Satu Jam Bersama Vikaris Jenderal

Rm. Didik (Fotografer: Tim SUMMA)

“Mati,” ujar Rm. Paulus Wirasmohadi Soerjo saat dimintai pendapat seputar usia 80. “ 80 tahun secara fisik artinya semakin lemah,” lanjut beliau. “Tapi bagi gereja 80 tahun harus semakin kuat. Langkah semakin cepat, semakin kuat. Karena gerak beberapa tahun menuju 80 tahun terasa, saat kita mulai mengusahakan sesuatu itu mudah. Perkembangan Keuskupan Bandung sendiri bagi saya sangat menggembirakan. Semua ada suka duka, tapi sukanya lebih banyak dibanding dukanya.” Demikian tutur Romo yang akrab disapa Rm. Didiek ini, saat kami mewawacarai beliau di Green House pada Jumat, 4 Mei lalu.

Bandung, Parokilaurentisbdg.org – Geliat Keuskupan Bandung menuju Manajemen Pastoral yang lebih baik kian terasa. Sedikit demi sedikit Fokus Pastoral yang dirumuskan pada Musyawarah Pastoral (Muspas) Oktober 2009 lalu mulai menunjukkan hasilnya. Ini merupakan salah satu contoh nyata betapa cepat langkah perubahan yang telah dilakukan oleh Keuskupan Bandung selama 80 tahun karya Pastoralnya di tatar Sunda ini. Masa yang tidak sebentar ini pun telah memperlihatkan betapa telah berkembang Keuskupan Bandung.

Romo yang sebelum menjabat sebagai Vikaris Jenderal ini sempat menjabat sebagai Rektor Seminari Tinggi Fermentum selama 3, 5 tahun tersebut melihat perkembangan Keuskupan Bandung bukan dari jumlah, tetapi lebih pada soal kehidupan. Beliau melihat berkembangnya keinginan untuk tumbuh dan berusaha bersama-sama. “Saya hampir 4 tahun menjabat sebagai Vikaris Jenderal, jadi saya membandingkan beberapa hal dengan sebelumnya, tidak secara langsung, tapi dari cerita umat awam. Mulai dari Muspas 2009, umat bercerita bahwa Muspas tersebut dibanding pada Muspas tahun 2004 berbeda. Karena pada Muspas 2009 tersebut yang dinilai mencolok adalah banyaknya jumlah awam, Suster dan Romo. Pada Muspas 2004, Romo bahkan tidak ada, hanya ada 1 atau 2 dan hanya ikut sepotong sepotong.

Banyak umat baik yang aktif di DKP atau dari paroki yang bercerita seputar hal ini.” Selain itu juga dalam Muspas 2009 tersebut, dapat dilihat betapa besarnya keterlibatan umat. Perumusan Muspas tersebut pun merupakan hasil kerja bareng umat awam dan Romo yang hadir dalam Muspas. Kalau sebelumnya dalam Muspas ada tim sendiri yang merumuskan Muspas, baru kemudian tim tersebut berkeliling ke paroki-paroki, kali ini semua langsung dirumuskan dengan melibatkan umat.

“Hal ini menggembirakan, karena saat kami [Rm. Didiek bersama Bpk. Uskup Johannes Pudjasumarta-red] keliling Paroki di Keuskupan Bandung, Paroki mengatakan bahwa baru 2009 tersebut ada istilah supervisi yang juga baru pertama kali diadakan,” jelas Romo kelahiran Jogja yang pada 28 Juni nanti ini merayakan Hari Jadinya yang ke 47. “Dengan adanya supervisi ini, relasi antar yang bertugas di Kuria Keuskupan dengan Paroki lebih terasa. Sekarang bila bertemu umat tidak terasa asing. Sudah semakin kenal. Saya merasa persaudaraan tumbuh semakin kuat. Termasuk ketika di Paroki ada berita atau perkembangan apa, kami di Kuria pun bisa mengetahui hal tersebut.”

Gerak bersama di Keuskupan Bandung pun semakin terasa sejak Muspas 2009 tersebut, meski Muspas yang diadakan untuk membuat Fokus Pastoral 5 tahunan ini telah diadakan sejak tahun 1999 lalu. Sejak usai Muspas 2009 tersebut, pada Desember 2009 untuk pertama kalinya juga Keuskupan Bandung mengadakan Rapat Kerja. Demikian juga dengan Evaluasi Tengah Tahun yang diadakan pada Juni 2010. “Dari Evaluasi Tengah Tahun tersebut makin terasa apa yang masih bisa diusahakan, apa yang kurang dan masih bisa diusahakan. Kemudian diadakan kembali rapat kerja pada akhir tahun 2010, lalu Evaluasi tengah tahun pada Juni 2011. Sudah mulai rutin terus seperti itu. Manajemen pastoral tersebut membuat pelayanan menjadi lebih mudah. Program Keuskupan Bandung saat ini adalah melaksanakan Fokus Pastoral sebaik mungkin dan bersama-sama, saya yakin akhir 2014 akan ada sesuatu yang berbeda di Keuskupan ini. Secara keseluruan, dari berbagai sisi kehidupan umat, saya optimis ada sesuatu yang berbeda,” ungkap beliau.

