Jadi teladan! Siap?

Maurinho

Banyak orang mendambakan ketenaran, tapi seringkali tak mau menanggung resikonya. Baik resiko setelah menjadi tenar, maupun jalan terjal yang harus dilalui untuk mencapainya. Satu hal yang paling ‘mengerikan’ jika seseorang ingin menjadi tenar adalah ‘menjadi teladan’. Dia  akan berada di puncak gunung sendirian, dan orang-orang di bawah gunung bisa melihatnya dengan jelas. Sebaliknya, karena terhalangi ketinggian dan awan, seseorang  bisa jadi tak mampu melihat masalah dengan jernih. Meski seolah lebih jelas karena mencakup segalanya dari atas, tapi pemandangannya akan tampak ‘kecil-kecil’ dan tak mendetail.  Dia tidak akan mampu melihat pemandangan  kecil indah yang ada  terjadi di bawah Gunung. Sama halnya jika seseorang menjadi tenar, dia tidak akan mampu melihat setiap peristiwa yang ada. Hala-hal kecil akan terbaikan bahkan tidak kelihatan sama sekali. Yang menjadi fokus adalah hal besar yang menyangkut banyak orang.

Hal lain lagi, seorang teladan akan menjadikan dirinya ‘sasaran tembak’. Seperti  yang dilakukan oleh Jose Mourinho (seorang pelatih sepak bola di Eropa). Ia sengaja bersikap menyebalkan agar pers menjadikan dirinya musuh. Dengan begitu, para pemainnya yang sebenarnya juga bintang lebih bisa berkonsentrasi berlatih dan bermain. Mourinho juga mengambil alih tanggung-jawab para pemainnya di lapangan. Ia bersikap seperti komandan  pasukan militer di medan peperangan, “tak ada prajurit salah, hanya ada komandan yang salah memberi perintah”. Maka, benar-salah pemainnya di lapangan, ia akan membelanya habis-habisan. Karena hal inilah ia begitu dicintai pemain dan para stafnya. Terbukti, sederet prestasi berhasil diraihnya. Mourinho masih beruntung, Selain mendapatkan gaji luar biasa -ia pelatih sepakbola termahal di planet ini- ia juga didukung manajemen secara penuh. Ibaratnya, apa pun permintaannya pasti dipenuhi. Wajar bila mengingat tanggung-jawabnya.

Dipaksa menjadi teladan, berada di puncak gunung, tapi benar-benar sendirian. Cuma jadi ‘sasaran tembak’ belaka, tapi tanpa dibekali senjata dan amunisi memadai. Rasanya jauh dari ketikaa Anda pernah gugup saat bicara di depan umum, tentu akan tahu rasanya. Nah, beban menjadi teladan ini berjuta-juta kali lebih berat.

Karena itu, siapkan diri senantiasa. Anda tak tahu kapan kesempatan itu akan datang. Menjadi teladan sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil, dari diri sendiri dan saat ini juga. Misalnya mengubah kebiasaan buruk. Contoh paling sederhana adalah ‘jam karet’. Lebih baik bilang tak bisa datang daripada menjanjikan datang tapi terlambat dan membuat orang lain menunggu ‘harap-harap cemas’. Itu salah satu teladan dari beberapa orang hebat dengan jadwal ketat yang saya kenal dekat. (HP).


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*