MENS SANA IN CORPORE SANO

 

mensana-sPada edisi bulan September 2015 ini mengambil tema Mens Sana in Corpore Sano (artinya: di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat). Pepatah ini layak untuk dikritisi. Apakah benar bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat? Banyak orang yang mempunyai tubuh yang sehat, tetapi mens-nya tidak sehat (baca:tidak wajar). Ukuran tubuh yang sehat adalah tidak sakit secara medis. Misalnya: kandungan kolestrolnya normal, terbebas dari virus HIV, tidak bisulan, tidak menderita cancer, dll. Namun ada orang yang tubuhnya sehat tetapi perilakunya dianggap tidak sehat. Atau sebaliknya, tubuhnya tidak sehat tetapi perilakunya sehat.

Oleh sebab itu, tidak ada jaminan bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Namun disadari tubuh yang sehat sangat mempengaruhi kesehatan jiwa. Ketika tubuh kita sakit, kita menderita karenanya. Seseorang yang sakit tubuhnya bisa berubah tingkahlakunya. Ketika sehat orangnya periang, namun ketika sakit menjadi mudah marah, tidak sabar dan mudah berputus asa.

Pada kasus lain,  seseorang ketika masih sehat tidak tahu berterimaksih,  angkuh dan sombong. Namun saat menderita cancer menjadi orang yang sabar dan suka melayani. Saat sehat tidak pernah berdoa, saat sakit menjadi rajin berdoa. Saat sehat sangat tidak perduli pada orang lain. Dia hidup hanya untuk dirinya sendiri. Saat sakit menjadi orang tergerak hatinya untuk peduli pada orang lain. Bahkan ada orang sakit menjadi motivator bagi orang yang sehat supaya lebih menghargai kehidupan dan menghargai sesama. Seorang isteri pernah berkata, “saya baru meraskan kehadirannya sebagai suami ketika dia sakit tak berdaya. Ketika suami saya sehat, dia tidak pernah mengucapkan terimakasih kepada saya. Tetapi saat dia sakit, setiap kali saya memandikan, menyuapi atau memakaikan bajunya  suami saya selalu mengucapkan ‘terimakasih isteriku!’. Saya lebih bahagia punya suami yang sakit daripada suami yang sehat”.

Memahami makna Mens Sana in Corpore Sano

            Menurut buku Proverbia Latina, pepatah mens sana in corpore sano selengkapnya adalah Orandum est ut sit Mens Sana in Corpore Sano, artinya hendaknya engkau berdoa agar ada jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat. Pepatah ini sangat bersifat rohani dan ditujukan kepada orang-orang beriman. Orang beriman diminta berdoa memohonkan kesahatan jiwa dan raga, batiniah dan badaniah, rohani dan jasmani. Dalam kalimat “Hendaknya engkau berdoa agar ada jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat”, diberi penekanan akan kesehatan yang utama dalam diri manusia yaitu jiwa yang sehat. Sekaligus kalimat tersebut mengandung makna bahwa mempunyai jiwa yang sehat itu sulit. Karena sulit, maka dibutuhkan rahmat dari Tuhan yang kita mohonkan lewat “mendengarkan Tuhan” dalam doa.

Jiwa seseorang disebut sehat jika kehendak dan pikirannya sejalan dengan kehendak Tuhan sendiri. Manusia adalah ciptaan Tuhan. Tanggungjawab cipataan adalah hidup menurut kehendak sang penciptanya. Manusia tidak cukup hanya menghormati sang Penciptanya, tetapi diciptakan untuk menjadi abdi-Nya. Menjadi Abdi berarti mempersembahkan segenap jiwa raga menjadi pelayan. Kita ikut berpartisipasi dengan cara ambil bagian dalam karya keselamatan.

