dan panggilan tugas masing-masing, sambil berjaga kalau-kalau ada yang bertamu. Tapi memang terkadang ada rapat, biasanya pertemuan para imam yang hidup sebagai keluarga dalam komunitas; atau pertemuan tingkat Ordo dan Keuskupan. Tentu saja para pastor dapat dihubungi, lewat no telpon pribadi atau pastoran.

Setiap hari Rabu Pst. Bogaartz memberi kursus musik Gregorian kepada para frater OSC di Pratista, Cisarua. Tiap Selasa Pst. Petrus Maman mengikuti rapat hukum kanonik di Keuskupan, Senin dan Selasa Pst. Maman Thomas ke Kampus FF. Pst. Sangker pastoral radio streaming ke luar kota (insidental).

Siang hari jam 12.30 umumnya kami kumpul lagi untuk makan siang bersama, kecuali kalau ada yang punya acara. Dan kalau ada yang tidak hadir, kami bertanya ke mana dia. Memang umumnya kami saling memberi tahu ke mana kami pergi. Setiap Selasa dan Kamis siang ada yang biasa berenang barang 1 jam, konon olahraga paling baik untuk kesehatan. Kadang kita bisa lihat Pst. Sangker sedang tread mill., biar tetap fit dan ramping.

Sore hari jam 16.00 kami pergi ke kapel lagi untuk berdoa (harian) bersama brevir lagi. Sebelumnya ada yang melakukan meditasi ataupun membaca buku rohani. Doanya agak ‘siang’, tidak petang menjelang malam, agar waktu petang itu bisa digunakan untuk kegiatan pastoral apapun (rapat DPP H/ DPPI/ Wilayah-Lingkungan, pertemuan lingkungan, kunjungan, macam-macam ibadat/ misa, dll.)

Kira-kira pada jam 21.30, teratur kami berkumpul di ruang keluarga, mengobrol tentang kegiatan (pastoral) hari itu, atau umumnya nonton TV bersama. Yang ditonton, terserah apa saja, siapa mau apa, tapi seringnya adalah Saluran Nat Geo Wild, tayangan tentang hidup binatang itu; kalau tidak, lalu lihat warta berita di Metro TV, TV-One, BBC, atau Al Jazeera. Kadang ada yang masih ingin minum atau makan kudapan kecil. Setelah beberapa lama berekreasi, kami pergi ke kamar masing-masing, istirahat.

 

2.       Apa yang menjadi keunikan masing-masing pastur.

 

Unik, dari kata unus, artinya satu, bukan aneh. Orang atau barang disebut unik, maksudnya khas, tiada duanya (in-dividere = tak terbagi). Kalau menyangkut manusia, keunikan itu lebih-lebih menyangkut tabiat, watak dan kebiasaan.  Tapi tentang itu umat sendiri, yang mengenal dari dekat maupun dari jauh, pasti dapat menilai bagaimana Pst. Fons Bogaartz, Pst. Petrus Maman Suparman, Pst. Sangker Sihotang, Pst. Thomas Maman Suharman itu. Setiap manusia itu misteri, bagi dirinya maupun bagi orang lain, tapi mereka rasanya tidak misterius.

Kekhasan mereka pasti lebih bisa ‘dirasakan’ daripada diterangkan. Kalau itu ditanyakan kepada saya, yang menulis ini, berarti saya sendiri harus mengungkapkan apa penilaian/ kesan saya tentang mereka. Yang terpikir, yang menyolok, menurut saya, Pst. Bogaartz itu adalah pastor yang bersungguh-sungguh dalam panggilanya sebagai seorang imam dan religius, paling semangat, Pst. Sangker senang bercerita lucu-lucu dan berani mengungkapkan perasaan dan pikiran dengan baik, Pst. Mansur adalah Pastor yang mudah sekali dimintai tolong dan pandangannya kritis khususnya terhadap generasi yang lebih senior. Pst. Maman Thomas? Apa ya, oh ya, lebih suka mendengarkan barangkali ya, he-he-he.

Di sela-sela hidup sehari-hari kami, dari ruang masing-masing di Pastoran, sewaktu-waktu akan bisa terdengar tiba-tiba Pst. Sangker bernyanyi-nyanyi dengan gitarnya, serta membuat lagu, Pst Petrus Maman sekali-sekali terlihat sedang menikmati kerja dengan android, plus kepulan asapnya, Pst. Bogaartz dengan music klasiknya, atau mendengarkan berita luar negri, Pst. Maman Thomas main suling atau ‘sibuk’ melihat you tube tentang polemic agama.

 

3.      Apakah kegiatan sehari-hari pastur membosankan? Bagamana cara mengantisipasi rasa itu? Pastur ngerasa jenuh gak si jalanin kegiatan keseharian pastur setiap hari? terus kalo jenuh gmna cara ngilangin jenuhnya?

