ETOS KERJA PROFESIONAL

Social Work at Brackenridge Hospital 2009 (Photo by Marsha Miller/UT Austin)Tulisan ini saya buat dari hasil seminar yang saya ikuti beberapa waktu lalu di Institut Dharma Mahardika Jakarta. Saya berbagi tulisan ini sebab di Indonesia belum berhasil mengembangkan etos kerja yang baik. Seringkali orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup tersier, tetapi mendesak demi kebutuhan primer padahal sesungguhnya bukan untuk memenuhi kebutuhan primer. Ada apakah ini? Tentunya para pemilik usaha menjadi kewalahan jika karyawan seringkali berdemo dengan alasan para pemilik usaha tidak memenuhi upah karyawan. Kasihan!

Baiklah! Perlu dipahami dulu bahwa kalau kita bekerja, kita seharusnya memiliki etos kerja. Apa itu etos kerja? Saya mengutip dari kamus Wikipedia yang menyebutkan bahwa etos berasal dari bahasa Yunani; akar katanya adalah ethikos, yang berarti moral atau menunjukkan karakter moral. Dalam bahasa Yunani kuno dan modern, etos punya arti sebagai keberadaan diri, jiwa, dan pikiran yang membentuk seseorang.

Sejak reformasi dan selama satu dekade terakhir, dapat dikatakan bahwa tidak ada etos kerja di Indonesia. Ada satu gerakan yang ingin memberi suara tentang revolusi, tetapi akibatnya memporak-porandakan sistem yang ada di negara Indonesia. Bahkan ada satu keengganan besar yang berurat–berakar pada diri manusia berupa kelembaban mental yang membatu, kemalasan intelektual yang mencandu, kedegilan moral yang membeku dan kegelapan spiritual yang menghantu. Maka untuk membenahi porak-poranda ini diperlukan formulasi etos kerja yang harus dipahami oleh siapapun yang ingin berhasil dalam kehidupan dan bermanfaat untuk masyarakat.

Ada 8 (delapan) etos kerja yang perlu kita pahami yaitu :

Etos 1 : Kerja adalah rahmat, Aku bekerja tulus penuh syukur

Etos 2 : Kerja adalah amanah, Aku bekerja benar penuh tanggung jawab

Etos 3 : Kerja adalah panggilan, Aku bekerja tuntas penuh integritas

Etos 4 : Kerja adalah aktualisasi, Aku bekerja keras penuh semangat

Etos 5 : Kerja adalah ibadah, Aku bekerja serius penuh kecintaan

Etos 6 : Kerja adalah seni, Aku bekerja cerdas penuh kreatifitas

Etos 7 : Kerja adalah kehormatan, Aku bekerja tekun penuh keunggulan

Etos 8 : Kerja adalah pelayanan, Aku bekerja sempurna penuh kerendahan hati

Atas ijin pencetus etos kerja yaitu Bapak Jansen Sinamo, saya ingin mengupasnya satu persatu.

ETOS KERJA 1 : Kerja adalah Rahmat

Aku bekerja tulus penuh syukur

Pendiri Matsushita Electric Industrial menyatakan jika kita selalu baik dan menjadi rahmat untuk sesama, maka kebaikan dan rahmat akan selalu bersama kita.

Yang perlu kita pahami juga definisi rahmat yaitu kebaikan yang kita terima tanpa syarat. Tuhan disebut sebagai Maha Rahmat karena Tuhan memberikan segala hal tanpa syarat bagi kita dari cuaca yang baik, udara yang segar, pemandangan yang indah bahkan rejeki jika didoakan.

Jika kesadaran dan penghayatan kita akan rahmat cukup tinggi maka kita menjadi insan rahmatan yaitu orang yang mampu :

