Mengkomunikasikan Keluarga: Tempat Istimewa Perjumpaan Karunia Kasih

logo-pemenangDalam rangka menyambut Hari Komunikasi Sedunia 2015, Paus Fransiskus memberi thema “Komunikasi dalam keluarga: tempat istimewa menemukan keindahan cinta”. Dalam tulisannya, Paus Fransiskus mengatakan bahwa keluarga adalah tempat pertama dimana setiap individu berkomunikasi dengan orang lain dan belajar berkomunikasi dengan orang lain. bahkan sebelum seseorang lahir, dia telah mengalami komunikasi di dalam rahim dengan sang ibu yang mengandungnya. Sang ibu yang mengandung berbicara dengan dengan sang bayi dalam Rahim melalui sapaan dan belaian seolah-olah sang anak sudah lahir. Sapaan dan belaian sang ibu memberi pesan  sang anak yang dalam kandungan.  Pesan kasih disampaikan.Perasaan gembira diekspressikan.Perlindungan ditunjukkan. Semua yang dirasakan dan diharapkan oleh keluarga, khususnya sang ibu, sudah dikomunikasikan sejak seseorang dalam kandungan sekalipun tidak mendapatkan respon secara verbal dari sang janin. Ada kalanya ketika sang ibu atau anggota keluarga menyapa sang janin, sang janin menunjukkan respon lewat gerakan tertentu dalam kandungan. Komukasi dengan sang janin diharapakan membuat sang janin merasa nyaman, tumbuh sehat, tidak merasa sendiri, kehadirannya adalah rahmat, komunitasyang hangat telah tersedia untuknya, dll. Komunikasi dengan sang janin membuat ikatan batin yang erat. 

Ikatan batin yang erat akan semakin erat, tumbuh dan makin kuat ketika sang janin dilahirkan. Dalam kehadirannya di tengah keluarga, ia akan mengalami komunikasi yang lebih langsung, tanpa batas. Ia tidak lagi passif, tapi ikut berpartisipasi langsung. Melalui kehadiran dan keterlibatan langsung dalam keluarga, setiap orang mengkomunikasikan keberadaannya dalam keluarga.Dalam situasi demikian, maka setiap orang dalam keluarga belajar dan mengalami supaya bisa saling memahami, saling berbagi, saling memperhatikan.Tentu hal-hal tersebut tidak didapatkan begitu saja. Ada proses belajar yang musti diikuti. Orang belajar memaknai ekspressi wajah orang lain, belajar membaca kata hati orang lain, sekalipun tak terungkap lewat kata. Belajar merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Situasi konkrit ini kita hidupi dan kita hadapi dalam keluarga. Menurut Paus Fransiskus, realitas ini tentu saja sangat membantu kita untuk memahami makna komunikasi sebagai kedekatan pertalian batin yang saling meneguhkan dan mempertautkan.

Sebagai keluarga hal utama yang mengikat kita adalah pertautan batin, bukan materi.Batiniah, bukan badaniah.Yang batiniah terwujud dalam badaniah. Pertautan batin yang kuat menjadi dasar komunikasi yang melahirkan kasih satu sama lain, rasa hormat satu sama lain, kesediaan berkorban satu sama lain. Maka hidup setiap pribadi terarah kepada yang lain.

Kalau yang mengikat pertautan antar anggota keluarga itu materi, maka relasi menjadi relasi yang kering, hambar dan temporer.Disebut temporer karena relasi itu ada sejauh masih ada keuntungan materi yang didapatkan.Maka bisa terjadi, ketika anggota keluarga tertentu masih sehat dan menguntungkan, dia dihargai dan dibutuhkan.Tetapi saat tak berdaya, dia tidak lagi mendapatkan perlakuan yang wajar. Bila pertautan batin menjadi pengikat yang kuat, entah dalam sehat atau sakit, untung dan malang, hidup atau mati, dia tetap diperlakukan denganhormat. Sekalipun seseorang sudah meninggal, dia tetap didoakan, kuburannya tetap dirawat dan tak pernah dilupakan.Mengapa demikian?Komunikasi batin yang kuat yang sudah dibangun sejak awal bergabung dalam keluarga, menciptakan relasi batin yang kuat sampai akhir.Ketidak hadiran secara fisik tidak lagi menjadi pembatas komunikasi dan relasi.