Wartawan SUMMA Saat Mewawancarai Rm. Didik (Fotografer: Tim SUMMA)

Saat ditanya seputar cukup tidaknya jumlah Pastor yang melayani di Keuskupan Bandung, Romo yang tugas sehari-harinya ini adalah sebagai wakil dan pelaksana harian bagi tugas-tugas Administrator Apostolik ini mengatakan bahwa beliau melihat jumlah Pastor Keuskupan Bandung dari komposisi di Keuskupan Bandung baik di Paroki maupun di mana-mana sudah bagus. Ini karena di Keuskupan Bandung, 1 pastor ada untuk melayani 1000 umat, sementara bila dibandingkan dengan Keuskupan Jakarta ada sekitar 200 pastor untuk 400.000 umat. “Bandung terhitung lumayan, dengan jumlah pastor sedemikian, hanya kesulitan yang masih belum terpenuhi adalah pelayanan Kategorial. Di paroki sendiri sudah lumayan tapi Kategorial di Keuskupan masih kurang. Maka bila disebut Komisi-komisi, aktivitas antar inter paroki kategorial kelompok-kelompok tersebut masih belum bisa dilayani dengan baik karena jumlahnya masih terbatas. Untuk bisa melayani seluruhnya, sebenarnya diperlukan sekitar 100 pastor di Keuskupan Bandung supaya Komisi Kategorial bisa tertangani. Hal ini dilihat dari sisi komposisi jumlah, karena bila niatnya melayani Kategorial, Komisi yang Pastornya terlibat aktif (artinya hanya menangani tugas Komisi secara penuh) saat ini belum ada. Contohnya adalah Pst. Yulius Hirnawan, OSC yang merupakan Ketua Komisi Liturgi tapi juga bertugas di Paroki St. Laurentius; atau Pst. Istimoer Bayu Aji yang merupakan Ketua Komisi Kitab Suci, tapi juga bertugas di Paroki Martinus.”

Pembandingnya adalah di Keuskupan Agung Semarang, dimana Kategorial ditangani secara penuh oleh Pastor-Pastor. “Itu kesulitan Keuskupan Bandung saat ini, jadi bila mengadakan aktivitas mau digarap penuh, jadi pontang panting. Tapi aktivitas atau gerak umat di Keuskupan Bandung luar biasa, karena keinginan umat untuk terlibat itu besar. Sementara di Keuskupan Agung Semarang sendiri semua praktis diurus oleh Pastor. Terlihat saat kami ber-8 sebagai perwakilan dari Keuskupan Bandung datang ke Keuskupan Agung Semarang, dengan komposisi 2 orang Pastor dan 6 orang awam. Sementara Keuskupan Agung Semarang diwakili oleh 10 orang dengan komposisi 9 orang pastor dan 1 orang awam. Itu bukti bahwa kesadaran umat untuk hidup menggereja itu besar. Menurut saya itu sisi yang bagus juga. Karena gereja itu tumbuh karena peran serta kita semua, khususnya awam. Di mana kesadaran awam untuk menggereja itu kuat, gereja biasanya hidup. Bila tidak, pastornya akan susah payah mati-matian ke sana ke mari, meski parokinya pasti hidup. Banyaknya kegiatan yang diadakan di paroki hanya merupakan salah satu indikasi. Saya bukan secara khusus melihat kegiatannya, tapi begitu umat banyak ikut terlibat, mau ngurusin dan meski variasi kegiatannya terbatas tapi itu sudah merupakan tanda baik. Apalagi bila variasi kegiatan berkaitan dengan kebutuhan Pastoral berkembang, maka menjadi lebih hidup.”

Untuk mengatasi hal ini, Keuskupan Bandung sendiri memiliki program untuk menambah Pastor yang khusus menangani Komisi atau Kategorial tersebut. Keuskupan sendiri memikirkan bila ada Pastor di Komisi, maka Pastor tersebut harus juga ahli di bidang tersebut. Romo yang mengambil studi hukum di Roma pada periode Maret 2005-Juni 2008 tersebut kemudian menjelaskan “Itu harapan keuskupan pelan-pelan, ingin supaya kategorial tersebut supaya nanti di bidang-bidang khusus tersebut ada orang-orang yang betul menguasai hingga bila ada kebutuhan yang berkaitan dengan itu Keuskupan dapat mengusahakan. Karena saat ini kan masih terbatas. Yang kuat itu saat ini adalah kemauan, kemauan baik dari umat (awam maupun pastor) tapi akan lebih bagus bila ada keahlian. Saat ini pelan-pelan, ditingkatkan, nanti ada Pastor yang mesti belajar bidang ini bidang itu. Mumpung saat ini masih belum bisa terpenuhi, nanti disiapkan. Mudah-mudahan setiap tahun nantinya akan ada pastor yang belajar. Sekarang sedang dirintis. Saat ini Pst. Bambang tengah belajar di fakultas Hukum UNPAR yang nantinya tugasnya di Komisi Keadilan dan Perdaiamian yang berkaitan dengan Hukum Sipil. Supaya bila ada persoalan, istilahnya untuk mengatasi hal itu, Pastornya juga bisa mengatasi hal itu.”