  • Bekerja dengan tulus dalam kerendahan hati, tidak pamrih, tidak iri pada rejeki orang lain, tidak arogan
  • Bersyukur atas apapun yang diterima dan dialami. Tidak punya kebiasaan mengeluh atau bersungut-sungut dan tidak merengek serta tidak mau menuntut apa yang tidak patut.
  • Tidak bersikap aji mumpung, tidak kikir, tidak sinis, tidak apatis dan tidak egois.
  • Memiliki mental berkelimpahan sehingga mampu memberi dengan murah hati, rela menolong sampai tuntas, menyumbang dengan sukacita, mengabdi dan berkorban dalam iman dan pengharapan.
  • Berjiwa besar, sanggup mengalah, bersikap legowo.
  • Sabar, pemaaf, dan tidak memelihara dendam atau memupuk sakit hati.
  • Berwatak baik, tidak pernah berniat jahat dan tidak merencanakan keburukan bagi orang lain.
  • Percaya diri karena iman pada penyelenggaraan ilahi, tidak kuatir, tidak bimbang dan tidak gelisah akan masa depan.
  • Tidak takut kekurangan, bahkan sebaliknya mampu bersikap sederhana, mencukupkan diri dengan apa yang ada, namun selalu berpengharapan bahkan berjuang untuk kondisi yang lebih baik.
  • Bermental optimis, berpikir positif, self-starter, resourceful, terampil memotivasi diri sendiri dan memberi semangat orang lain.
  • Berkata-kata baik, apresiatif dan konstruktif. Tidak mau menjelekkan atau melecehkan karya dan pribadi orang lain, kecuali orang tersebut sudah berbahaya. Tidak berlebihan terhadap kritik dan tidak menjadi sombong saat menerima pujian.
  • Tidak tunduk pada naluri biologis tetapi dipimpin oleh martabat dan harga diri yang mulia. Tidak tunduk pada rangsangan-rangsangan rendah tetapi berperilaku berdasarkan prinsip-prinsip moral yang tinggi. Tidak rekatif melainkan proaktif.  Tidak bersikap negatif melainkan bersikap positif.

ETOS KERJA 2 : Kerja adalah amanah

Aku bekerja penuh dengan tanggung jawab.

Baharudin Lopa, mantan Jaksa Agung Republik Indonesia dan mantan Menteri Kehakiman Republik Indonesia menyatakan biarpun langit runtuh, hukum harus ditegakkan!

Seorang anggota legislatif jika menggunakan kekuasaan untuk menginjak kaki eksekutif (menteri maupun kepala daerah/kepala negara) demi uang, maka sang legislatif sudah berkhianat kepada rakyat yang memberi amanah.

Untuk menumbuhkan etos amanah, diperlukan refleksi batin yang diawali dengan pengalaman berhadapan dengan kenyataan buruk di lapangan dan di hadapan dengan dasar tuntutan moral yang benar sehingga melahirkan moment of truth.

Dari etos amanah ini melahirkan rasa tanggung jawab dalam tubuh kita sebagai berikut :

  1. Manusia harus disadarkan bahwa dirinya adalah makhluk moral yaitu insan yang berbudi luhur dan bermartabat tinggi.
  2. Budi luhur dan martabat tinggi mewajibkan kita untuk dengan sendirinya berperilaku sesuai dengan hakikat budi dan martabat itu sendiri.
  3. Pekerjaan adalah suatu tata relasi yang di dalamnya terjadi kegiatan saling memberi dan menerima secara fungsional.
  4. Oleh karena hakikat budi dan martabat manusia di atas maka pekerjaan maupun setiap peristiwa kerja di dalamnya dengan sendirinya bersifat moral.
  5. Kesadaran moral khusus dalam konteks kerja dirumuskan sebagai amanah.
  6. Dari kesadaran amanah ini lahirlah kewajiban moral yaitu tanggung jawab yang kemudian menumbuhkan keberanian moral dan kehendak kuat untuk :
    1. Melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.
    2. Menggunakan bahan, informasi, metoda dan prosedur yang benar.
    3. Mencapai tujuan kerja itu sendiri sesuai visi yang ditetapkan.
    4. Bekerja sesuai dengan job description dan mencapai target kerja yang ditetapkan.
    5. Tidak menyalahgunakan fasilitas organisasi.
    6. Tidak membuat dan mendistribusikan laporan fiktif.
    7. Tidak menggunakan jam kerja untuk kepentingan pribadi.
    8. Mematuhi semua aturan dan peraturan organisasi.

ETOS KERJA 3 : Kerja adalah panggilan

Aku bekerja tuntas penuh integritas

“Saya ingin memberikan diri saya menjadi corong pada korban praktek penyalahgunaan dan penyelewengan hak asasi manusia!” dinyatakan oleh Mary Robinson, Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Masyarakat dan negara yang sehat menginginkan bersih dari virus korupsi, hama kolusi, bakteri nepotisme, baksil kebohongan, bibit kejahatan, kolera penipuan dan kanker manipulasi.