 

Kemungkinan besar setiap orang, dan juga pastor, mengalami saat-saat membosankan, khususnya ketika ritme hidup berulang (repetitif) dan dirasa menindas tak menghibur selera. Pasti ada saat-saat  di mana hidup dan kerja disertai cerah pikiran hati riang terkendali, tapi ada juga saat di mana hati dan pikiran terasa memerlukan penyegaran rohani jasmani, inspiratif dan energetik. Fluktuasi rasa demikian itu lebih-lebih akan dialami oleh orang muda. Tapi pada umumnya para pastor berusaha berdisiplin dengan jadwal kegiatan harian, bulanan, tahunan, dan dengan demikian bisa lupalah rasa bosan.

Antisipasinya? Maksudnya, agar tidak bosan? Agak susah ya.

Soalnya, karena bosan bisa dialami siapa saja, maka bosan tak terhindarkan. Di saat demikian kami berusaha bertahan. Saat bosan itu, adalah kesempatan untuk pemurnian kehendak, artinya, kehendak dimurnikan di saat kita tetap melaksanakan panggilan tugas sebaik-baiknya, juga di saat bosan itu, sesuai selera atau tidak, senang tidak senang. Pokoke mudah-mudahan bisa menghayati ‘Your will be done.’

Mengapa perlu bertahan? Karena perasaan itu terus berobah, dari negatif ke positif, dan sebaliknya. Maka, tunggu saja hingga perasaan yang negatif bernama bosan ini, berobah juga, ke rasa yang posisitif. Pada saatnya rasa bosan itu akan hilang dan berganti dengan perasaan baik, sambil mengharapkan-nya kepada Tuhan.

Pada saat itu,  lakukan saja kegiatan yang baik dan berguna, apakah di bidang: rohani (diam dan doa dalam kehadiran Tuhan, merenungkan Kitab Suci, ump), jiwani (bacaan rohani, baca novel yang baik dari segi isi dan bermutu dari segi sastra, ump), ada yang nonton film; jasmani (bebersih, buat rapi ruangan, jalan kaki di alam, ump.),  juga tentu termasuk terutama tugas panggilan yang minta ditunaikan para pastor.

Rasa dan pengetahuan bahwa memiliki  tujuan hidup, punya sesuatu yang berharga yang mulia dan ingin dicapai serta tekad setia dan tekun meraihnya …  Itu juga akan memupus rasa bosan. Keadaan itu akan terdukung setiap harinya dengan kegiatan renungan dan doa, tiap bulan, tiap tahun retret. Itulah yang dialami telah menjadi antisipasi.

4.      Apa aja cerita yang menarik sewaktu berkumpul saat makan siang? Pastor mau Tanya kalo pastor Mansur suka olahraga sore nggak? Hehehe. Pengen tau nih pastor kalo menu favorit makan para pastores apa aja?

 

Saat di meja makan, pasti ada saja yang diobrolkan: waktu sarapan, makan siang, dan makan malam. Ada cerita: tentang tupai yang dating merayap di pohon belimbing, burung tekukur ketilang yang bernyanyi di pohon di musim panas, tikus yang ‘gugurubug’ di para, burung rajanya yang maunya menggigit; ada yang cerita bahwa ia sakit ini itu, ada cerita tentang umat yang sakit dan mengalami kesulitan, yang ber-HUT, ada cerita tentang mentega merek tertentu yang ternyata susah didapat, ada lagu-lagu yang dulu dinyanyikan dalam misa tapi sekarang hilang, ada saatnya kurang inspirasi untuk menyusun khotbah, dll., dsb., etc. en so fort.

Apa lagi ya? Ya Pst. Bogaartz sering cerita apa sajam juga tentang kebiasaan dulu, saat pendidikan di Seminari Belanda, misalnya, sejak di Seminari kecil para seminaris diajari agar merokok, semacam commodore, Pst. Petrus Maman cerita tentang urusan keluarga yang perlu ditolong, khususnya menyangkut status perkawinannya, Pst. Sangker cerita tentang pengalamannya pastoral di Jakarta, dengan anekdotnya yang lucu, Pst. Maman Thomas cerita tentang  … apa ya, tentang pengalamannya pastoral di tempat lain, tentang apa saja.

Apa menu favorit makan para pastor? Macam-macam, sesuai kegemaran dan kebiasaan. Pst. Bogaartz tentu saja umumnya suka makan roti, dengan keju. Kue  Cashew Speculaas, rasa kayu manis (Verkade: delicious recipe from Holland).  Senang juga bila ada sup tepung kacang merah/hijau. Pst. Maman Petrus tampaknya tak memiliki kegemaran khusus, ia tak ada kesulitan makan (tapi bersama Pst. Sangker tampak mereka semangat kalau melihat petai dan ikan asin, he-he). Pst. Sangker, paling suka kalau makan nasi hangat dengan ikan bandeng isi sambal pedas kering. Pst. Maman Thomas suka makan ikan, yang dipepes khususnya, hingga badannya sehat, he-he, gemuk maksudnya. Syukur ada kiriman ikan dan olahan Pondok Makan Ikan Cianjur.

Begitulah ceritanya. Salam dan berkat Tuhan untuk semua pembaca. ***

 

oleh : Pst. Thomas Maman Suharman, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*