Kita tidak boleh merasa puas karena menunjukkan kepercayaan, penghargaan dan penghormatan. Sekalipun saya orang batak, saya percaya bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono itu sebagai Raja. Saya menghargai dan menghormatinya. Tetapi saya tidak mengabdi kepada Sri Sultan. Tentu sikap saya ini sangat berbeda dengan para Abdi Dalem di kesultanan Yogyakarta. Para Abdi Dalem sungguh menjadi pelayan bagi Sri Sultan. Soal gaji dan pangkat menjadi tidak terlalu penting. Yang penting adalah mengabdi.Jalan mengabdi adalah jalan keselamatan bagi Abdi Dalem tersebut. Seluruh jiwa raga dipersembahkan untuk mengabdi sang Sultan.

Jiwa yang sehat adalah menjadi abdi

            Dalam Pedoman Dewan Pastoral Paroki Keuskupan Bandung 2014, cita-cita karya pastoral Keuskupan Bandung adalah menjadikan Gereja sebagai komunitas yang hidup: mengakar, mekar dan berbuah; mewujudnyatakan Kerejaan Allah melalui pemuliaan martabat manusia dan pemulihan keutuhan ciptaan dengan semangat ut diligatis invicem.

            Cita-cita Keuskupan Bandung ini sangat jelas mengajak seleuruh umat untuk menjadi abdi Allah. Kita sebagai umat dipanggil hidup hanya untuk mengabdi Allah. Hidup kita didasarkan atau mengakar pada Allah. Dengan mengakar pada Allah maka kita akan bertumbuh bersama dengan yang lain dalam persaudaraan. Namun kita tidak cukup hanya sekedar bersaudara, tidak saling bermusuhan, tidak saling mengancam, dan tidak saling merugikan. Hidup kita harus berbuah. Buahnya itu berguna bagi kehidupan orang lain. Buah dari iman kita adalah belarasa. Belarasa tidak sekedar simpati, tetapi ada usaha konkrit untuk membantu meringankan dan membebaskan orang lain dari penderitaannya.

Belarasa adalah pemberian diri. Belarasa adalah kasih. Tidak adalah kasih tanpa pemberian diri. Orang yang mampu memberi diri adalah orang yang siap menderita, siap menerima rasa sakit, siap berkorban. Berani mengasihi berarti berani menderita. Dia tidak lagi mementingkan hanya kebutuhan dan kenyamanannya sendiri, tetapi merasa menderita atau bersedih hati melihat penderitaan orang lain.

Ketika keberadaan kita menjadi sumber kerusakan bagi ciptaan, mematikan kehidupan, mengancam kehidupan sesama atau merusak persekutuan, hal itu sebagai tanda bawha jiwa kita tidak sehat.

Yesus telah menunjukkan diriNya sebagai Abdi Bapa. Dia taat sampai mati. Yesus hadir untuk mewartakan keselamatan dan mewujudkan keselamatan. Taat pada kehendak Bapa, dan berbuat kepada sesama. PengabdianNya tidak gratis. Dibayar mahal lewat penderitaan di kayu salib. Mengapa hal itu dapat Ia lakukan? Karena Jiwa dan raganya selalu terarah pada kehendak Allah Bapa.

Kita semua dipanggil untuk tetap mengarahakan jiwa dan raga pada kehendak Bapa. Allah menciptakan kita bukan sekedar ciptaan dan penikmat ciptaan. Tetapi juga menjadi perpanjangan tangan Allah dalam mewujudkan keselamatan: ikut merawat semua ciptaan.

Penutup

Jiwa raga yang sehat adalah jiwa raga yang terarah pada kehendak Allah. Jiwa raga yang sehat adalah mempunyai kesadaran sebagai Abdi Allah. Dengan demikian, seseorang yang mempunyai jiwa raga yang sehat adalah orang yang semakin taat pada Alllah sekligus semakin mengasihi sesama. Relasi yang baik dengan Allah akan membantu dan membentuk kita menjadi pribadi yang mempunyai mens sana in corpore sano.

 

oleh :

Pst. Sangker Sihotang, OSC

 


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*