Setiap organisasi yang sehat membutuhkan pemimpin, aparat dan pejabat yang bersih baik hati, pikiran dan perilakunya agar memiliki kredibilitas untuk menyelenggarakan kekuasaan organisasi pada setiap eselon birokrasi. Nakalnya, ada oknum yang berkata “Manusia bukan dicipta untuk menjadi malaikat!” atau ada juga yang mengatakan “Kalau tidak ada korupsi, gak rame!” Di sinilah diperlukan sikap dewasa daripada sikap kekanak-kanakkan.

Menunaikan kerja sebagai panggilan yang harus dilakoni sampai tuntas dan secara internal akan membangun karakter integritas dalam diri kita. Dengan menunaikan pekerjaan berarti kita telah bersikap jujur pada diri kita sendiri dengan segenap hati, pikiran dan tenaga. Keutuhan semua ini yakni pengakuan mulut, perasaan, pikiran dan tenaga kita, pada hakikatnya itulah yang disebut integritas.

ETOS KERJA 4 : Kerja adalah aktualisasi

Aku bekerja keras penuh semangat

Pepatah Moor mengatakan “Bekerjalah maka kamu akan kuat; berpangku tanganlah maka kamu akan membusuk.”

Kerja keras tanpa arah, tanpa skenario akhirnya menghamburkan energi yang selanjutnya melemahkan etos kerja keras kita. Jadi, target harus dipatok sehingga pengerahan energi sukses menjadi terfokus bagaikan sinar laser.

Bekerja keras penuh semangat yaitu mengaktualisasikan diri, sesungguhnya identik dengan mengembangkan potensi diri kita. Kenyataanya, banyak orang bekerja pada jalur yang salah. Dengan alasan gaji kecil, maka nampak orang berpindah-pindah kerja, akibatnya kejenuhan dan kebosanan serta menjadi orang lemah.

Orang lemah menghadapi berbagai problema hidup, karena orang lemah ini tidak memiliki kekuatan fisik, mental, emosional dan spiritual untuk mengatasinya. Akibatnya orang menjadi mudah sakit, gampang tersinggung, sensitif terhadap gosokan, dan peka terhadap provokasi, sehingga hal-hal kecil pun bisa menjadi hal-hal besar, perkara besar menjadi krisis dan krisis menjadi prahara.

Salah satu resep awet muda adalah bekerja keras penuh semangat.

Kerja keras vs Kecanduan Kerja

Apa bedanya? Pertama, pekerja keras menghayati kerja sebagai ongkos mencapai visi dan tujuan yang berharga dan dalam proses tersebut mereka menikmati kerjanya. Pecandu kerja menenggelamkan diri dalam pekerjaan untuk mendapatkan rasa aman dari ketidakpastian hidup sekaligus sebagai cara menghindari komitmen dan tanggung jawab hidup lainnya.

Kedua, pekerja keras bisa membatasi diri sehingga masih tersedia waktu untuk kegiatan hidup lainnya. Pecandu kerja membiarkan pekerjaan menjadi raja yang menguasai seluruh waktunya sedemikian rupa sehingga komitmen yang wajar terhadap anak, keluarga dan bidang lain selalu kalah.

Ketiga, pekerja keras sanggup menghentikan kerja pada waktu yang dibutuhkan. Sementara pecandu kerja tidak bisa hidup tanpa bekerja. Bahkan saat pecandu kerja sedang beristirahat bersama keluarga atau di tempat ibadah, pikirannya masih dipenuhi dengan hal-hal kerja.

ETOS KERJA 5 : Kerja adalah ibadah

Aku bekerja penuh kecintaan

Motto ordo Benedictine yaitu Ora et Labora (Bekerja dan Berdoa)

Bekerja yang dihayati sebagai ibadah, bakti, dan pengabdian kepada Tuhan. Pada dasarnya kita dapat menunjukkan dengan memberikan diri, membagikan pengetahuan, memberikan waktu, harta dan hati kita kepada masyarakat.

Hal ini tidak terjadi secara otomatis. Kepada benih ajaib yaitu manusia, Tuhan menganugerahkan pilihan bebas, free option yaitu benih untuk bertumbuh atau benih tidak bertumbuh. Benih dapat tumbuh berlawanan dengan rancangan Tuhan, sehingga menghasilkan manusia-manusia berjiwa kerdil, miskin mentalitas, mini integritas dan kurus moralitas.