Menanggapi Sensus yang diadakan pada tahun 2011, sesuai Fokus Pastoral 2011 yaitu Komunitas Basis, beliau mengungkapkan bahwa tujuan sensus ini sendiri adalah untuk melaksanakan pastoral yang lebih baik. “Data mentah yang diperoleh dari sensus tadi harus dianalisis. Misalnya, berkaitan dengan perkawinan. Dari data perkawiinan itu msialnya yang kawin campur beda gereja atau beda agama itu banyak. Dari data tersebut bisa dicari tahu persoalannya kenapa. Lalu apakah sudah ada perhatian Pastoral untuk orang-orang yang menikah beda agama. Karena dari sisi gereja, dari sisi perkawinan berkaitan dengna Pastoral yang dikenal ada kursus persiapan perkawinan, padahal berkaitan dengan perkawinan Pastoralnya bukan hanya persiapan perkawinan tapi sesudah perkawinan pun ada Pastoralnya. Ada perhatian, selama ini hal itu belum terdata dengan data ini bisa lebih digarap, jadi bila kita mencari khusus orang yang berbeda agama akan mudah, tinggal klik akan bisa ketahuan di paroki nya ada berapa, dan rumahnya di mana, jadi bila ingin mengundang memperhatikan kalau selama ini kalau ada acara undangan disampaikan umum di Gereja jadi yang hadir hanya beberapa orang karena tidak ada sapaan pribadi.”

“Mimpi Keuskupan adalah membuat peta semacam google map,” sambung beliau. “Jadi memudahkan saat mencari satu alamat tertentu. Bisa diketahui keluarga Katolik siapa saja yang ada di area tertentu. Selain itu memudahkan untuk Tugas Pastoral. Misalnya untuk mengunjungi umat yang sakit atau perlu dikunjungi, atau memberi sakramen Pastornya tidak bingung karena sudah ada peta. Tinggal klik, bahkan Pastor yang baru pun sudah langsung tahu. Dan memang yang ditatar adalah Pastoral yang semakin baik. Fokusnya adalah itu. Hal ini tidak akan selesai beberapa tahun ke depan. Mungkin tidak semua Fokus Pastoral sejak januari 2010 sampai desember 2014 beres, tapi beberapa bidang sudah digarap. Nantinya difokuskan di Paroki-paroki. Keuskupan menggerakkan membantu paroki untuk memperhatikan analisis itu tapi yang harus bergerak adalah paroki.” Berhubung untuk melakukan sensus diperlukan waktu yang tidak sebentar, maka untuk sementara sensus akan dilakukan sebatas update data, misalnya bila ada baptisan baru, diinput. Bila ada yang meninggal dihapus. Update lebih pada perubahan data. Dengan cara ini diketahui jumlah pasti sebuah paroki. Saat Keuskupan atau Paroki ingin mengadakan acara pun dapat diketahui dengan data umat yang ada kegiatan apa yang sesuai untuk Paroki tersebut.

Tak terasa, hampir satu jam waktu yang kami lewatkan bersama Romo yang merayakan tahbisan Imamat yang ke 18 pada 9 Februari lalu ini. Di akhir wawancara, beliau berkenan memberikan sedikit ulasan seputar perkembangan Paroki St. Lauretius “Dari sisi perencanaan Pastoral, Laurentius sudah baik. Keterlibatan umat juga baik. Perkembangan yang saya lihat adalah pada apa yang diusahakan. Misalnya dari keterlibatan umat, contoh konkrit ada bidang pelyanan yang terbuka untuk semua, yaitu pelayan yang konkrit yaitu Prodiakon. Prodiakon dalam gereja artinya yang membantu secara sementara yang tidak tetap, disebut awam. Kalau disebut awam berarti terbuka untuk pria dan wanita. Ketika kami supervisi pada 2009, saat Pst. Bogaartz, OSC menanyakan hal ini, saya menjawab bahwa dalam hukum gereja, soal pelayanan ini sebenarnya terbuka. Saat pelayanan itu terbuka, jangan kita tutup. Kemudian Laurentius memberanikan diri untuk melantik Prodiakon wanita. Maka di Kota Bandung yang ada Prodiakon wanita adalah Paroki St. Laurentius. Di luar kota Bandung sendiri, beberapa Paroki sudah mulai mengikuti: Purwakarta, maupun Karawang juga sudah mulai melantik Prodiakon wanita.” (MR)


Copyright Paroki St. Laurentius - Keuskupan Bandung - 2012 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "parokilaurentiusbdg.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Advertisement

Ads Here

No comments.

Leave a Reply

*