Sekilas Pandang tentang Pastor Sangker Sihotang, OSC

1461531_10203247652783058_7759906155518706617_nSaya lahir tertanggal 15 agustus 1973 (aslinya lahir tahun 1974) menurut Akte Kelahiran di sebuah desa terpencil bernama Tumba Jae, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Nama lengkap saya adalah Sangker Efendy Louis Sihotang. Saya anak ke dua dari lima bersaudara. Tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan.

Sejak kelas 6 SD, saya mulai ikut-ikutan dalam kelompok pelayan Altar di Paroki St Mikael  Tumba Jae. Dalam perjalanan sebagai Putera Altar, timbullah keinginan untuk menjadi seorang imam. Kalau Guru di sekolah menanyakan “apa cita-cita mu?”, saya selalu menjawab ‘menjadi Pastor atau menjadi Tentara’. Keinginan menjadi imam jauh lebih besar dari pada menjadi tentara. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kekaguman saya pada Pastor Paroki waktu itu. Dia seorang berkebangsaan Jerman bernama Johannes Bergman, Ofm cap. Pastor ini berperawakan tinggi, besar, dan tegap. Beliau sangat ramah, pintar bernyanyi dan jago memainkan alat musik terompet dan organ.

Setiap sore diadakan ibadat sore yang disebut dengan VESPER di Paroki. Anak-anak dan remaja sangat antusias mengikuti ibadat ini. Mengapa? Selain karena tertarik dengan Ibadat yang ‘ramai’, juga tertarik untuk melihat dan mendengarkan sang Pastor memainkan terompet dan organ. Sungguh suatu hiburan yang menyenangkan. Apalagi hiburan di kampung terpencil sangat minim.

Keinginan untuk menjadi imam semakin kuat karena melihat para seminaris dari Seminari Menengah Pematang Siantar yang setiap tahun mengunjungi paroki. Secara tidak langsung para seminaris ini mencoba untuk menumbuhkan minat panggilan lewat kegiatan seni: drama, nyanyian, dan tarian. Kedatangan para seminaris disambut dengan antusias, tidak kalah dengan antusiasme menyambut SUJU oleh orang-orang muda sekarang.

Setelah lulus dari SMP St. Yohanes, Tumba Jae. Saya melanjutkan pendidikan ke Seminari Menengah CHRISTUS SACERDOS, Pematang Siantar. Tahun 1993 saya lulus dari Seminari Menengah, kemudian masuk Novisiat OSC di Cisarua Cimahi. Mengapa memilih OSC? Abang saya yang sekolah di SMA St. Fransiskus, Sibolga memberitahu bahwa teman sekelasnya yang bernama Donatus Manalu (Pst. Donatus Manalu, OSC) masuk OSC. Saya mencoba mencari tahu apa itu OSC. Kesan pertama langsung menggoda melihat jubah yang unik dan menarik. Jubah OSC ini sangat berbeda dengan jubah imam yang saya kenal sebelumnya seperti yang dipakai oleh imam-imam fransiskan dan imam-imam diosesan.

Saya bersyukur diterima di novisiat OSC, boleh merasakan hidup berkomunitas dan persaudaraan yang hangat, khususnya dengan teman-teman seangkatan. Hidup bersama dengan orang-orang yang berlatang belakang suku, asal, dan budaya yang berbeda itu rupanya menarik. Penceburan diri ini tidak selalu berjalan dengan baik, tetapi perjalanan waktu membuat saya bisa lebih menerima dan menghargai perbedaan. Saya merasa, teman-teman se-ordo juga mengalami pergulatan yang sama dalam memperlakukan saya sebagai saudara. Hal ini adalah proses pendewasaan yang harus dihadapi, bukan dihindari.

Bulan Juli tahun 2000, setelah menyelesaikan pendidikan Filsafat dan Teologi di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, saya ditempatkan di Paroki St. Yosef Tebingtinggi, Keuskupan Agung Medan untuk menjalani tahun Pastoral sekaligus persiapan menerima Tahbisan Imamat.

Saya hidup berkomunitas dengan para imam Fransiskan Kapusin. Para imam Kapusin ini dengan penuh kesabaran dan kehangatan persaudaraan menerima saya sebagai saudara dan menguatkan motivasi saya untuk menerima Sakramen Imamat. Tanggal 9 Februari 2002 saya ditahbiskan menjadi imam di Tebingtinggi.

Selama 4,5 tahun saya berpastoral di Paroki St. Yosef Tebingtinggi.  Saya bersyukur boleh berkarya diantara umat yang 95 % orang Batak. Saya boleh belajar banyak lagi soal bahasa Ibu saya dan adat istiadatnya. Disamping itu, saya semakin mengenal karakter suku saya dengan segala ragamnya. Mengenali suku sendiri, rupanya sangat membantu juga untuk lebih mengenali dan memahami diri sendiri dan orang lain.

Setelah pindah dari Tebingtinggi awal tahun 2005, saya kerap mengalami mutasi. Mulai di Seminari Menengah Cadas Hikmat, Paroki St. Odilia-Cicadas, Paroki St. Ignatius – Cimahi, Paroki St. Laurensius – Serpong dan saat ini ditempatkan di paroki St. Laurentius – Bandung ini.

Semoga kehadiran saya di paroki ini bermanfaat bagi peziarahan iman umat, menjadi teman seperjalanan umat dan konfrater osc dalam hidup menggereja dan berkomunitas

Oleh: Pst. Sangker Sihotang, OSC

 


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*