Ketika masih dalam kadungan, ibu menyapa kita lewat kata dan tindakan. Namun ada tindakan rohani juga dilakukan, yaitu mendoakan sang janin. Paus Fransiskus menyebut tindakan mendaoakan ini sebagai “relasi yang mendahului”.Tindakan mendoakan ini terus berlanjut dalam perjalanan kita sebagai keluarga batih dan dalam keluarga besar.Pada permulaan kita didoakan.Pada waktu berikut kita mendoakan.Doa bukan sekedar permohonan, tetapi juga berisi ucapan syukur. Syukur atas kehidupan, syukur atas kehadiran dan pengorbanan banyak orang dalam hidup kita. Lebih lanjut Paus Fransiskus menuliskan:

Pengalaman tentang relasi yang “mendahului” kita memungkinkan keluarga untuk menjadi latar di mana bentuk komunikasi yang paling dasar, yaitu doa, diwariskan. Ketika para orangtua menidurkan anak-anak mereka yang baru lahir, mereka sering kali mempercayakan anak-anak itu kepada Tuhan, seraya memohon agar Ia menjaga mereka. Ketika anak-anak itu bertambah usia, para orangtua membantu mereka untuk mendaraskan beberapa doa sederhana, seraya mengenang kasih sayang orang-orang lain, seperti kakek-nenek, para kerabat, orang-orang sakit dan menderita, dan semua orang yang membutuhkan pertolongan Tuhan. Di dalam keluarga itulah sebagian besar kita mempelajari dimensi rohani komunikasi, yang di dalam Kekristenan diresapi dengan kasih, yaitu kasih yang Allah anugerahkan kepada kita dan yang kemudian kita bagikan kepada orang-orang lain.

Menarik untuk kita telaah soal kaitan antara dimensi rohani komunikasi dengan doa yang dituliskan oleh Paus Fransiskus. Doa adalah bentuk komunikasi orang beriman kepada Tuhan. Melalui doa kita menunjukkan keimanan kita. Melalui doa kita juga menunjukkan persaudaraan dan belarasa terhadap sesama.Doa yang baik menjadikan seseorang menjadi komunikator hidup yang baik pula. Ia sadar, bahwa dia tidak lagi hidup hanya mengandalkan diri sendiri dan hidup hanya untuk diri sendiri. Kesadaran ini memaksa seseorang menyadari pentingnya komunikasi pada Sang Khalik dan sesaae.Mengabaikan arti penting peran komunikasi dalam hidup, berarti mengabaikan keberadaan hidup itu sendri.

Paus Fransiskus menuliskan soal dimensi rohani komunikasi yang begitu penting untuk diperhatikan, khusunya dalam keluarga. Dimensi rohani komunikasi tak terlepaskan dari doa.Kita diajak supaya komunikasi kita bersumber dan berdasar pada iman.Iman yang baik adalah yang berdasar pada komunikasi yang baik dengan Tuhan.Doa adalah komunikasi dengan Allah.

Dalam bukunya Dengan Tangan Terbuka (1971), Henri Nouwen membagikan pandangan doa yang begitu kaya. Dalam uaraian kaitan antara doa dan keheningan Nouwen menuliskan bahwa dalam keheningan kita menerima janji-janji Tuhan, menerima harapan baru bagi diri sendiri, orang lain dan komunitas(keluarga). Keheningan adalah kesunyian yang membawa damai. Melalui keheningan, ruang batin dibentuk: perasaan cinta dan benci, kelembutan dan kepedihan, pengampunan dan keserakahan dipisahkan. Seseorang dibentuk menjadi pribadi yag lembut. Dalam keheningan berdoa, kita diajak untuk menerima, berharap, dan berbelarasa (3:19-21).