Pada intinya, kita hidup, berkeluarga dan bekerja untuk tujuan Ilahi. Konsekuensi logisnya, melalui pekerjaan kehendak Tuhan kita wujudkan yaitu bertumbuh dan berkembang menjadi manusia berkualitas kepribadiannya, karakter dan mentalnya berkembang ke arah Ilahi.

ETOS KERJA 6 : Kerja adalah seni

Aku bekerja cerdas penuh kreatifitas

“Apabila roh itu tidak bekerjasama dengan tangan ini, maka tidak ada kesenian.” Ucapan Leonardo da Vinci untuk lukisan Monalisanya.

Sumber-sumber gairah kerja yaitu ketika negosiator menggolkan sebuah deal, ketika petani panen, ketika pegawai gajian, ketika wirausaha menekan kontrak kerja. Tetapi mengapa orang menjadi hilang semangat kerja?, karena ada sebagian orang yang menganggap bahwa bekerja adalah beban. Tuan-tuan besar tidak sudi bekerja keras karena berkeringat dianggap kasar, rendah dan hina, sedangkan menjadi tuan dianggap kelas tinggi, mulia dan bersenang-senang.

Bagaimana menemukan semangat kerja? Membaca buku-buku inspiratif, memonton acara yang memberikan motivasi yang baik atau mendengarkan ceramah atau khotbah yang bermutu dapat membangkitkan optimisme, sukacita dan antusiasme.

Seperti filsuf Jerman Johann Wolfgang von Goethe mengatakan “Bukan mengerjakan apa yang kita suka, melainkan apa yang harus kita kerjakan yang membuat kita bahagia.”

ETOS KERJA 7 : Kerja adalah kehormatan

Aku bekerja tekun penuh keunggulan

Booker T Washington, mantan budak dan tokoh masyarakat kulit hitam (Negro) mengatakan semua pekerjaan yang dilakukan dengan tulus adalah pekerjaan yang terhormat.

Kehormatan memiliki sejumlah dimensi yang sangat kaya yaitu :

Pertama, secara okupasional, pemberi kerja menghormati kemampuan kita dengan memilih kita sebagai yang layak memangku jabatan atau melaksanakan tugas.

Kedua, kita mampu bekerja dengan menghasilkan prestasi-prestasi yang baik.

Ketiga, kita berubah dari insan non produktif menjadi insan produktif-kontributif artinya kita tidak perlu mengemis lagi  atau menjadi parasit orang lain. Kita tetap produktif walaupun menghadapi rintangan.

Keempat, secara finansial, mandiri secara ekonomis dan bertanggung jawab dalam menghidupi keluarga inti bahkan bersedia menjadi donatur lembaga sosial.

Kelima, kehormatan berarti kemampuan menjaga perilaku etis dan menjauhi perilaku nista.

Keenam, secara pribadi, kehormatan adalah keterpercayaan (trustworthiness) yang lahir dari bersatunya kata dan perbuatan.

Ketujuh, secara profesional, kehormatan berarti prestasi unggul (superior performance).

ETOS KERJA 8 : Kerja adalah pelayanan

Aku bekerja sempurna penuh kerendahan hati

Albert Schweitzer, tokoh filsafat Jerman mengatakan “Yang akan merasakan kebahagiaan sejati dari antaramu hanyalah dia yang telah berusaha, dan menemukan, bagaimana melayani.”

Apapun pekerjaan kita sesungguhnya kerja adalah untuk melayani. Orang yang bekerja untuk diri sendiri adalah normal. Namun orang yang melalui pekerjaannya mengabdi kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya, apakah masyarakat, negara, komunitas, lingkungan hidup, nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan merupakan hal yang mulia.

Pelayanan adalah kemuliaan sebagai manusia ciptaan Tuhan :

  1. Melalui pekerjaan sesungguhnya kita memuliakan Tuhan, bangsa, organisasi, perusahaan dan keluarga kita.
  2. Secara biologis, manusia itu mulia yaitu yang paling unggul dari ratusan juta bibit biologis orangtuanya.
  3. Secara spiritual, manusia adalah makhluk mulia dalam tata penciptaannya.
  4. Cara umum untuk memperoleh kemuliaan ialah dengan melayani sebaik-baiknya untuk khalayak seluas-luasnya.

Demikian, semoga etos kerja dapat berkembang di Indonesia, khususnya dapat dimulai dari lingkungan kecil kita. Tuhan memberkati!

*tulisan merupakan hasil seminar Etos Kerja karya Jansen Sinamo

Oleh: Ir.Debbie Caroline/ Lingk.15

 


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*