Memberi Dalam Keterbatasan

Jangan-Lupa-untuk-Saling-BerbagiBukan hal yang sulit untuk memberkati orang lain di saat kita dalam keadaan yang berkecukupan atau bahkan berlebih. Namun ketika mengalami kekurangan, masihkah kita taat untuk memberi dan memberkati orang lain?

Memberi adalah sebuah tindakan menyerahkan, membagikan, menyediakan, dan menyampaikan sesuatu yang dimiliki seseorang kepada pihak atau orang lain. Ada pelbagai alasan atau motivasi seseorang memberikan sesuatu kepada pihak atau orang lain. Memberi karena diminta oleh orang atau pihak lain.  Ada yang mencanangkannya sebagai “investasi” budi baik. Agar kelak orang yang ditolongnya akan menghormati dan mengingatnya. Ada pula yang menginginkan dirinya dikenal sebagai seorang dermawan. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa dengan memberikan sesuatu kepada orang lain, maka Tuhan akan membalasnya berkali-kali lipat. Ada juga orang yang memberi karena takut. Takut Tuhannya marah lalu “kran” berkatnya ditutup. Syukurlah, masih ada orang yang ;memberi oleh karena panggilan hidupnya, ia tidak tahan melihat sesamanya menderita, maka jika ia memberikan sesuatu, itu dilakukannya semata-mata untuk memberdayakan orang yang dibantunya itu.

Banyak orang beralasan tidak dapat memberi oleh karena dirinya tidak mempunyai sesuatu yang layak diberikan kepada orang lain. Ya, sangat logis! Sebab apa yang dapat kita berikan kepada orang lain kalau diri kita sendiri tidak mempunyai apa-apa. Untuk dapat memberi, paling tidak kita harus mempunyai sesuatu. Namun, betulkah ada manusia hidup tidak mempunyai apa pun? Jangan-jangan sepenggal kalimat itu adalah alasan karena niat hati memang tidak tergerak untuk memberi.

Mari kita membaca kisah dalam Markus 12: 41-44 sebagai jawaban atas pertanyaan tadi. Kisah Janda miskin dengan dua peser uang dalam gengamannya masuk ke “istana” Allah. Sudah pasti janda itu tidak dipandang sebelah mata bahkan cenderung menerima cibiran dari orang-orang “istana” itu, mengingat penampilannya apalagi uang yang dibawanya adalah mata uang terkecil yang ada saat itu. Hal ini sangat kontras dengan orang-orang kaya yang membawa persembahan dalam jumlah besar dan memasukkannya ke dalam peti persembahan. Namun, di luar dugaan, Yesus yang melihat peristiwa itu menghargai pemberian janda ini. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Ayat 43-44).

Mengapa Yesus mengapresiasi pemberian janda miskin ini? Ya, karena janda ini memberi dengan pengurbanan. Ia mempertaruhkan seluruh hidupnya. Sesudah ia memberikan uangnya maka secara manusiawi ia tidak lagi mempunyai jaminan hidup minimal untuk hari itu pun tidak. Hidupnya kita hanya bergantung kepada Tuhan. Bisa saja si janda itu memberikan hanya sebagian dan sepeser lagi untuk membeli makanan agar dia bisa hidup hari itu. Namun, Alkitab menceritakan semuanya dipersembahkan. Janda ini memberi contoh buat kita. Terkadang ada bagian hidup kita yang “disisakan”, tidak dipersembahkan untuk Tuhan. Bagi Yesus, besarnya jumlah pemberian itu tidak pernah dipersoalkan yang penting adalah ketulusan hati dan pengurbanan. Pernahkah kita dalam hidup ini memberi bukan dari kelimpahan dan kelebihan kita, melainkan dari kekurangan kita?

Memberi dari kekurangan? Bukankah hal itu mengandung risiko yang besar? Bagaimana mungkin jaminan kehidupan itu diserahkan semuanya? Manusiawi dan rasional jika kita berpikir bahwa hidup ini memerlukan ongkos dan untuk itu manusia berlomba mengumpulkan banyak materi bagi dirinya sendiri dan jika harus memberi, itu pun dilakukan kalau sudah lebih atau sisa. Apakah hal seperti itu yang Tuhan inginkan? Tidak sanggupkah  Dia menjamin kehidupan untuk anak-anakNya yang dengan tulus menyalurkan berkat Tuhan bagi sesamanya? Cerita janda di Sarfat (I Raja-raja 17:8-16) yang memberikan persediaan makanan mereka untuk Elia, padahal hidup janda dan anaknya itu tergantung pada bekalnya itu. Kisah ini setidaknya memberi gambaran bagi kita bahwa Allah sanggup memelihara hamba-hambaNya bahkan melampaui nalar dan pertimbangan manusia ketika mereka taat dan memberi dengan tulus.

Jadikanlah diri kita orang yang berbahagia. Kebahagiaan bukan diukur dari seberapa banyak kita mengumpulkan harta benda untuk diri sendiri, melainkan seberapa banyak Anda peduli dan memberi! Di tengah segala keterbatasan (entah ekonomi, fisik, dll) hidup kita. Tuhan itu baik, senantiasa memperhatikan dan bahkan memberkati hidup kita. “Nah kalau hidup kita itu sudah diberkati Tuhan, maka kita juga harus jadi berkat buat orang lain. Jangan nikmati berkat itu sendiri.”

 

oleh :

Pst. Petrus Maman Suparman, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*