Berdoa dan meneirma

Dalam keheningan doa, kita menerima Allah yang memberikan diriNya. Allah ingin kita membiarkan diriNya masuk dalam diri kita.RohNya dicurahkan pada kita. Roh yang sama juga dicurahkan pada orang lain. Menyadari bahwa dir kita dirasuki oleh Roh yang sama dengan orang lain membuat kita merasa mempunyai teman seperjalanan dalam hidup. Tangan kita akan tebuka dan bibir kita akan tersenyum pada oranglain. Dengan demikian kita juga membiarkan orang lain masuk dalam hidup kita. Orang lain dipandang sebagai anugerah (3:26-27). Maka makin banyak seseorang masuk dalam keheningan doa, dirinya makin merasa nyaman terbuka dan sejalan dengan orang lain.

Berdoa dan Berharap

Dalam keheningan doa, seseorang dapat merentangkan tangan untuk merangkul alam, Tuhan dan sesama sekaligus berharap akan datangnya sesuatu yang baru. Setiap doa adalah ungkapan pengharapan. Harapan dilandaskan pada keyakinan bahwa Dia hanya memberikan yang baik.Doa yang sejati tidak pernah menyingkirkan sesama. Doa memungkinkan kita melihat masa depan bersama(3:32,37)

Berdoa dan Berbelarasa

Dalam keheningan doa kita , melihat kelemahan diri sendiri. Kalau kita melihat kelemahan kita bukan sebagai aib, tetapi justeru membuat kita begitu bernilai sehingga patut dicintai, kita menjadi siap menerima yang tak terduga berkat berkat kekuatan yang diberikan kepada orang lain. Dalam doa kita megakui bahwa manusia adalah mahluk dan orang lain adalah sesame. Pengakuan ini memberi kesadaran kepada kita bahwa kita tidak sendirian, tetapi hidup sebagai manusia berarti hidup bersama.Pada titik inilah belarasa lahir. Dengan belarasa kita menyadari bahwa kita mengambil bagian dalam kemanusiaan yang sama. Tembok pemisah dirubuhkan. Belarasa menyadarkan kita akan tujuan hidup yang sama, sehingga kita dapat bergerak maju bersama menuju negeri yang ditunjukkan oleh Allah kepada kita (3:42).

Dari paparan Henri Nouwen soal doa ini mengajak kita untuk memahami bahwa doa adalah melihat kehendak Allah, mendengar kehendak Allah. Sedangkan belarasa adalah memperlihatkan dan memperdengarkan kehendak Allah.

Allah memanggil kita untuk hidup bersama dengan orang lain, membangun persekutuan/komunitas/keluarga yang baik. Hidup bersama kita menjadi rahmat atau bukan rahmat sangat ditentuakn oleh cara kita berkomunikasi satu sama lain. Kasih menjadi pengikat hidup bersama.Kasih yang taka da habisnya itu kita timba dari Tuhan. Kehendak Tuhan itu kita kenali dari keheningan doa. Semakin kita sungguh berdao, maka semakin baik komunikasi kita, semakin kuat relasi kita. Karena kita mengkomunikasikan iman yang hidup: dihiasi oleh kasih, rasa hormat, pengorbanan. Sungguh menjadi komunikasi yang berbelarasa.Keluarga-keluarga diajak untuk menghidupi komunikasi yang menguatkan relasi yang indah dan kaya, karena bersumber dari iman yang hidup.

Ref.

  1. Paus Fransiskus, Hari Komunikasi Sedunia 2015
  2. Pdt. Tyas Budi L., Nouwen: dari Kuasa ke Belarasa, Kanisius 2013.

Oleh Pst. Sangker Sihotang, OSC

 


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*