HARI BAPAK DI INDONESIA

fistbumpDi Indonesia memang ada peringatan Hari Ibu, tanggal 22 Desember. Hari Anak juga ada, 11 Agustus. Hari Bapa? Di Indonesia secara nasional Hari Bapa diadakan, 12 Nopember. Mungkin dirasa atau dianggap perlu: Kalau Hari Ibu ada, Hari Anak ada, mengapa Hari Bapa tidak ada? Katanya, itu untuk mengimbangi. Demikian nanti setiap orang dalam kedudukannya masing-masing akan dianggap perlu diperingati. Akibatnya, itu bisa jadi makin meluas: Perlukah juga Hari Cucu? Hari Cicit? Dst. Hari Nenek? Hari Kakek? Hari Nenek Moyang? Hari Kakek Moyang? Kapan? Saling meminta perhatian.

Masing-masing meminta, memang wajar kalau permintaannya diperhatikan, khususnya pada saat salah satu dibaikan. Umpamanya, Hari Anak nanti mungkin akan ditekankan penting-nya (bukan hanya peringatan, melainkan jadi pesta, bahkan jadi hari raya), ump kalau ada krisis: pria wanita tak mau diikat oleh kewajiban punya anak, tak mau punya anak. Akibatnya, seperi terjadi di banyak Negara maju, angka kelahiran anak (natalitas) menurun, sebaliknya orang tua rata-rata panjang umur dan jumlahnya meningkat. Kalau jumlah anak makin kecil, bahkan tidak ada, apa akan terjadi dengan kelangsungan pembangunan, apa akan terjadi dengan kelangsungan hidup umat manusia.

Hari Ibu pantas diperingati, untuk mengingat, menghargai, menghormati dan mengasihi kedudukannya sebagai Ibu yang: mengandung, melahirkan, memelihara, dengan kesabaran, kelembutan, mengantarkan anak menjadi dewasa dan mandiri, suatu kedudukan yang seringnya meminta daripadanya banyak pengorbanan dan iman. Tidak hanya dalam kaitan dengan urusan melahirkan anak, Ibu juga adalah istri dari suami, yang diminta sebagai teman hidupnya yang sepadan, diminta menolongnya di masa muda maupun di masa tua, terdorong panggilan untuk mengasihi suami (pria) dalam ikatan perkawinan. Itulah peran seorang Ibu dan Istri, yang begitu mulia dan penting, yang meminta daripadanya tanggungjawab yang tidak ringan, yang selayaknya dijunjung tinggi.

Tapi banyak kaum Ibu atau kaum perempuan yang kurang atau bahkan tidak menunaikan perannya secara bertanggungjawab, malah sebaliknya mengabaikannya. Pada saat itulah kehidup-an keluarga, kebutuhan dan kepentingan suami dan anak tidak dipenuhi. Apa sebabnya? Sering sukar untuk ditunjuk hidung. Apa yang menyebabkan seorang Ibu atau seorang Istri tak melaksa-nakan panggilannya dengan baik. Sering juga ada penyebab lain yang menyebabkannya berperi-laku begitu, ump tidak setia.

Kalau saja memang seorang Ibu/ Istri/ Perempuan tak melaksanakan tugas panggilannya dengan baik, maka di saat itulah kedudukan dan peran Bapa/Suami/Pria jadi korban, suatu keadaan yang akan mengantar pada malapetaka, tidak dikehendaki, tidak ideal. Pada saat itulah ingatan akan pentingnya kedudukan Bapa perlu dicuatkan. Karena percekcokan dan perceraian, bukankah sering terjadi seorang Ibu harus menjadi single parent. Tapi, bukankah terjadi juga bahwa karena seorang Ibu/ Istri tak bertanggungjawab, Suami/ Bapa harus menjadi single parent juga?

Itulah saat untuk mengingat peran laki-laki/ Suami/ Bapa dari anak-anak. Khas kedudukan Bapa adalah pelindung, pemberi rasa aman keluarga, lebih banyak berperan sebagai penanam, atau pemburu, pencari nafkah, terdorong panggilan mencitai istri dan anak. Kontras dengan peran Ibu, yang khas tugasnya melahirkan, di rumah. Peran Ibu tak bisa diganti, tak mungkin dirobah, ump sekarang giliran Bapa yang melahirkan. No way!  Kalau tidak ada Ibu yang mau melahirkan, tak akan ada anak, tak akan ada anak manusia. Kalau begitu, nanti dunia ini akan hanya dihuni anak tikus, anak semut, dll. Manusia? Musna, kalau tak ada Ibu. Tapi bagaimana ada anak, meski Ibu/Istri ada kalau suami, Bapa, pria tidak ada? Itulah yang menambah kepentingan Pria/ Suami/ Bapa, sehingga kedudukannya perlu diperingati, diperlakukan dengan hormat dan bangga, didoakan agar sehat, setia, dan bertanggungjawab, tetap menyayangi istri dan anak, sehingga dapat menjadi tulang punggung keluarga dalam bidang nafkah, memberi rasa aman dan bangga, pelindung yang membuat keluarga aman dan bahagia. Demikian doa kami, istri dan anak-anak. Selamat ya Pak!

*** SELAMAT HARI BAPAK ***

oleh: Pst. Thomas Maman Suharman, OSC.


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*