Hanya Terang yang Mampu Mengusir Kegelapan

Yesus-dengan-orang-Farisi-dan-Taurat(SJB No. 12/21-22 Maret 2015) Diceritakan bahwa para Ahli Kitab, golongan Farisi, dan kaum terdidik di jaman-Nya (Lk. 11:14-23) menolak dan memusuhi Yesus. Mereka tak mau mengakui-Nya sebagai tanda dari Allah. Lebih dari itu, ketika Yesus menyembuhkan orang bisu, mereka menuduh Yesus dengan bersekongkol dengan roh jahat, dengan kepalanya, Beelsebub.

Mengapa mereka menolak Yesus? Karena cara mereka menghayati agama berbeda dari Yesus. Bagi mereka, agama adalah untuk pamer dan kepura-puraan saja. Kesalehna mereka: puasa, doa, dan amal baik, mereka lakukan dengan rajin dan cermat. Tapi sayang, mereka melakukannya semata dengan maksud agar dipuji orang. Sedangkan bagi Yesus, agama adalah hati yang baik, belaskasih,  dan perjuangan keadilan. Maka Ia gampang menolong orang menebarkan apa yang baik. Orang- orang yang ditolong itu bersyukur dan kagum atas perbuatan baik Yesus, mereka merasakan dan mengakui bahwa Ia tanda dari Allah di dunia.

Nah, sebagai kaum terpandang dan pemuka masyarakat, menyaksikan bahwa rakyat banyak berpihak kepada Yesus, membuat mereka itu tersinggung, merasa mendapat saingan, irihati, hal yang menambah kebencian mereka kepada Yesus, sehingga mereka menolak-Nya.

Ada pelajaran lain yang dapat jadi bahan renungan kita: roh yang jahat, hanya dapat diusir oleh roh yang baik, kegelapan hanya dapat diusir oleh terang.  Demikian juga manusia, kalau roh jahat ada dalam dirinya, itu hanya dapat diusir oleh roh yang baik; dan setelah dibersihkan dari yang jahat, dari sampah kesalahan dan dosa, iiwanya tidak boleh tetap kosong, melainkan agar jadi tempat tinggal roh yang lebih berkuasa, yang kudus Allah. Hanya Roh Yesus, yang baik dan berkuasa dari Allah,yang tangguh menjaga manusia dari kuasa jahat.

Tuhan, lindungi kami agar kuat menepis setiap godaan jahat; jangan kami menjadi seperti rumah bersih tapi kosong, melainkan diisi oleh Roh yang baik dari Allah. Tanamkan keinginan akan kehadiran Terang Roh-Mu yang Kudus dalam diriku, agar Ia meluruskan cara kami menghayati agama: bukan untuk pamer dan kepura-puraan, melainkan untuk menghadirkan kebaikan, kebaikan, cintakasih. Jadikan kami saleh, tapi buatlah kesalehan kami terungkap lebih-lebih dalam mengusahakan kebaikan keadaan di sekitar kami, solider dengan orang yang dirundung susah (Bdk Yes 58: 6 Puasa yang dikehendaki Tuhan).

Oleh: Pst. Thomas Maman Suharman, OSC


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*