Perjamuan Malam Terakhir

IMG_6661“Andaikan  aku  pahami bahasa semuanya, hanyalah bahasa cinta kunci setiap hati. Ajarilah kami Tuhan, bahasa cinta kasih”

(Liputan) – Itulah sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan koor menandai Misa tanggal 2 april 2015 di paroki St. Laurentius dimulai dan perarakan imam, putra-putri altar 12 orang serta perwakilan umat dan petugas lainya memasuki gereja. Misa hari itu diadakan tiga kali, meskipun demikian misa yang berlangsung pada jam 6 sore tersebut diikuti banyak umat sampai selasar kiri kanan gereja, aula dan lapangan parkir penuh dengan nuansa pakaian warna putih. Ada apa pada perayaan misa ini sehingga begitu banyak umat yang antusias untuk mengikuti misa ? Misa kali ini adalah misa kamis putih, disebut kamis putih karena warna liturgi hari ini di dominasi warna putih, mulai dari kasula yang dipakai imam, jubah putra putri altar, sampai bunga-bunga yang menghiasi altar semua berwarna putih.  Hari ini kita mengenang kembali perjamuan yang dilakukan Yesus bersama 12 murid-Nya. Perjamuan ini yang biasa kita kenal dengan perjamuan malam terakhir. Pada malam itu Yesus dikhianati oleh muridNya Yudas Iskariot. Malam itu Yesus menunjukkan kasihNya hingga rela kehilangan nyawa untuk seluruh manusia. Yesus menyerahkan tubuh dan darah nya dalam  rupa roti dan anggur yang diberikan kepada murid-nya untuk member kekuatan kepada mereka.

Yang berbeda dari misa biasa adalah adanya prosesi pembasuhan kaki yang dilakukan setelah homili. Sama seperti yang dilakukan oleh Yesus yang membasuh kaki kedua belas murid-Nya, pada misa kamis putih juga hal ini selalu dilakukan. Pada misa kamis putih anak jam 15 30, prosesi pembasuhan kaki dilakukan dalam bentuk drama dimana murid-murid Yesus diperankan oleh anak- anak dari SD aloysius. Sementara peran Yesus dilakoni oleh salah seorang Guru mereka. Mereka melakoni peran masing-masing dengan sangat baik. Sementara pada misa jam 18 00 dan jam 21 00 prosesi pembasuhan kaki dilakukan oleh pastor sebagai Yesus dan 12 perwakilan umat sebagai murid-murid Yesus. Pembasuhan kaki dilakukan untuk mengungkapkan teladan dan semangat pelayanan Yesus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Dengan pembasuhan kaki juga Yesus mau mengajarkan bahwa semua orang sama, memiliki hak dan martabat yang sama di mata Tuhan. Karena itu, semua manusia diharapkan dapat melakukan apa yang diperintahkan oleh Yesus dalam Yohanes 13 ;34. Agar semua orang saling mengasihi sama seperti Dia mengasihi kita.

Selain itu pada misa jam 9 malam, yang berbeda dari misa yang biasanya adalah adanya perarakan sakramen mahakudus menuju tempat tuguran oleh imam. Setelah pastur kembali ke Altar, satu persatu barang dan peralatan yang ada di altar dibereskan oleh prodiakon dibantu putra-putri altar dan di simpan kedalam sakristi, yang tinggal di altar hanya sebuah lilin dan sebuah piala. Dengan iringan lagu yang berjudul “Ya Juru Slamatlah” mengingatkan kita saat-saat terakhir sebelum Yesus ditangkap. Yesus sendirian berdoa di taman Getsemani sementara murid-muridNya tertidur. Dalam kesendirianNya Yesus gentar dan berduka dan dalam doa Yesus berkata ‘’YaBapa, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku, tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan Kehendak-Mu lah yang terjadi’’. Tetapi pada saat itu juga malikat menghibur dan member kekuatan kepada-Nya. Setelah itu Yesus bangkit dan kembali kepada murid-murid-Nya lalu menyuruh mereka berdoa supaya tidak jatuh kedalam dosa. Setelah perayaan misa kamis putih jam 21 00, dilanjutkan dengan tuguran. (Herman Purba)/Summa)

 

 


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*