Peran Kaum Wanita Dalam Karya Kerasulan dan Pastoral Gereja.

2014051506395481786Pada bulan April ini, kita akan mengenang kembali sosok Ibu Kartini, seorang pejuang yang membela hak dan derajat kaum wanita. Berkat perannya, kaum wanita boleh tampil dalam berbagai bidang kehidupan yang sebelumnya dikuasai oleh kaum laki-laki. Oleh karenanya, kita turut berbangga dengan lahirnya tokoh-tokoh wanita di bidang politik, pendidikan, hukum, dan sebagainya. Tidak hanya di kancah keduniawian, kita juga boleh berbangga dengan kaum wanita yang sungguh punya peran dalam dunia keagamaan. Banyak kita temui para wanita yang begitu aktif dalam karya kerasulan dan pastoral Gereja. Dan peran mereka sungguh telah membawa warta keselamatan Allah menjadi semakin bermakna.

Kalau kita mencermati tentang karya keselamatan Allah, tampak bahwa karya keselamatan itu harus diawali melalui rahim seorang wanita. Itu berarti, harus ada wanita yang dipanggil dan dipilih untuk karya agung dan mulia itu.  Tentu saja, wanita yang terpilih itu memenuhi kriteria di mata Tuhan. Dia harus menjadi wanita tercantik secara lahir dan batin. Maka terpilihlah Bunda Maria. Ia adalah wanita satu-satunya yang bergelar mulia surgawi, Bunda Allah, dan Bunda Sang Penebus. Selain bergelar mulia, Bunda Maria juga secara langsung ataupun tidak langsung menjadi murid Yesus dan anggota Gereja yang pertama. Peran dan jasa Bunda Maria begitu besar, sejak awal kedatangan dan kelangsungan hidup serta karya Yesus sampai terbentuknya Gereja perdana. Gereja pun memberi gelar kepada Bunda Maria sebagai Bunda Gereja.

Memang sangat beralasan, Bunda Maria patut dipuji dan dikagumi. Kecantikan dan keunggulan spiritualnya membuat dia memiliki gelar yang bermartabat dan terhormat. Dia setia mengikuti hidup Yesus dan penderitaan-Nya sampai di bawah kaki salib. Dia menjadi Bunda Yesus,  Ratu para Imam, dan Bunda orang-orang beriman. Dan akhirnya, segala keturunan Abraham menyebut dia ‘berbahagia’…!

Di atas segala keunggulan hidup Bunda Maria ini, banyak wanita dari segala zaman mengaguminya, bahkan tidak sedikit pula yang menjadikan Bunda Maria sebagai icon, simbol, gaya hidup dan keteladanan wanita di bumi serta di surga.

Di kalangan Gereja, banyak wanita justru terus belajar meneladani pola dan gaya hidup Bunda Maria dalam kehidupan menggereja. Fakta ini dapat dijumpai pada semua Paroki. Ada yang terlibat sebagai aktivis Gereja paroki dan anggota organisasi Gerejani, seperti Legio Maria, WKRI, kelompok putri altar dan sakristi, kelompok wanita bijak, kelompok persekutuan doa, dan lain sebagainya.

Rupanya, wanita penuh pesona seperti Bunda Maria membuat banyak wanita dalam Gereja terinspirasi untuk  mendedikasikan hidupnya secara berlebih pada karya kerasulan dan pastoral Gereja. Ada  yang menjadi anggota suatu konggregasi misi,  ada yang secara pribadi memilih tidak menikah  hanya karena mau mengabdi total untuk karya pastoral Gereja, bahkan ada yang dengan pola hidup sederhana tetapi tidak kalah dedikasinya, biarpun hanya dengan menjadi pembantu dan pelayan setia di rumah pastoran paroki. Mereka mengurus dan mengatur kebutuhan pastor dalam berpastoral. Sungguh, sebuah pengabdian yang luar biasa…!

Seandainya Gereja tanpa kaum wanita adalah sebuah Gereja yang tak bisa terbayangkan. Mungkin hanya menjadi sebuah Gereja yang selalu sepi  dari kehadiran  dan keterlibatan kebanyakan wanita. Tetapi, Tuhan memang tidak keliru mengawali karya keselamatan-Nya dan menghidupkan Gereja-Nya melalui rahim seorang wanita penuh pesona dari Nazareth di Galilea. Karena itu, hingga kini Gereja tidak pernah sepi dari kehadiran dan keterlibatan wanita dalam berpastoral di paroki-paroki, dan di suatu Keuskupan.

Lantaran terkagum pada sosok wanita-wanita seperti ini, seorang pastor di sebuah paroki sempat berkomentar demikian, ” Seandainya tidak ada surga, ke manakah pengorbanan wanita-wanita ini dipertaruhkan…?

Pertanyaan pastor ini terkesan sepele, tetapi sesungguhnya dia terdesak oleh rasa kagum yang hampir tak terkatakan. Apa yang mereka cari? Seberapa banyak upah yang mereka peroleh di paroki? Ada kesan, upah mereka adalah bekerja tanpa upah. Rupanya, mereka mengharapkan upahnya yang besar di surga…!

Yang jelas, hanya ada satu jawaban. Hanya dengan iman, mereka telah belajar total gaya hidup Bunda Maria dan implementasinya dalam pilihan hidup dengan pelayanan total kepada Tuhan dan Gereja-Nya. Iman mereka adalah bukti dari segala sesuatu yang mereka tidak lihat,  sekaligus bukti dari segala pengorbanan yang mereka pertaruhkan, dan Tuhan sudah menyiapkan upah dan tempat bagi mereka…!

Oleh: Pst. Maman Suharman, OSC

 


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*