MEMPERINGATI PERISTIWA BANDUNG LAUTAN API

monument-bandung-lautan-apiDisayangkan kalau sumber cerita tentang peristiwa dan perilaku kepahlawanan tidak terang, apalagi kalau hasil rekaan saja. Idealnya, peristiwa sejarah itu sungguh bersumber pada fakta yang mendekati kebenaran. Sehingga kalau toh peristiwa itu diperingati dan dijadikan pelajaran serta teladan, peringatannya itu dilakukan dengan sewajarnya, tidak dikurangi ataupun tidak dilebih-lebihkan juga.  Di lain pihak, sejarah yang kurang dapat dipercaya, dapat menjadi tantangan bagi generasi muda untuk mengadakan penelitian lebih lanjut, agar didapat fakta yang lebih lengkap, dan kebenarannya disingkap. Demikian itu perlu dikatakan sehubungan dengan peristiwa Bandung Lautan Api, 24 Maret 1946.

Informasi tentang fakta kepahlawan Mohammad Toha, yang sudah dihimpun oleh orang yang berwenang dalam bidang penulisan sejarah, tidak terang, sehingga Toha tidak memadai untuk diakui sebagai pahlawan nasional.  Demikian itu dikatakan oleh Nina Herlina Lubis, Ketua Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia cabang Jawa Barat: “Riwayatnya tidak jelas,” katanya.

Walau demikian, kendati segala kontroversi tentang riwayatnya, Pemerintah, lewat Dirjen Pemberdayaan Sosial, sudah memberikan penghormatan dan penghargaan berupa Bintang Mahaputra Pratama (Surat dari Kementrian Sosial 29 Oktober 2007) kepada Mohammad Toha atas jasa-jasanya. Penghargaan demikian itu dalam penilaian mereka sudah memadai untuk pengorbanan Mohammad Toha. Pemberian penghargaan dari Pemerintah, menjadi bukti pengakuan akan kepahlawannya, sesuai dengan tingkat pengurbanannya.

Seberapa besar tingkat penghargaan Bintang Mahaputra yang telah dianugerahkan Pemerintah demikian itu? Adalah di tingkat ke-2 setelah Bintang Republik Indonesia. Tetapi Bintang Mahaputra juga dibagi lagi menjadi 5 Golongan.  Manakah yang diterima Mohammad Toha. Ia menerima Bintang Mahaputra yang ke-4, yakni Pratama. Itulah pengakuan dan penghargaan yang sudah tinggi, setara dengan jasanya.

Kita sekarang, yang memperingati peristiwa Bandung Lautan Api, 24 Maret 1946, di mana Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan terlibat, ikut bersyukur atas jasa warga Bandung umumnya yang pada waktu itu telah berjuang demi bangsanya, membumi-hanguskan rumah dan bangunan, seluas dari tengah kota Bandung sampai Dayeuhkolot, dari Ujungberung sampai Cimahi, sehingga Bandung waktu itu menjadi merah oleh kobaan api. Kita ingat bahwa, karena sumbangsih jasa mereka, kita, generasi sekarang, boleh ikut menerima berkahnya. Dan lebih penting lagi, kalau peringatan, penghormatan dan penghargaan, serta syukur itu menuntun sikap diri kita sendiri untuk berperilaku sama dengan mereka.

Salah satu gambaran sifat yang menyertai kepahlawan Mohammad Toha, yang terus diceritakan berulang ialah  bahwa ia itu seorang yang “cerdas, patuh pada orang tua, memiliki disiplin tinggi dan berhubungan baik dengan rekan-rekannya.” Demikian dituturkan oleh paman Mohammad Toha, Ben Alamsyah, beberapa kerabat, serta Komandannya di BBRI. Kiranya sifat itulah yang mendorongnya untuk berani mempertaruhkan diri – melemparkan bom ke gudang persenjataan di Dayeuhkolot, yang digunakan musuh, sehingga ia sendiri, dan sejawatnya, ikut gugur.

Pahlawan adalah dia yang telah melampaui kepentingan dirinya demi kebaikan orang lain. Demikian kata sejarawan Anhar Gonggong. Dan Mohammad Toha telah berusaha melaksanakan itu. Lebih tepatnya ia kooperatif, melaksanakan tugas mempertahankan diri dari kekuatan asing, tepatnya tentara sekutu, yang dibonceng oleh NICA,  yang bermaksud merebut kembali Indonesia, tetapi tentu saja ditentang oleh bangsa kita, yang mempertahankannya meski sampai harus berkalang tanah. Kita syukuri dan hormati mereka yang telah hidup dan berjuang, memberikan dirinya, sampai melupakan diri, demi kehidupan bangsanya.

Oleh: Pst. Maman Suharman, OSC

Sumber Bacaan terbatas:

  1. 1.      Mohammad Toha, www.republika.co.id › Nasional › Jawa Barat.
  2. 2.      Mengenang Bandung Lautan Api. sejarah.kompasiana.com/…/mohammad-toha-pahlawa…
  3. 3.      Bintang Mahaputra. www.setneg.go.id/images/…/bintang_mahaputra.pdf

 


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*