DIBALIK KEMERDEKAAN

dp-bbm-dirgahayu-indonesia-ke-70Kemerdekaan – kata yang sering kita dengar dalam berita-berita yang ditayangkan stasiun televisi khususnya pada masa pemilihan umum,  dan juga pada forum diskusi politik, forum diskusi keluarga dan forum diskusi kemasyarakatan. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan kemerdekaan?

Jika kita tanya pada generasi 1920-an, arti kemerdekaan bagi mereka adalah bebas dari kaum penjajah yang pada saat itu adalah Belanda kemudian Jepang. Lalu jika ditanyakan kepada generasi 1960-an, maka jawaban mereka adalah bebas dari kehidupan tradisional dan menikmati teknologi canggih. Sedangkan untuk generasi 1990-an, kemerdekaan adalah kebebasan berbuat kehendak sendiri tanpa ada yang menghalangi bahkan tanpa diawasi oleh siapapun.

Lalu, apa makna kemerdekaan bagi kita?

Sebenarnya, kemerdekaan dapat dimaknai secara positif dan negatif.

Dengan judul ‘dibalik kemerdekaan’ memberi makna positif bahwa ada manfaat yang diperoleh dari kebebasan. Bebas untuk berkarya, belajar, menggunakan waktu untuk diri sendiri, bebas untuk bertemu kerabat tanpa ada yang merasa cemburu ataupun marah, bebas untuk bersama anggota keluarga memaknai kehidupan dan persahabatan dengan tetap terkendali tentunya.

Tetapi jika judul menjadi ‘dibalik-balik kemerdekaan’  maka memberikan persepsi yang negative, bahwa adanya kebebasan dapat berbuat seenaknya sehingga mengganggu kehidupan lingkungan seperti pemakaian minuman alkohol dengan musik yang sangat keras, pemakaian narkoba yang berujung dengan kekerasan, melakukan seks pranikah, menggugurkan kandungan, makan/minum berlebihan, sumpah serapah setiap mengalami kekecewaan dan masih banyak tindakan negatif lainnya tanpa kendali diri.

Tampaknya dalam dunia masa kini yang serba ada, kita harus dapat mengendalikan diri dengan kemauan yang kuat.

‘Dibalik kemerdekaan’, bukan berarti menjadi orang yang selalu menasehati siapapun yang ditemui yang mengakibatkan kebosanan. Karena ‘dibalik kemerdekaan’ membawa diri kita untuk bersikap harmonis dengan sesama kita, apapun agama, suku, ras/etnik, dan gendernya.

‘Dibalik kemerdekaan’ juga membuka diri kita terhadap kritikan yang bersifat membangun diri menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak perlu tersinggung dengan kritikan. Anggaplah setiap kritikan untuk mengukur diri dimana kekuatan dan kelemahan kita sehingga memiliki mental yang kuat.

Hidup ini tidak selalu harus sibuk hanya karena untuk mencapai target yang berlebihan. Bukan juga hidup bermalas-malasan. Hidup ini sebaiknya diisi dengan perencanaan yang matang dan selalu menyediakan waktu untuk mengevaluasi diri untuk setiap hasil yang diperoleh.

‘Dibalik kemerdekaan’ juga memberi kesempatan kepada kita untuk memberikan senyuman manis dan bertegur sapa yang ramah dengan sesama kita.

‘Dibalikkemerdekaan’ juga memberikan kita kebahagiaan dalam hidup dengan bersikap tegas terhadap perilaku yang mengganggu hati nurani kita.

Namun jika hanya berharap bantuan orang lain hanya karena rasa takut dan rasa tidak mampu untuk dekat dengan orang tertentu, maka menjadi ‘dibalik-balik kemerdekaan’. Seringkali makna ‘dibalik kemerdekaan’ diartikan dengan memiliki percaya diri yang sangat tinggi dan keberanian yang positif.

‘Dibalik kemerdekaan’ juga memberi kesempatan diri kita untuk menyediakan waktu bagi kebutuhan rohani dalam bentuk doa, baca Alkitab, menghadiri pertemuan rohani dan tekun beribadah ke gereja. Dengan menulis artikel untuk suatu publikasi juga merupakan bagian dari ‘dibalik kemerdekaan’ sehingga kita mampu mengekspresikan isi pikiran dan terhindar dari stress yang berlebihan.

Agar mendapat makna yang berarti untuk ‘dibalik kemerdekaan’ kita, diperlukan sadar diri (self-awareness) yang baik. Karena ‘dibalik kemerdekaan’ bukan hanya berarti bebas secara fisik, tetapi bebas secara mental, rohani dan batin. Disinilah kita dapat merasakan makna kehidupan begitu yang indah!

Last but not least, hendaknya menyediakan waktu untuk doa kepada Tuhan Yesus dan memohonkan supaya kita diberikan petunjuk melalui Roh Kudus-Nya yang bekerja dalam diri kita agar mendapat arti  ‘dibalik kemerdekaan’   dan memanfaatkannya dengan baik . Amin!

 

oleh : Debbie Caroline/Lingk.15


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*